JNEWS – Seekor bayi monyet makaka Jepang bernama Punch yang lahir pada Juli 2025 di Ichikawa City Zoo, Chiba, Jepang, menarik perhatian warganet sedunia.
Pada hari-hari pertama setelah lahir, pengelola kebun binatang menyadari ada yang aneh. Induk Punch tidak menggendong ataupun merawatnya. Padahal dalam kondisi normal, bayi makaka akan terus menempel di tubuh induknya selama beberapa minggu pertama. Karena hal itu tidak terjadi, staf kebun binatang harus turun tangan agar Punch tetap bisa bertahan.
Perawatan bayi makaka tanpa induk jelas butuh perhatian ekstra. Sebagai ganti sosok ibunya, pengasuh memberi Punch sebuah boneka orangutan besar. Foto dan video Punch yang memeluk boneka kemudian menyebar di internet. Banyak orang tertarik melihat bagaimana seekor bayi makaka tumbuh dalam situasi yang tidak biasa.
Kisah Punch membuka pintu untuk mengenal lebih jauh kehidupan monyet makaka Jepang—primata yang hidup berkelompok, punya struktur sosial yang kuat, dan dikenal mampu beradaptasi dengan lingkungan yang keras.
Mengenal Monyet Makaka Jepang, Si Snow Monkey Berwajah Kemerahan
Japanese macaque alias monyet makaka Jepang adalah primata yang hidup alami di Jepang. Spesies ini sering disebut juga sebagai snow monkey karena mampu bertahan di wilayah yang bersalju pada musim dingin.
Wilayah penyebarannya cukup luas, mulai dari Pulau Honshu hingga bagian utara Kyushu. Mereka banyak ditemukan di hutan pegunungan, lembah sungai, dan area berhutan yang suhunya bisa turun cukup rendah pada musim dingin. Dibanding banyak primata lain, monyet makaka Jepang dikenal sebagai salah satu yang hidup paling jauh di wilayah utara.
Berikut adalah beberapa karakter makaka Jepang yang menarik untuk digali lebih jauh.
1. Ciri Fisik
Secara fisik, monyet makaka Jepang mudah dikenali dari wajahnya yang kemerahan dan bulu tubuh yang tebal. Lapisan bulu ini membantu menjaga suhu tubuh. Ketika udara menjadi semakin dingin, bulu makaka akan tumbuh lebih tebal lagi.
Panjang tubuh makaka umumnya sekitar setengah meter, dengan ekor yang relatif pendek. Beratnya bervariasi, dengan jantan dewasa umumnya berukuran lebih besar daripada betina. Saat bergerak di tanah, mereka terlihat kokoh dan cukup gesit, terutama ketika memanjat atau berpindah di lereng hutan.
2. Makanan
Makanan makaka Jepang cukup beragam karena mereka termasuk hewan omnivora. Di alam liar, mereka memakan buah, biji, daun muda, serta akar tanaman. Pada musim tertentu, mereka juga memakan serangga atau hewan kecil.
Pola makan ini membuat mereka bisa bertahan di berbagai kondisi lingkungan. Ketika makanan sulit ditemukan pada musim dingin, mereka akan mencari bagian tanaman yang masih tersedia, seperti kulit pohon atau tunas.

3. Kemampuan Beradaptasi
Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu alasan monyet makaka Jepang menarik perhatian peneliti. Mereka mampu menyesuaikan perilaku dengan lingkungan yang berubah, termasuk kondisi cuaca yang ekstrem.
Bahkan di beberapa daerah, diketahui ada sekelompok makaka yang suka memanfaatkan sumber air panas alami untuk menghangatkan tubuh saat musim dingin. Perilaku seperti ini menunjukkan bahwa makaka Jepang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cukup fleksibel dalam menyesuaikan kebiasaan hidupnya.
Baca juga: Ichikawa City Zoo: Kebun Binatang di Chiba yang Mendadak Viral karena Punch
Kehidupan Sosial Monyet Makaka Jepang
Japanese macaque hidup dalam kelompok yang disebut troop. Satu kelompok umumnya terdiri dari puluhan individu dengan usia yang berbeda, mulai dari bayi hingga dewasa. Mereka bergerak bersama saat mencari makanan, berpindah tempat, atau beristirahat. Hubungan antaranggota kelompok cukup dekat karena mereka menghabiskan hampir seluruh aktivitas harian di lingkungan yang sama.
