JNEWS – Tidak semua kebiasaan belanja berubah drastis saat ekonomi sedang lesu. Ada satu fenomena menarik yang terjadi justru di saat seperti ini. Namanya lipstick effect.
Saat fenomena ini terjadi, masyarakat justru tetap rela mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang mewah dengan harga yang relatif terjangkau. Seperti lipstik, parfum, kopi premium, hingga dessert favorit.
Kok bisa ya? Bukannya kalau ekonomi lagi sulit, kita juga mestinya lebih berhati-hati mengeluarkan uang dan mengurangi pengeluaran tersier ya? Coba yuk, kita telusuri lebih jauh.
Apa Itu Lipstick Effect?

Lipstick effect adalah istilah dalam ekonomi dan perilaku konsumen yang menggambarkan kecenderungan masyarakat tetap membeli barang-barang mewah berharga relatif terjangkau ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Alih-alih mengeluarkan uang untuk pembelian besar seperti mobil, liburan mahal, atau tas desainer, konsumen memilih produk kecil yang tetap memberikan rasa puas, seperti lipstik, parfum mini, cokelat premium, atau kopi spesial.
Fenomena ini didasarkan pada anggapan bahwa di tengah tekanan finansial, ada yang masih ingin menikmati sedikit kemewahan atau memberikan penghargaan pada diri sendiri tanpa harus menguras anggaran. Karena itu, permintaan terhadap produk “kemewahan kecil” justru bisa bertahan, bahkan meningkat, saat daya beli masyarakat melemah.
Istilah lipstick effect mulai populer pada awal tahun 2000-an, diperkenalkan oleh Leonard Lauder, mantan CEO sekaligus Chairman perusahaan kosmetik Estée Lauder.
Pada masa resesi ekonomi di Amerika Serikat setelah peristiwa serangan 11 September 2001, Lauder mengamati bahwa penjualan lipstik justru mengalami peningkatan ketika banyak sektor ritel lain mengalami penurunan. Ia kemudian mengemukakan teori bahwa konsumen yang mengurangi pengeluaran besar tetap bersedia membeli lipstik sebagai bentuk kemewahan yang masih terjangkau.
Sejak saat itu, istilah lipstick effect digunakan secara luas oleh ekonom, analis pasar, dan pelaku bisnis untuk menjelaskan pola konsumsi serupa di berbagai negara dan periode perlambatan ekonomi.
Meski demikian, konsep ini lebih dikenal sebagai hipotesis atau observasi perilaku konsumen daripada teori ekonomi yang telah terbukti berlaku di semua situasi. Beberapa periode krisis memang menunjukkan peningkatan penjualan kosmetik, tetapi pada periode lain pola tersebut tidak selalu muncul.
Karena itu, lipstick effect lebih tepat dipahami sebagai salah satu kecenderungan yang dapat terjadi ketika konsumen menyesuaikan pola belanjanya di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Baca juga: Ini Cara Menjaga Keuangan Tetap Tenang di Tengah Ketidakpastian
Mengapa Muncul Fenomena Lipstick Effect saat Ekonomi Tidak Baik-Baik Saja?
Lipstick effect bukanlah fenomena yang muncul tanpa alasan. Di balik keputusan membeli lipstik, kopi premium, atau camilan favorit saat ekonomi sedang sulit, terdapat perubahan cara konsumen mengelola pengeluaran dan mencari kepuasan.
Inilah yang membuat lipstick effect kerap muncul setiap kali kondisi ekonomi dipenuhi ketidakpastian dan daya beli mulai tertekan.
1. Orang Menunda Pembelian Besar
Ketika kondisi ekonomi penuh ketidakpastian, orang memilih menahan pengeluaran untuk barang bernilai besar seperti rumah, mobil, atau liburan mahal.
Namun, keinginan untuk berbelanja tidak hilang begitu saja. Sebagai gantinya, mereka membeli produk yang lebih murah tetapi tetap memberikan rasa puas, seperti lipstik, parfum, atau makanan premium.
2. Kebutuhan akan Self-Reward Tetap Ada
Tekanan ekonomi sering kali memicu stres dan kecemasan. Membeli barang kecil yang disukai menjadi cara sederhana untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Pengeluaran ini dianggap masih masuk akal dibandingkan membeli barang mewah dengan harga puluhan juta rupiah.
3. Orang Mencari Rasa Nyaman di tengah Ketidakpastian
Saat kondisi ekonomi memburuk, banyak orang berusaha mempertahankan rutinitas dan gaya hidup yang membuat mereka merasa nyaman. Membeli produk favorit atau mencoba sesuatu yang menyenangkan dapat memberikan ilusi bahwa hidup masih berjalan seperti biasa, sehingga membantu menjaga suasana hati.
4. Harga Produk Masih Dirasa Terjangkau
Lipstick effect umumnya terjadi pada barang yang masuk kategori affordable luxury atau kemewahan yang masih dapat dijangkau. Dibandingkan tas desainer atau perhiasan mahal, membeli kosmetik, kopi premium, atau dessert spesial tidak terlalu membebani anggaran sehingga keuangan lebih mudah dikendalikan.
5. Nilai Emosional Lebih Besar daripada Nilai Fungsional
Dalam situasi ekonomi sulit, keputusan belanja tidak selalu didasarkan pada kebutuhan praktis. Banyak orang lebij mempertimbangkan manfaat emosional yang diperoleh dari suatu produk.
Sebuah lipstik, misalnya, mungkin tidak mengubah kondisi keuangan kita, tetapi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan kebahagiaan sesaat.
6. Beralih ke Versi yang Lebih Murah
Di situasi ekonomi yang lebih sulit, banyak orang memilih versi yang lebih terjangkau asal bisa tetap bahagia dan terpenuhi kebutuhannya. Misalnya, menunda liburan ke luar negeri lalu membeli skincare premium, atau mengurungkan niat membeli tas mewah dan memilih parfum berkualitas sebagai bentuk self-reward yang lebih ramah di kantong.
7. Pengeluaran Kecil Lebih Aman
Secara psikologis, mengeluarkan uang dalam jumlah kecil terasa memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan melakukan pembelian besar. Walaupun total pengeluaranhanya berkurang sedikit atau bahkan tetap, nominal yang relatif kecil membuat orang merasa keputusan tersebut masih sesuai dengan kondisi keuangan yang sekarang.
Baca juga: Mengenal Fenomena Manusia Tikus: Protes Sunyi Gen Z di Tiongkok
Jadi, bisa disimpulkan, bahwa lipstick effect muncul karena perpaduan faktor ekonomi dan psikologis.
Ketika daya beli menurun dan masa depan terasa tidak pasti, banyak orang cenderung mengurangi pengeluaran besar tetapi tetap mencari cara untuk menikmati “kemewahan kecil” yang memberikan kepuasan emosional tanpa membebani anggaran secara signifikan.