Mengenal Pendidikan Khas Kejogjaan: Menuju Jalma kang Utama

Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) menjadi penguat pendidikan di DIY dengan menyelaraskan kurikulum nasional dan nilai budaya lokal, guna membentuk jalma kang utama—pribadi cerdas, berakhlak mulia, rendah hati, serta mampu menjaga harmoni dengan sesama, alam, dan Tuhan

JNEWS – Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) adalah permata pelengkap pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyelaraskan kurikulum nasional dengan dimensi tambahan untuk memupuk keutamaan karakter dan kebijaksanaan kepribadian. PKJ bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan sebuah pengalaman yang berorientasi pada nilai budaya lokal sebagai modal sosial menghadapi arus modernisasi.

PKJ berawal dari gagasan Raja Kraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada pidato ilmiah penganugerahan Doktor Honoriscausa di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2019, berjudul ‘Pendidikan Karakter Berbasis Budaya’.

Tujuan utama PKJ adalah membentuk Jalma kang Utama, yaitu manusia yang berperilaku sangat baik, berakhlak mulia, cerdas secara intelektual namun tetap rendah hati, serta memiliki jiwa satria yang berakar kuat pada budaya luhur Nusantara.

Secara garis besar, dasar filosofis PKJ bertumpu pada trilogi karakter yang mengatur hubungan manusia secara vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (sesama dan alam) di antaranya Hamemayu Hayuning Bawana yang artinya kewajiban manusia untuk memperindah dunia, menjaga keselarasan, ketaatan, dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama, serta alam lingkungan.

PKJ juga menanamkan Sangkan Paraning Dumadi yakni kesadaran akan asal mula keberadaan manusia (berasal dari Tuhan) dan tujuan akhir kehidupan (kembali kepada Tuhan). Serta, Manunggaling Kawula Gusti yang secara filosofis berarti menyatunya kehendak hamba dengan Tuhan, namun dalam dunia pendidikan diartikan sebagai kesatuan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran demi mencapai tujuan yang mulia.

Pendidikan ini diwujudkan melalui lima nilai utama yang menjadi kompas moral bagi siswa. Pertama, Hamangku, Hamengku, Hamengkoni, artinya sebuah nilai kepemimpinan yang mengayomi dan melindungi. Kedua, Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi yakni mengasah ketajaman akal budi (integritas moral) terlebih dahulu sebelum mengasah pikiran (kognitif) untuk memberantas kejahatan dunia seperti korupsi dan ketidakadilan.

Ketiga, Pamenthanging Gendhewa, Pamanthenging Cipta yang artinya mengajarkan konsentrasi dan fokus yang penuh (seperti menarik busur panah) dalam mewujudkan cita-cita mulia. Keempat, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh yang memiliki konsentrasi penuh (sawiji), semangat batin (greget), percaya diri namun tidak sombong (sengguh), dan pantang mundur serta bertanggung jawab (ora mingkuh) dalam menghadapi rintangan. Kelima, Golong Gilig berupa semangat bersatu padu dan mengerahkan segala sumber daya untuk mencapai tujuan bersama tanpa memandang perbedaan.

Baca juga: Candi Kalasan: Candi Buddha dari Abad ke-8 di Yogyakarta dan Sejarahnya

Salah satu ciri khas siswa Yogyakarta adalah penerapan gerakan ‘Ngajeni’, sebuah akronim yang mempermudah siswa mempraktikkan tata krama di rumah maupun sekolah. ‘NGA’ (Ngapurancang) atau sikap berdiri tegak dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri di atas pusar sebagai bentuk hormat kepada orang tua, guru, atau pimpinan. ‘JE’ (jempol) menggunakan ibu jari untuk menunjuk, mempersilakan orang lain, atau mengapresiasi prestasi teman.

Kemudian, ‘N’ (Nuwun Sewu, Nyuwun Pangapunten, Matur Nuwun, Mangga) untuk membiasakan kata-kata ajaib saat melewati orang, meminta maaf atas kesalahan, berterima kasih atas pemberian, dan mengajak orang lain secara sopan. ‘I’ (Injih) yang artinya menggunakan kata injih atau inggih untuk mengiakan perkataan orang lain dengan santun.

PKJ diimplementasikan melalui beberapa aspek budaya untuk memastikan nilai-nilai tersebut terinternalisasi. PKJ diharapkan merangsang budaya pikir dengan menanamkan idiom-idiom kearifan lokal, seperti Aja Dumeh, Urip Iku Urup, sebagai panduan hidup di ruang-ruang strategis.

