JNEWS – Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kelok 23 yang menghubungkan Kretek, Parangtritis, Bantul dengan Girijati, Purwosari, Gunungkidul mulai dibuka untuk uji coba pada 14-20 September 2026. Rute baru sepanjang lima kilometer ini menyuguhkan panorama pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menawan.
Jalurnya eksotik. Berkelak-kelok. Naik turun perbukitan. Bagi siapa saja, terutama penggemar touring, Kelok 23 adalah magnet pariwisata yang memukau di Pulau Jawa.
Uji coba JJLS Kelok 23 selama sepekan ini untuk bahan evaluasi rute baru. Pemerintah melalui Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum memutuskan apakah akan membuka uji coba kembali, atau mengoperasionalkannya secara permanen. Pasalnya di ujung jalan tersebut, Satker JKN masih memiliki paket proyek tambahan untuk pelebaran jalan serta rest area yang diproyeksikan rampung Agustus 2027.
Bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya, uji coba JJLS Kelok 23 ini adalah kesempatan emas. Mereka bisa menjajal langsung dari Parangtritis menuju Girijati. Merasakan mulusnya aspal baru, melihat perbukitan yang dikepras (Baca: dipangkas), dan berhenti untuk sekadar memotret panorama kawasan Pantai Parangtritis. Ini pemandangan mahal.
Kendaraan yang melintas dibatasi hanya motor dan mobil. Untuk armada besar bus dan truk masih dilarang karena proyek pekerjaan belum selesai. Kepolisian juga masih melakukan pengamanan agar uji coba JJLS Kelok 23 berjalan aman dan nyaman. Karenanya, pengendara dilarang berhenti untuk waktu lama. Secukupnya jika ingin membuat konten karena jam operasional juga masih terbatas dari pukul 06.00 sampai 18.00 WIB.
Henry Kuncoro adalah salah satu warga yang antusias menyambut uji coba JJLS Kelok 23. Tepat pada hari pertama uji coba, ia menunggang Vespanya menyusuri jalur tersebut bersama beberapa pengendara lainnya. Ia sengaja memilih sore hari untuk mengejar senja temaram di perbukitan.

“Pemandangannya syahdu. View pantainya cakep sekali,” ujar Henry di Yogyakarta, Selasa (15/9/2026).
Warga Mergangsan Yogyakarta ini optimis JJLS Kelok 23 dapat mendongkrak kunjungan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Konektivitas destinasi wisata Pantai Selatan (Pansela) di Bantul dan Gunungkidul dapat dengan mudah dijangkau, serta mengurangi beban jalur utama melalui Jalan Nasional Wonosari.
Baca juga: Pantai Siung, Surga Tebing Karang yang Memikat di Gunungkidul Yogyakarta
“Apalagi jika nanti tol Purwomartani jalan, turis ke Yogyakarta tambah banyak,” ujarnya.
Beruntung Henry bisa menjajal awal-awal. Hari kedua uji coba, Kelok 23 penuh sesak dijubeli pengendara yang penasaran.
“Yogya memang begitu, orangnya selalu penasaran. Dulu pas ada tanjakan Clongop juga ramai. Jembatan ikonik di Pandansimo juga ramai pas pembukaan oleh Presiden, sampai bikin macet,” ujarnya.
Merawat Keindahan Kelok
Kelok 23 masih akan terus dievaluasi demi keamanan dan kenyamanan untuk mendukung konektivitas JJLS di Wonogiri Jawa Tengah dan Pacitan Jawa Timur. Terdekat, potensi ini bisa digarap dengan datangnya musim libur akhir tahun.
Yogya menjadi salah satu destinasi favorit yang dipilih wisatawan untuk menghabiskan pergantian tahun. Konektivitas jalan tol yang mulai menyambung ke Gerbang Tol Purwomartani menjadi babak baru setelah sebelumnya harus melalui Gerbang Tol Prambanan di Klaten.
Musim libur akhir tahun nanti menjadi momentum emas menyambut konektivitas tol dan JJLS Kelok 23. Dan, puncaknya bisa dirasakan pada saat arus mudik Lebaran 2027.
“Ini menjadi ikon baru di Yogya yang menjadi supporting point of view dan akselerasinya ke pariwisata cukup bagus. Cuma memang ini yang perlu kita jaga bersama,” ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (DPD GIPI) DIY, Bobby Ardyanto kepada JNEWS di Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).
Industri pariwisata Yogyakarta, lanjut Bobby, sangat menyambut baik konektivitas jalan nasional tersebut. Menurutnya, JJLS Kelok 23 adalah ikon baru yang perlu dirawat dengan baik. Jangan sampai ketika beroperasi penuh, kanan kiri jalan disesaki lapak-lapak pedagang liar yang mengganggu lajur dan pemandangan.
Bobby mencontohkan pengalaman di wilayah lain, seperti fenomena kemunculan warung-warung tenda liar di kawasan jalur kelok ikonik Padang, yang pada akhirnya menurunkan nilai estetika lantaran pertumbuhan UMKM tidak terkendali oleh pemerintah setempat.
Baca juga: Keindahan Candi Banyunibo, Candi Kuno di Pinggir Yogyakarta
Untuk mencegah hal serupa terjadi di Kelok 23, menurutnya, penyusunan regulasi yang tepat sebelum kawasan berkembang masif menjadi langkah penting untuk melindungi lanskap dan estetika utamanya.
“Jangan sampai nanti tumbuh pergerakan ekonomi masyarakat yang di luar yang seharusnya, sehingga akhirnya menutupi keindahan dari Kelok 23 itu sendiri. Karenanya, diperlukan regulasi keberlanjutan sejak dini. Mumpung masih awal, itu yang perlu kita jaga,” tegasnya.
Dengan melakukan sosialisasi dan edukasi, pengunjung nantinya juga bisa lebih tertib ke rest area yang dilengkapi gardu pandang. Lokasi ini juga merangkul UMKM setempat, sehingga mereka bisa memperoleh nilai tambah.