JNEWS – Lihat teman liburan, nonton konser, nyobain restoran yang sedang viral, atau beli barang terbaru kadang membuat kita ikut ingin melakukan hal yang sama. Padahal, belum tentu semuanya sesuai dengan kebutuhan atau kondisi saat ini. Jika FOMO membuat seseorang khawatir tertinggal, joy of missing out atau JOMO merupakan istilah untuk kondisi sebaliknya, kita dengan sengaja melewatkan sesuatu tanpa merasa rugi atau gelisah.
JOMO memberi ruang untuk menikmati pilihan yang dibuat sendiri tanpa terus mengecek apa yang sedang dilakukan orang lain. Tidak ikut tren tertentu pun bisa menyenangkan ketika waktu, uang, dan perhatian dapat digunakan untuk hal yang lebih disukai.
Hidup tetap berjalan meski ada acara yang dilewatkan, barang yang tidak dibeli, atau tren yang tidak diikuti. Menarik kan?
Apa Itu Joy of Missing Out?

Joy of missing out, atau JOMO, adalah perasaan nyaman dan puas ketika kita tidak ikut serta dalam tren, aktivitas, atau hal-hal yang sedang ramai dilakukan orang lain. JOMO bisa dibilang kebalikan dari fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal atau kehilangan pengalaman yang dianggap menarik.
Orang yang menerapkan JOMO tidak merasa harus selalu tahu apa yang sedang viral, membeli barang terbaru, datang ke setiap acara, atau mengikuti aktivitas hanya karena orang lain melakukannya. Ia lebih memilih sesuatu berdasarkan kebutuhan, minat, kemampuan, dan prioritas pribadi, bukan tekanan sosial.
Contoh sederhana, misalnya teman-teman yang lain ramai membeli gadget keluaran terbaru, tetapi kita tetap memakai gadget lama karena masih berfungsi dengan baik. Alih-alih merasa ketinggalan, kita justru merasa lega karena tidak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Dalam konteks gaya hidup dan keuangan, JOMO dapat membantu kita untuk:
- lebih selektif menggunakan waktu dan energi;
- mengurangi pembelian impulsif akibat tren;
- lebih mudah membedakan keinginan dan kebutuhan;
- mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain;
- lebih fokus pada tujuan dan prioritas keuangan sendiri.
Jadi, joy of missing out bukan berarti menghindari kehidupan sosial atau menolak semua tren. Intinya adalah merasa baik-baik saja ketika melewatkan sesuatu karena sadar bahwa tidak semua hal perlu diikuti.
Baca juga: 12 Tanda Gaya Hidup FOMO yang Diam-Diam Menguras Waktu dan Uang
Cara Menerapkan Joy of Missing Out agar Hidup Lebih Tenang
Untuk menerapkan joy of missing out alias JOMO ini, seperti yang sudah disebutkan di atas, kita tidak harus langsung menjauh dari media sosial atau berhenti mengikuti tren sama sekali kok. Intinya justru belajar memilih dengan sadar mana yang memang ingin dilakukan dan mana yang sebenarnya hanya dipicu rasa takut tertinggal.
Berikut cara menerapkan JOMO di kehidupan sehari-hari, agar kita jadi lebih tenang dan bijak.
1. Kenali Hal-Hal yang Paling Sering Memicu FOMO
Perhatikan situasi yang membuat muncul dorongan untuk ikut-ikutan. Bisa berupa unggahan teman tentang liburan, tren gadget terbaru, konser, tempat makan viral, atau pencapaian karier orang lain.
Mengenali pemicunya membuat kita lebih mudah menyadari, “Aku memang menginginkan ini, atau cuma takut ketinggalan?”
2. Tentukan Prioritas Pribadi
Joy of missing out lebih mudah diterapkan ketika kita tahu apa yang sedang diperjuangkan. Misalnya, sedang menabung untuk dana darurat, mengejar target investasi, ingin punya lebih banyak waktu bersama keluarga, atau sekadar membutuhkan waktu istirahat. Prioritas tersebut bisa menjadi dasar ketika harus memutuskan sesuatu.
