JNEWS – Keris, senjata tajam tradisional Nusantara merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai filosofi. Di zaman dahulu, senjata ini dipakai untuk pertahanan diri dalam perang, benda pusaka, dan pelengkap sajen. Sebagai warisan budaya, ada Museum Keris Solo yang menyimpan beragam bentuk senjata ini dari masa ke masa.
Di zaman modern sekarang ini, keris masih terus dibuat oleh pengrajin dengan cara tradisional. Namun, fungsinya sudah bergeser menjadi aksesori busana adat, benda koleksi, dan simbol kecerdikan.
Menilik Sejarah Museum Keris Solo

Dari berbagai catatan sejarah, keris disebut berasal dari Pulau Jawa. Bentuknya sangat unik berbeda dengan belati atau pisau. Keris memiliki ujung lancip dan tajam, tidak simetris karena pada umumnya bilahnya berkelok-kelok dan mempunyai serat lapisan logam cerah di helai bilah.
Pada sebuah keris umumnya memiliki tiga bagian yakni bilah, hulu (gagang), dan warangka (sarung). Keris dibuat dengan tahapan proses ditempa, menggunakan teknik khusus, dan diukir dengan teliti yang tiap bagian mempunyai arti seni tersendiri.
Menjadi benda yang sakral bagi sebagian orang dan memiliki peran sebagai senjata di masa perang, keris menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan. Inilah yang kemudian menjadi landasan pembangunan Museum Keris Nusantara atau biasa disebut Museum Keris Solo.
Dikutip dari website UPT Museum Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, museum ini dibangun atas gagasan dari Presiden Jokowi saat menjabat sebagai Walikota Solo. Pak Jokowi ingin ada museum keris dan wayang sebagai bentuk pelestarian terhadap budaya Nusantara. Pembangunan Museum Keris Nusantara juga merupakan tindak lanjut dari diakuinya keris Indonesia oleh Organization of Education Science and Culture (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia.
Museum yang berada di Jalan Bhayangkara No. 2, Sriwedari, Kecamatan Laweyan ini sudah ada dari tahun 2013 tapi baru diresmikan pada 9 Agustus 2017 sekaligus dibuka untuk umum.
Bangunan Museum Keris Nusantara mengadopsi gaya arsitektur Candi Sukuh dan dikemas dengan gaya kontemporer. Desainnya berbentuk trapesium, mempunyai 4 lantai, dan dibangun menghadap barat laut. Di setiap lantai memiliki nama berbeda-beda dan berisikan beragam koleksi serta informasi terkait keris.
Baca juga: Beda Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran dari Sejarah hingga Peranannya Saat Ini
Museum Keris Solo: Ragam Koleksi dan Nilai Budaya di Tiap Lantai
Museum Keris Solo sangat kental dengan budaya Jawa. Di bagian depan, pengunjung akan disambut dengan patung buto ijo sebagai penjaga pintu masuk. Ornamen di berbagai sudut ruangan hingga ucapan selamat datang menggunakan bahasa Sanskerta.
Melangkah kaki ke bagian dalam museum, pengunjung akan mendengar irama gending Jawa yang membuat ruangan terasa magis. Sepanjang mata memandang ke seluruh ruangan, ada banyak koleksi keris yang dipajang di dalam kotak kaca.
Koleksi
Awal berdirinya Museum Keris Solo, koleksinya sebanyak 346 keris. Tapi, yang dipajang untuk dipamerkan hanya 240. Keris-keris tersebut berasal dari hibahan masyarakat, dari kementerian termasuk koleksi dari Pak Jokowi yang bernama Keris Kiai Tenggara dan pengusaha ternama, Wiwoho Basuki.
Adapun keris yang ada di Museum Keris Nusantara berasal dari Jawa Tengah, Riau, Bali, Sulawesi hingga Filipina. Tak hanya keris saja, museum ini pun mempunyai koleksi senjata tombak.
Saat ini, jumlah koleksi yang ada di museum ini sekitar 409 keris dengan berbagai ukuran dan jenis. Bahkan dari koleksi keris tersebut ada yang sudah berusia ratusan tahun dan ada juga keris baru. Untuk tombak, ada sekitar 38 koleksi dan juga benda pusaka lainnya.
Memang tidak semua keris dipamerkan, sisanya disimpan oleh pengelola dan akan dipajang secara bergiliran setiap bulan.
