JNEWS – Sunday Morning Stadion Sultan Agung (Sunmor SSA) Bantul menjadi destinasi mingguan kebanggaan warga Jogja Selatan (Jogsel). Sunmor SSA menawarkan wisata olahraga sekaligus tempat momong anak sembari belanja.
Saban minggu pagi, Sunmor SSA ramai ratusan pedagang dan UMKM yang menjajakan lapak kuliner, barang dan jasa di selasar parkir stadion.
Cuaca cerah menjadi berkah bagi pedagang. Pengunjung membeludak. Apalagi jika masuk tanggal muda.
“Patokannya hanya cuaca. Kalau tidak hujan, pasti ramai,” ujar Ari, pedagang fesyen dan aksesoris yang membuka lapak beratapkan tenda.
Ari menjadi pedagang sejak Sunmor SSA masih dirintis sebelum pandemi Covid-19. Ari menjual ganci mulai Rp8 ribu, sepatu karet, dan pakaian murah meriah. Selain atraktif menawarkan dagangannya, perempuan ini juga rajin ngonten di media sosial untuk menggaet pelanggan lewat online. “Kebanyakan anak muda yang beli. Tapi emak-emak juga ada,” ujarnya.
Sunmor SSA menjadi alternatif wisata belanja sekaligus plesiran murah meriah bagi warga lokal. Kompleks Stadion Sultan Agung menawarkan tempat olahraga sekaligus hiburan yang dinanti-nanti saban pekan.
Sisi selatan SSA kini dilengkapi area jogging track. Pelari bertemu pejalan santai. Jalur ini mengitari arena balap kuda. Satu putaran lumayan jauh. Cukup ideal untuk menguji kebugaran.
Di sisi timur, SSA juga memiliki lapangan tenis dan GOR untuk basket atau badminton. Selasar parkir kerap menjadi latihan setir mobil, oleh pribadi maupun lembaga kursus mengemudi.

Daya magis Sunmor SSA menjadi magnet bagi warga lokal. Pedagang kuliner nyaris lengkap. Ada jajanan modern hingga tradisional. Dari zuppa soup hingga jenang. Ada pentol hingga cumi bakar.
Pedagang pakaian juga berderet diserbu pembeli. Ada baju baru hingga bekas layak pakai. Aksesoris dan pernak-pernik yang disukai generasi Z juga mudah dijumpai.
Baca juga: Ini Dia Spot Syahdu Ngabuburit di Yogyakarta
Tak kalah penting, Sunmor SSA juga menjadi ajang momong anak. Anak-anak bisa naik kereta mini, odong-odong, istana prosotan, main remote control backhoe hingga menunggang kuda bendi. Sementara orang tuanya makan soto, pilih-pilih pakaian atau sekadar melepas penat dengan ikut senam aerobik atau zumba.
Pengunjung hanya perlu membayar tiket parkir untuk memasuki area Sunmor SSA. Tarif parkir motor Rp4 ribu, dan mobil Rp6 ribu. Buka dari pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, transaksi di beberapa pedagang bisa memakai QRIS.
Lokasi Sunmor SSA juga berdekatan dengan destinasi kuliner sate kambing kawasan Jejeran. Wisatawan banyak yang mampir ke Sumnor SSA sebelum melipir nyate kambing.
Barometer Jogja Selatan
Sunmor SSA menjelma menjadi episentrum Jogja Selatan (Jogsel). Ini jadi kebanggaan warga Bantul, mengingat kabupaten ini tidak memiliki pusat perbelanjaan (mall) di usianya yang tahun ini menapak 195 tahun. Sunmor SSA mampu menjadi daya ungkit ekonomi UMKM di tengah tantangan zaman yang semakin berat.
Sunmor SSA sesungguhnya menduplikasi Sunmor UGM yang lebih dulu melegenda. Sunmor UGM yang terletak di pusat kota kawasan Kampus UGM, Sleman ini menjadi tren yang digandrungi anak-anak muda. Pengunjung bisa jalan-jalan di trotoar sembari belanja dan kulineran saban Minggu pagi.
Hanya saja karena letaknya hanya menyusuri trotoar jalan dari UGM hingga UNY, yang dijajakan pedagang pun terbatas. Di sana tidak ada pemandangan naik bendi, main odong-odong, atau mewarnai styro foam bergambar kartun yang disukai bocil.
Sunmor SSA lebih cocok untuk momong anak karena tempatnya yang luas dan teduh. Adapun Sunmor UGM lebih membidik anak muda dan mahasiswa yang menyukai fashion, pernak-pernik lucu dan unik.
Sunmor telah menjadi penopang pendapatan pedagang. Event sekali sepekan ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Hanya saja, awal tahun hingga memasuki bulan Ramadhan, hujan masih mengguyur. Pedagang hanya berharap hujan tidak turun di minggu pagi. Minggu pagi yang cerah membuat pedagang sumringah.
“Alhamdulillah ramai kalau pas cerah, bisa jual 20 stel balon, cuma Rp5 ribu saja,” kata Jumadi, penjual balon karakter. Selain di Sunmor SSA, Jumadi juga mangkal di Lapangan Paseban Bantul setiap malam Minggu. “Kalau di SSA pembelinya anak-anak, kalau di Paseban malah cewek-cewek, yang minta dibuatkan rangkaian bunga,” ujarnya.