3. Kurangi Paparan yang Memicu Keinginan untuk Terus Mengikuti Tren
Tidak perlu menghapus semua media sosial. Cukup atur penggunaannya agar tidak terus-menerus terpapar hal yang memicu FOMO. Unfollow atau mute akun tertentu, matikan notifikasi yang tidak penting, dan tentukan waktu khusus untuk membuka media sosial.
4. Biasakan Berhenti Sebelum Mengatakan “Iya”
Undangan, promo, tren, atau ajakan teman tidak selalu harus langsung ditanggapi. Beri sedikit waktu untuk mempertimbangkan apakah kegiatan tersebut memang ingin dilakukan. Kebiasaan ini juga berguna untuk mencegah keputusan impulsif, terutama yang melibatkan uang.
5. Belajar Mengatakan “Tidak” Tanpa Merasa Bersalah
Menolak ajakan bukan berarti antisosial. Jika sebuah acara tidak sesuai jadwal, kondisi keuangan, energi, atau prioritas, tidak ada kewajiban untuk ikut. Joy of missing out tumbuh ketika keputusan untuk melewatkan sesuatu tidak lagi dianggap sebagai kehilangan.
6. Berhenti Menjadikan Kehidupan Orang Lain sebagai Tolok Ukur
Media sosial membuat pencapaian orang lain mudah terlihat setiap saat. Masalah muncul ketika hal tersebut digunakan untuk mengukur kehidupan sendiri. Fokus pada perkembangan pribadi membuat keputusan tidak mudah dipengaruhi pertanyaan seperti, “Kok orang lain sudah punya, sedangkan aku belum?”
7. Buat batasan untuk Pengeluaran karena Tren
Joy of missing out juga bisa diterapkan dalam pengelolaan uang. Sebelum membeli sesuatu yang sedang viral, tanyakan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan sesuai anggaran. Bisa pula menerapkan jeda 24-48 jam sebelum belanja barang-barang nonrutin agar keputusan tidak dibuat karena euforia sesaat.
8. Nikmati Waktu yang Sengaja Dikosongkan
Tidak setiap akhir pekan harus penuh agenda. Tidak setiap waktu luang harus diisi dengan aktivitas yang terlihat produktif atau menarik di luar rumah. Membaca, memasak, tidur siang, berjalan kaki, atau sekadar berada di rumah juga bisa menjadi pilihan yang menyenangkan.
9. Latih Diri untuk Benar-Benar Hadir dalam Aktivitas yang Sedang Dilakukan
Joy of missing out sulit muncul kalau pikiran terus sibuk memikirkan apa yang sedang dilakukan orang lain. Ketika sedang makan bersama keluarga, misalnya, nikmati momen tersebut tanpa terus mengecek media sosial. Perhatian yang utuh membuat pengalaman yang tampak sederhana jadi lebih memuaskan.
10. Ukur Keputusan dari Kepuasan Diri Sendiri
Coba perhatikan alasan di balik suatu keputusan. Apakah memilih restoran tertentu karena memang menyukai makanannya atau karena ingin mengunggahnya? Apakah membeli sesuatu karena berguna atau karena ingin terlihat mengikuti tren? Semakin sedikit keputusan yang bergantung pada validasi eksternal, semakin mudah menikmati joy of missing out.
11. Belajar Nyaman dengan Pilihan yang Berbeda
Akan selalu ada orang yang pergi ke tempat yang tidak kita datangi, membeli sesuatu yang tidak kita miliki, atau menjalani kehidupan dengan ritme berbeda. JOMO berarti menerima kenyataan tersebut tanpa merasa kehidupan sendiri menjadi kurang menarik karenanya.
Baca juga: 17 Ide Self Reward yang Tetap Aman buat Dompet
Pada dasarnya, menerapkan joy of missing out bukan soal sengaja melewatkan sebanyak mungkin hal, melainkan mempunyai kendali atas apa yang layak mendapatkan waktu, uang, dan perhatian.
Sesuatu boleh dilewatkan ketika memang tidak sesuai prioritas, dan keputusan itu tidak harus disertai rasa takut ketinggalan.