Nilai Budaya di Setiap Lantai Museum
Hal yang menarik dari Museum Keris Nusantara adalah bangunannya yang terdiri dari empat lantai. Sedikit berbeda dari museum lainnya yang umumnya hanya satu lantai saja.
Setiap lantai di museum ini memiliki nilai budaya dan menyajikan informasi menarik tentang warisan budaya Nusantara seperti keris hingga candi. Berikut ini ulasannya.
Lantai 1 – Wedharing Wacana
Lantai ini merupakan area penyambutan, berfungsi sebagai pintu utama. Di lantai ini juga terdapat loket tiket dan ruang informasi.
Selain itu, di lantai wedharing wacana ini ada gambar senjata tradisional dari berbagai penjuru dunia dan tipe pamor keris yang beragam. Pengunjung pun akan diajak menyaksikan proses pembuatan keris di ruang audio visual.
Lantai 2 – Purwaning Wacana
Di lantai ini ada ruang pamer utama yang menampilkan ragam koleksi keris dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu pengunjung juga bisa melihat perkembangan keris di era modern, dan mengenal perabot keris.
Menariknya, di lantai ini juga ada perpustakaan yang menyimpan berbagai catatan sejarah melalui naskah dan buku-buku. Lalu ada ruang restorasi keris, area bermain edukatif anak-anak serta informasi detail tentang anatomi keris.
Lantai 3 – Cipta Adiluhung
Lantai cipta adiluhung menampilkan diorama terkait proses pembuatan keris dari masa lampau, cara membuat keris yang benar dan cara penggunaan keris di busana Jawa. Ada juga gambaran suasana di sekitar Candi Sukuh dan Candi Borobudur.
Di lantai ini juga pengunjung bisa melihat representasi ritual dan sesaji dalam pembuatan keris yang menekankan makna spiritual serta filosofis dari benda pusaka tersebut.
Lantai 4 – Esthining Lampah
Di puncak Museum Keris Solo difungsikan sebagai ruang penyimpanan koleksi sekaligus area pameran khusus yang memajang keris-keris tertentu di momen tertentu juga. Di lantai ini, pengunjung bisa menikmati hasil karya leluhur yang menjadi saksi sejarah kemajuan teknologi dan budaya Nusantara di masa lampau.
Lantai esthining lampah ini juga menjadi ruang pendukung bagi kegiatan penelitian maupun kuratorial. Hal menarik di lantai ini adalah adanya keris yang berusia 200 tahun.
Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Museum Keris Solo
Museum Keris Solo terletak di pusat kota, jadi tidak sulit untuk menemukannya. Bahkan untuk menuju salah satu mal di kawasan Slamet Riyadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Khusus di hari Minggu, bisa gabung di car free day Slamet Riyadi terlebih dahulu lalu lanjut mengunjungi museum.
Bagi yang ingin mengunjungi museum ini, berikut jadwal operasionalnya:
- Selasa, Rabu, Kamis: 09.00-16.00 WIB
- Jumat: 09.00-16.00 WIB (tutup sementara saat salat Jumat 11.30-12.30 WIB dan dibuka kembali pukul 12.30 WIB)
- Sabtu: 09.00-16.00 WIB
- Minggu: 09.00-16.00 WIB
- Senin: Libur
Untuk harga tiketnya sangat terjangkau dan ada sedikit perbedaan di hari biasa dan libur, berikut rinciannya:
Hari Libur
- Umum – Rp10.000
- Pelajar – Rp7.500
- Pelajar pemegang KIA – Rp5.000
- Rombongan umum paling sedikit 50 orang – Rp7.500/orang
- Rombongan pelajar paling sedikit 50 orang – Rp5.000/orang
- Wisatawan asing – Rp20.000
Hari Biasa
- Umum – Rp7.500
- Pelajar – Rp5.000
- Pelajar pemegang KIA – Rp4.000
- Rombongan umum paling sedikit 50 orang – Rp5.000/orang
- Rombongan pelajar paling sedikit 50 orang – Rp4.000/orang
- Wisatawan asing – Rp15.000
Baca juga: Mengunjungi Tempat Wisata Astronomi Terkenal di Indonesia
Keris tak sekadar senjata saja tapi menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara. Hadirnya Museum Keris Solo menjadi cerminan perjalanan panjang peradaban budaya bangsa Indonesia serta bagaimana senjata khas Nusantara ini menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat.