5 Masjid Tertua di Indonesia yang Menyimpan Jejak Sejarah Panjang

JNEWS – Membahas masjid tertua di Indonesia tidak hanya berputar di masalah usia bangunan saja. Namun ada fakta bahwa tempat-tempat ini juga menjadi saksi proses penyebaran agama Islam di seluruh penjuru tanah air.

Setiap masjid punya latar yang berbeda, mulai dari peran tokoh yang mendirikannya, kondisi sosial saat itu, sampai cara masyarakat setempat menerima ajaran baru.

Masjid Tertua di Indonesia: Sejarah Panjang dan Arsitektur Khas

Beberapa masjid tertua di Indonesia memperlihatkan cara masyarakat lokal menyesuaikan ajaran Islam dengan budaya yang sudah lebih dulu ada. Bentuk bangunannya tidak selalu mengikuti gaya Timur Tengah, melainkan memakai pola arsitektur setempat yang sudah dikenal sebelumnya. Materialnya pun diambil dari lingkungan sekitar, sehingga lebih menyatu dengan kondisi alam.

Detail seperti ini membuat setiap masjid punya ciri khas yang berbeda, sekaligus menunjukkan bagaimana penyebaran Islam di Indonesia berjalan melalui proses yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mari kita lihat deretan masjid tertua di Indonesia, yang tersebar di beberapa sudut negeri dan kisah-kisah menarik di baliknya.

Masjid Tertua di Indonesia yang Menyimpan Jejak Sejarah Panjang
Sumber: website Pemprov Jawa Tengah

1. Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1288 Masehi. Angka tahun ini merujuk pada prasasti yang terukir menggunakan huruf Arab pada tiang utama (saka guru) masjid tersebut.

Masjid ini diyakini didirikan oleh Kiai Mustolih, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Tolih. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut, bahkan disebut sudah aktif sebelum masa Kerajaan Majapahit berakhir.

Selain merupakan masjid tertua di Indonesia, masjid ini juga unik karena struktur bangunannya hanya ditopang oleh satu tiang utama, atau yang disebut saka tunggal, sesuai namanya. Satu tiang ini dimaknai sebagai simbol keesaan Allah Swt.

Secara arsitektur, Masjid Saka Tunggal ini juga tidak mengikuti gaya kubah besar seperti kebanyakan masjid modern. Namun, lebih dekat dengan arsitektur tradisional Jawa, dengan atap bertingkat dan material kayunya.

Baca juga: Deretan Masjid Termegah di Dunia yang Menjadi Ikon Arsitektur Islam

2. Masjid Tua Wapauwe

Masjid Tua Wapauwe berlokasi di Desa Kaitetu, Maluku Tengah. Bangunan ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, berdiri sejak tahun 1414 M. Awalnya bernama Masjid Wawane, didirikan oleh Perdana Jamilu, tokoh muslim dari Kesultanan Jailolo, dan menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah utara Pulau Ambon.

Pada awalnya masjid ini dibangun di Gunung Wawane, lalu dipindahkan pada tahun 1614 ke Bukit Tehala, sekitar enam kilometer ke arah timur. Pemindahan ini dilakukan untuk menghindari gangguan dari VOC Belanda. Sekitar 50 tahun kemudian, tepatnya tahun 1664, masjid kembali dipindahkan ke lokasi sekarang di Desa Kaitetu.

Nama Wapauwe berasal dari kata wapa yang berarti mangga liar dan uwe berarti pohon. Nama ini merujuk pada lokasi awal masjid yang berdiri di bawah pohon mangga. Penyebutan ini kemudian melekat dan digunakan sampai sekarang.

Masjid Wapauwe dibangun dengan teknik konstruksi lama. Tidak ada paku yang digunakan untuk menyambung bagian kayunya. Semua disatukan dengan pasak dan ikatan dari serat pohon aren yang dikenal sebagai gamutu. Dindingnya dibuat dari gaba-gaba, yaitu pelepah sagu kering, sementara atapnya menggunakan daun sagu. Di bagian atas, ada tiang berbentuk huruf Alif sebagai simbol keesaan Allah.

Struktur seperti ini membuat masjid bisa dibongkar dan dipindahkan tanpa merusak bagian utamanya. Itulah kenapa bangunan ini bisa bertahan melewati beberapa kali perpindahan.

3. Masjid Agung Sunan Ampel

Masjid Agung Sunan Ampel berdiri sejak tahun 1421 M dan dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia dan paling tua di Jawa Timur. Letaknya berada di kawasan Ampel, Surabaya, yang sejak dulu dikenal sebagai permukiman Arab.

Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel, atau Raden Rahmat, salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Hingga sekarang, kawasan ini masih ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Bangunan masjid memadukan gaya Jawa lama dengan sentuhan Arab. Di bagian dalam, terdapat 16 tiang utama dari kayu jati dengan ukuran yang cukup besar. Tingginya sekitar 17 meter, dan angka ini sering dikaitkan dengan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari. Atapnya tidak menggunakan kubah, melainkan berbentuk tajuk bertingkat tiga seperti piramida.

Area masjid ini dilengkapi 5 gapura sebagai pintu masuk. Setiap gapura melambangkan rukun Islam. Di sisi kiri masjid, ada sumur tua yang cukup dikenal di kalangan peziarah karena airnya dianggap membawa berkah.

Di bagian barat kompleks masjid terdapat makam Sunan Ampel, yang wafat pada tahun 1481. Area makam terbuka untuk umum selama 24 jam, dan biasanya ramai pada malam Jumat serta selama bulan Ramadan.

4. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia dan paling berpengaruh. Masjid ini didirikan pada abad ke-15, sekitar tahun 1466 M, oleh Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak, dengan dukungan para Wali Songo.

Masjid ini juga tidak memakai kubah seperti masjid modern. Atapnya berkonsep tumpang tiga, menyerupai limas bertingkat. Setiap tingkat punya makna, yaitu iman, Islam, dan ihsan.

Struktur utama masjid ditopang oleh empat tiang kayu jati yang disebut saka guru. Salah satu yang paling dikenal adalah Saka Tatal, yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Tiang ini dibuat dari potongan-potongan kayu kecil yang disusun menjadi satu. Di sini juga ada Pintu Bledek yang dipercaya sebagai karya Ki Ageng Selo. Konon, pintu ini mampu “menangkap” petir, sehingga dianggap punya fungsi perlindungan.

Di bagian dalam, di area mihrab, terdapat hiasan bulus atau kura-kura. Hiasan ini  merupakan penanda tahun berdirinya masjid dalam bentuk candrasengkala, yaitu 1466 M. Bagian serambi ditopang oleh delapan tiang kayu dengan ukiran yang berasal dari masa Majapahit.

Detail ini menunjukkan adanya percampuran budaya yang terjadi di bangunan ini. Masjid Agung Demak menjadi contoh bagaimana nilai baru bisa diterima tanpa menghapus jejak budaya yang sudah lebih dulu ada.

Baca juga: Masjid Agung Demak: Sejarah dan Daya Tarik Pusat Penyebaran Islam di Jawa

5. Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah, juga dikenal sebagai Masjid Kuin, merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia, yang berada di Kalimantan Selatan. Dibangun pada tahun 1526 M, masjid ini berkaitan langsung dengan momen penting ketika Kerajaan Banjar mulai memeluk Islam.

Pendirinya adalah Sultan Suriansyah, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangeran Samudera. Ia menjadi raja Banjar pertama yang masuk Islam setelah mendapat dukungan militer dari Kesultanan Demak dalam konflik perebutan kekuasaan. Karena itu, tak heran ada pengaruh Jawa pada arah perkembangan agama dan budaya di wilayah ini selanjutnya.

Salah satunya terlihat jelas pada bentuk bangunan masjid. Gaya arsitektur masjid ini mirip dengan Masjid Agung Demak. Meski begitu, unsur lokal Banjar tetap kuat dan tidak hilang. Masjid ini dibangun di tepi Sungai Kuin dengan struktur panggung. Material utamanya menggunakan kayu ulin, yang dikenal sangat keras dan tahan lama, sehingga bangunannya bisa bertahan hingga sekarang.

Atap masjid berbentuk tumpang tiga, dan mihrab dibuat terpisah dari bangunan utama dengan atap sendiri. Desain seperti ini jarang ditemukan pada masjid masa kini. Bagian dalam dan luar masjid dihiasi ukiran khas Banjar dengan motif flora yang detail. Di beberapa bagian juga terdapat kaligrafi Arab yang indah.

Deretan masjid tertua di Indonesia di atas memperlihatkan bagaimana sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga berdiri nyata dalam bentuk bangunan yang masih digunakan sampai hari ini. Meski usia sudah ratusan tahun, masjid-masjid tersebut tetap eksis sebagai tempat ibadah hingga saat ini.

Exit mobile version