Selain itu, PKJ juga menanamkan budaya tindak berupa melakukan aktivitas nyata seperti permainan tradisional (dhakon, egrang, gobag sodhor), latihan karawitan, membaca geguritan, hingga pembiasaan kerja bakti dan gotong royong. PKJ juga mendorong terbentuknya budaya material yakni mengenalkan produk budaya seperti batik khas Yogyakarta (Sidomukti, Sidaluhur), busana Jawa yang jangkep dan pakem, serta makanan tradisional sebagai identitas bangsa.

“Pembentukan karakter tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui proses panjang habituasi atau pembiasaan.

Sekolah wajib mengimplementasikan PKJ dengan pendekatan trans-disipliner, di mana nilai-nilai Yogya disisipkan dalam setiap mata pelajaran, serta memberikan teladan nyata melalui perilaku kepala sekolah, guru, dan pegawai. Demikian orang tua berperan sebagai contoh utama karena anak lebih mudah meniru tindakan orang tuanya. Orang tua diharapkan menanamkan sikap rendah hati dan tanggung jawab sejak dini di lingkungan keluarga,” kata Ketua Dewan Pendidikan DIY Sutrisna Wibawa.

Dengan memahami dan mengamalkan Pendidikan Khas Kejogjaan, lanjut Sutrisna, diharapkan generasi muda Yogyakarta tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang sumarah (berserah diri pada Tuhan), sumeleh (tenang dan tenteram), serta senantiasa karyenak tyasing sasama (menyenangkan hati sesama).

Sutrisna mengatakan, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta segera menerapkan PKJ di seluruh sekolah pada tahun ajaran baru 2026-2027, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. PKJ telah dimulai sejak 2024 di beberapa sekolah sebagai uji coba mengikuti bimbingan teknis. Hasil uji coba penilaian skala sikap pada 10 sekolah SMA dan SMK dengan responden tiga ratus murid, didapatkan hasil rerata keseluruhan (filosofi, nilai utama, dan atmosfer PKJ) sebesar 4,1 dari rentang nilai 1-5.

Hasil ini menunjukkan nilai sikap karakter PKJ sangat baik, yang berarti keberhasilan penanaman nilai karakter budaya Jogja di kalangan para murid di DIY, yang berimplikasi perlunya PKJ dilaksanakan secara menyeluruh di DIY.

“Artinya ini sudah bagus. Karena itu kami pun merasa sekolah lain perlu untuk melaksanakannya juga,” ujarnya.

Meski menyandang istilah pendidikan, PKJ bukanlah mata pelajaran baru. Keilmuan itu disisipkan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, seperti Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, IPS, maupun pendidikan agama.

Sutrisna mencontohkan, dalam pendidikan agama, filosofi ‘Sangkan Paraning Dumadi’ yang mengajarkan asal usul dan tujuan manusia diciptakan dapat disisipkan, sementara pelajaran Bahasa Indonesia atau IPS dapat disisipi wacana-wacana khas Yogyakarta. Untuk tingkat perguruan tinggi, PKJ dapat diberikan sejak pengenalan kampus sebagaimana telah mulai dilaksanakan beberapa perguruan tinggi di DIY.

Dewan Pendidikan DIY juga telah menyusun Buku Panduan PKJ Pendidikan Dasar yang diterbitkan 2023. Buku ini menjadi pedoman bagi sekolah selama pelaksanaan uji coba sejak 2024.

Baca juga: Museum Benteng Vredeburg, Tempat Belajar Sejarah yang Menarik di Yogyakarta

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memberikan sambutan pengantar dalam buku panduan PKJ tersebut mengutarakan, Pendidikan Khas Kejogjaan merupakan permata yang melengkapi cemerlangnya pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Diselaraskan dengan substansi kurikulum nasional, pendidikan di DIY memperoleh dimensi tambahan yang memupuk keutamaan dan bijaknya kepribadian.

Sultan berpesan, bahwa setiap jiwa yang merasakan sentuhan pendidikan di Yogyakarta, mampu mengemban nilai-nilai ini, dengan penuh penghayatan dan keterlibatan.

“Kita tidak mungkin mengisolasi diri, dari arus modernisasi dan perubahan budaya yang tak terelakkan. Namun saya optimis, pengamalan PKJ, bisa menjadi modal sosial untuk menghadapinya. Meredam pengaruh perilaku negatif, dan memancarkan cahaya keutamaan,” kata Sultan.

 

Exit mobile version