JNEWS – Letusan gunung bisa berlangsung hanya beberapa jam, tetapi dampaknya dapat bertahan selama bertahun-tahun. Material vulkanik yang terlontar ke udara dapat menutupi wilayah yang luas, aliran piroklastik menghancurkan permukiman, sementara gas vulkanik yang mencapai atmosfer dapat memengaruhi suhu dan cuaca dalam skala regional sampai global.
Ukuran suatu letusan juga tidak selalu bisa dinilai dari jumlah korban. Ada erupsi yang menghasilkan material vulkanik dalam jumlah luar biasa besar tetapi terjadi di daerah terpencil. Ada pula letusan yang volumenya lebih kecil, tetapi menimbulkan bencana besar karena terjadi dekat permukiman padat. Karena itu, daftar berikut melihat gabungan skala erupsi, volume material, kekuatan ledakan, serta dampaknya terhadap lingkungan dan manusia.
Skala Letusan Gunung yang Mengubah Lanskap dan Kehidupan

Dalam catatan geologi dan sejarah, terdapat sejumlah letusan gunung yang ukurannya jauh melampaui erupsi biasa. Beberapa di antaranya masuk kategori VEI 6 atau 7, yaitu tingkat letusan yang tergolong sangat besar hingga ekstrem dalam skala vulkanik. Sementara letusan yang jauh lebih tua bahkan mencapai skala supererupsi.
1. Toba, Indonesia – sekitar 74.000 tahun lalu
Nama Toba sangat dikenal di Indonesia karena sekarang menjadi salah satu danau vulkanik terbesar di dunia. Jauh sebelum Danau Toba terbentuk seperti sekarang, kawasan tersebut mengalami erupsi raksasa yang meninggalkan jejak pada wilayah sangat luas.
USGS memperkirakan erupsi Toba menghasilkan sekitar 2.800 kilometer kubik material, menjadikannya salah satu letusan terbesar dalam dua juta tahun terakhir. Sebagai perbandingan, erupsi Mount St. Helens pada 1980 menghasilkan kurang dari 1 kilometer kubik material.
Skala sebesar itu membuat Toba masuk kategori supererupsi. Abu vulkaniknya ditemukan hingga wilayah yang jauh dari sumber erupsi, bahkan sampai ke kawasan Asia Selatan. Gas dan partikel yang masuk ke atmosfer juga memengaruhi iklim dalam skala besar.
Karena terjadi puluhan ribu tahun sebelum munculnya catatan sejarah manusia, angka korban langsung dari peristiwa ini tidak dapat diketahui secara pasti.
Baca juga: Gunung Dukono: Mengenal Gunung Api Aktif yang Tak Pernah Tidur di Halmahera Utara

2. Tambora, Indonesia – 1815
Kalau berbicara tentang letusan gunung terbesar dalam sejarah yang tercatat manusia, Tambora harus masuk juga dalam daftar. Gunung yang berada di Pulau Sumbawa ini mengalami erupsi dahsyat pada April 1815 dan mencapai VEI 7. USGS menyebut erupsi Tambora sebagai letusan eksplosif terbesar yang pernah diketahui dalam masa sejarah.
Material vulkanik yang dimuntahkan sangat besar. USGS memperkirakan volumenya sekitar 50 kilometer kubik dalam bentuk magma setara batuan padat. Abu dan gas sulfur menyebar jauh ke atmosfer.
Dampaknya juga tidak berhenti di sekitar Sumbawa. Tahun 1816 dikenal sebagai Year Without a Summer karena gangguan iklim setelah erupsi Tambora berkontribusi terhadap cuaca yang lebih dingin di sejumlah wilayah belahan bumi utara.
Korban jiwa akibat bencana ini diperkirakan mencapai sekitar 92.000 orang, dengan kelaparan menjadi salah satu penyebab utama.