Di dalam kelompok terdapat susunan sosial yang cukup jelas. Beberapa individu memiliki posisi lebih tinggi dibanding yang lain. Posisi ini memengaruhi banyak hal, misalnya urutan saat mengakses makanan atau tempat beristirahat. Makaka dengan status lebih tinggi biasanya mendapatkan akses lebih dulu, sementara yang lain menunggu giliran. Pola seperti ini membantu menjaga ketertiban di dalam kelompok yang jumlah anggotanya cukup banyak.
Interaksi sosial monyet makaka Jepang tidak hanya terlihat saat mereka makan atau berpindah tempat. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan adalah grooming, yaitu saling membersihkan bulu. Aktivitas ini punya peran penting dalam hubungan sosial mereka. Ketika dua makaka duduk berdekatan dan saling merapikan bulu, itu menandakan adanya hubungan yang cukup dekat. Kegiatan ini dapat memperkuat ikatan antaranggota kelompok.
Hubungan antara induk dan anak juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial monyet makaka Jepang. Bayi makaka biasanya terus menempel pada tubuh induknya selama beberapa bulan pertama. Induk akan membawa anaknya saat bergerak, melindunginya dari ancaman, dan mengajarinya mengenali lingkungan sekitar.
Seiring waktu, bayi mulai lebih sering bermain dengan makaka lain yang seusia. Dari kegiatan bermain ini, mereka belajar berinteraksi dan memahami aturan sosial di dalam kelompok.
Situasi seperti yang dialami Punch cukup jarang terjadi dalam kehidupan makaka. Tanpa induk yang merawat sejak awal, proses belajar bersosialisasi Punch pun menjadi lebih lambat.
Punch dan Harapan Baru

Perjalanan Punch untuk masuk ke dalam kelompok makaka lain di Ichikawa City Zoo tidak langsung berjalan mulus. Sejak awal, ia sudah berada dalam posisi yang berbeda dari bayi makaka pada umumnya.
Beberapa makaka dewasa memperlakukannya sebagai pendatang yang belum dikenal. Mereka mendekat dengan sikap agresif, mengusirnya dari area tertentu, bahkan kadang mengejar dan menyerang Punch ketika ia terlalu dekat.
Situasi seperti ini sebenarnya bukan hal aneh dalam kehidupan makaka. Kelompok mereka memiliki struktur sosial yang ketat, dan individu baru harus melewati masa penyesuaian sebelum benar-benar diterima. Bagi Punch yang sejak awal tidak tumbuh di dalam kelompok, proses ini menjadi jauh lebih berat.
Di tengah situasi tersebut, Punch sering kembali ke boneka orangutan yang diberikan pengasuhnya. Boneka itu menjadi benda yang selalu ia peluk ketika tidak ada makaka lain di dekatnya.
Pemandangan ini kemudian menyebar luas melalui foto dan video yang diambil pengunjung kebun binatang. Seekor bayi makaka yang duduk sendirian sambil memeluk boneka besar menjadi gambar yang sulit dilupakan. Cerita tentang Punch pun dengan segera menyebar ke berbagai negara.
Meski sering kali di-bully, Punch terus dipantau oleh pengasuh kebun binatang. Interaksinya dengan kelompok diperhatikan dari waktu ke waktu. Akhir-akhir ini sudah terlihat, Punch mulai belajar membaca perilaku makaka lain, memahami jarak aman, dan mencari celah untuk mendekat tanpa memicu agresi. Proses seperti ini memang bisa berlangsung lama, tetapi merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial makaka.
Baca juga: Mengenal Orangutan Kalimantan, Jenis Spesies, Habitat, hingga Perilakunya yang Unik
Kisah Punch memperlihatkan sisi lain dari kehidupan primata yang jarang diperhatikan orang. Kehidupan kelompok mereka tidak selalu tenang. Ada aturan tidak tertulis yang harus dipelajari oleh setiap individu yang ingin bertahan di dalamnya.
Perjalanan Punch memberi gambaran kecil tentang betapa rumitnya dinamika sosial monyet makaka Jepang—yang kalau dipikir-pikir ternyata tidak jauh berbeda dari kehidupan kita sendiri.











