JNEWS – Para pelaku industri kreatif di Tanah Air kini mulai menyasar pangsa budaya pop Korea Selatan atau K-Pop. Salah satunya, mereka ikut berpartisipasi dalam pameran bertajuk ‘Urban Break & Toy Con Seoul 2026’ yang digelar di Coex, Seoul, Korea Selatan belum lama ini.
Urban Break & Toy Con Seoul 2026 sendiri merupakan festival seni rupa urban dan pameran art toys terbesar di Korea Selatan yang memadukan budaya pop, grafiti, dan mainan. Hadir dalam pameran lebih dari 100 seniman dari 15 negara, di antaranya Indonesia, Jepang, Taiwan, Tiongkok, Singapura, Malaysia, hingga Jerman.
Produk mainan karya seni (art toys) dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) karya kreator Indonesia, serta jasa pembuatan art toys menarik perhatian pengunjung sekaligus memperkuat eksistensi Indonesia di pasar internasional khususnya di Korea Selatan.
“Partisipasi Indonesia dalam pameran ini merupakan langkah strategis untuk memperluas akses pasar art toys sekaligus mendorong ekspor sektor jasa produk kreatif ke Korea Selatan. Lonjakan potensi transaksi menunjukkan produk dan jasa kreatif karya anak bangsa semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar global,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi.
Menurut Fajarini, partisipasi Indonesia dalam pameran ini merupakan hasil sinergi Kemendag melalui Direktorat Jenderal PEN dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Busan di Republik Korea, bersama kelompok seni Artistry Rights Kollektive dari Indonesia.
Pada pameran tersebut, para kreator bertemu langsung dengan sedikitnya 400 buyer potensial di pameran tersebut. Karya-karya yang ditampilkan meliputi art toys atau mainan desainer (designer toys) dan mainan koleksi (collectible toys) bernilai estetika tinggi, yang diciptakan khusus sebagai koleksi serta memiliki perlindungan kekayaan intelektual.
Paviliun Indonesia seluas 60 m2 memamerkan hasil karya 21 kreator Indonesia yang lolos kurasi oleh Kemendag, ITPC Busan, dan Artistry Rights Kollektive. Para kreator yang tampil, yaitu IKY, Rhoald, Abraham Derri, Mirfak, Arief Witjaksana, TOYKKYO, Henky, Beastnolyze, Bea, Skudeye, Royes, ULUM, Arya Mularama, Button Eyes, Edmoon, Kathox, Rozi Permana, Fivust, Mang Moel, Authentic Remixes, dan Ghawean Dhewe.
Pendiri Artistry Rights Kollektive, Stevanus Lianto, sekaligus salah satu peserta pameran di Paviliun Indonesia, mengapresiasi dukungan pemerintah yang membuka jalan bagi para seniman art toys untuk menunjukkan hasil karyanya kepada calon mitra.
Baca juga:Minyeuk Pret, Menghidupkan Kembali Warisan Parfum Lokal
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan pemerintah bagi seniman art toys untuk hadir di pameran Korea Selatan. Sangat menantang saat bertemu calon mitra, karena mereka memiliki ekspektasi tinggi dan kami harus mengelola ekspektasi mereka. Partisipasi ini menjadi pengalaman untuk kami dan kami berharap akan menjadi permulaan yang baik,” ungkapnya.
Dari sisi transaksi, pameran ini memberikan peluang yang cukup besar. Hal ini tercermin dari potensi transaksi yang mencapai USD 1 juta atau sekitar Rp 17 miliar. Angka ini melonjak dibanding keikutsertaan pada 2025 yang mencatatkan USD 500 ribu. Peningkatan ini menunjukkan tingginya minat buyer dan mitra bisnis di Korea Selatan terhadap produk art toys serta jasa kreatif asal Indonesia. *