3. Krakatau, Indonesia – 1883
Nama Krakatau melekat kuat dalam sejarah letusan gunung karena suara ledakannya dan dampak yang ditimbulkannya tercatat sampai wilayah yang sangat jauh. Erupsi besar terjadi pada Agustus 1883 dan berlangsung dalam rangkaian aktivitas eksplosif.
USGS mencatat lebih dari 4 mil kubik material vulkanik terlontar dalam periode utama erupsi. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 36.000 orang, sebagian besar akibat tsunami yang muncul setelah runtuhnya bagian tubuh gunung ke laut.
Letusan Krakatau juga menghasilkan perubahan atmosfer yang dapat diamati di berbagai belahan dunia. Cahaya matahari dan warna langit mengalami perubahan akibat partikel vulkanik yang tersebar di atmosfer.
Bencana ini menunjukkan betapa besar dampak sebuah gunung api ketika pusat erupsi berada di dekat laut dan kawasan yang dihuni manusia.
4. Novarupta, Alaska – 1912
Novarupta mungkin tidak setenar Krakatau atau Tambora, tetapi dari sisi volume material, erupsi ini sangat mengesankan. Letusan yang terjadi di Alaska pada Juni 1912 disebut USGS sebagai letusan terbesar pada abad ke-20.
Sekitar 15 kilometer kubik magma dikeluarkan selama kurang lebih 60 jam. Jumlah tersebut sekitar 30 kali volume material yang dikeluarkan Mount St. Helens pada 1980.
Erupsi ini juga menghasilkan aliran piroklastik yang memenuhi lembah di sekitar lokasi. Material vulkanik yang panas membentuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Valley of Ten Thousand Smokes, karena banyak fumarol mengeluarkan uap dari endapan vulkanik yang masih panas.
Dampak terhadap manusia relatif kecil dibandingkan ukuran erupsinya karena lokasinya terpencil dan penduduk di sekitar kawasan sangat sedikit. Ini menjadi contoh bahwa besarnya letusan tidak otomatis berarti jumlah korban akan tinggi.
5. Pinatubo, Filipina – 1991
Erupsi Pinatubo menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling penting pada abad ke-20. Sebelum erupsi besar terjadi pada Juni 1991, aktivitas gunung tersebut sudah meningkat dan dipantau oleh para ilmuwan.
Erupsi klimaksnya menghasilkan sekitar 5 kilometer kubik magma menurut estimasi USGS dan mencapai VEI 6. Kolom abu membumbung lebih dari 35 – 40 kilometer ke atmosfer.
Dampaknya sangat luas. Abu menutupi kawasan besar, sementara aliran piroklastik dan lahar merusak permukiman serta infrastruktur. Hujan yang datang bersamaan dengan abu juga memperberat beban pada bangunan dan menyebabkan sejumlah bangunan runtuh.
Gas sulfur dioksida dari erupsi mencapai stratosfer dan membentuk aerosol sulfat yang memantulkan sebagian radiasi matahari. Efeknya berkontribusi terhadap pendinginan suhu permukaan Bumi selama beberapa waktu setelah erupsi.

6. Vesuvius, Italia – 79 M
Vesuvius memiliki sejarah yang panjang, tetapi erupsi pada tahun 79 M menjadi peristiwa yang paling terkenal. Letusan tersebut menghancurkan Pompeii dan Herculaneum, dua kota Romawi yang berada di sekitar gunung.
Erupsi Vesuvius menghasilkan kolom abu dan material vulkanik dalam jumlah besar, kemudian diikuti aliran piroklastik yang bergerak cepat dan sangat panas. Material tersebut mengubur kawasan permukiman dalam waktu relatif singkat.
Menurut data USGS, erupsi Vesuvius tahun 79 M diperkirakan berada pada VEI 5. Estimasi korban dalam catatan USGS mencapai sekitar 3.360 orang.
Jejak erupsi ini masih dapat dipelajari sampai sekarang melalui lapisan abu, bangunan yang terkubur, serta peninggalan manusia dan benda sehari-hari yang terawetkan di bawah material vulkanik.
7. Laki, Islandia – 1783
Laki memiliki karakter yang berbeda dari letusan eksplosif seperti Tambora dan Krakatau. Aktivitasnya berupa erupsi rekahan yang berlangsung selama berbulan-bulan. Rangkaian erupsi 1783–1784 menghasilkan lava dan melepaskan gas vulkanik dalam jumlah sangat besar.
USGS memperkirakan Laki melepaskan sekitar 120 juta ton sulfur dioksida, jauh lebih banyak daripada Pinatubo yang diperkirakan melepaskan sekitar 20 juta ton. Gas tersebut berkontribusi terhadap pendinginan regional di Eropa dan Amerika Utara.
Dampaknya terhadap Islandia sangat berat. Gas vulkanik yang kaya fluor merusak padang rumput dan menyebabkan kematian ternak. Kondisi tersebut kemudian memicu kelaparan. Sekitar 9.000 orang, hampir 20 persen populasi Islandia pada masa itu, diperkirakan meninggal akibat kelaparan yang berkaitan dengan bencana tersebut.
Baca juga: Mengenal Gunung Anak Krakatau, Gunung Api yang Tumbuh dari Laut
Deretan letusan gunung di atas menunjukkan bahwa erupsi besar dapat membawa dampak dalam banyak bentuk, mulai dari kehancuran wilayah sekitar, tsunami, kelaparan, sampai perubahan iklim sementara. Tambora dan Toba menonjol karena skala materialnya, Krakatau karena tsunami dan dampak globalnya, sementara Laki memperlihatkan bagaimana gas vulkanik dapat memicu krisis pangan dalam wilayah yang sangat luas.












