Mengenal Lebih Dekat Nasi Bekepor dari Kalimantan Timur

JNEWS – Nasi bekepor adalah hidangan khas Kutai, Kalimantan Timur, yang dikenal dengan rasa gurih dan rempah yang cukup kuat. Nasinya beraroma harum dan terasa lebih “berisi” dibanding nasi putih biasa.

Dulu, makanan ini identik dengan lingkungan kerajaan Kutai, dan kerap muncul dalam acara adat. Namun sekarang, juga bisa ditemui di beberapa rumah makan khas Kalimantan.

Asal Usul Nasi Bekepor Khas Kalimantan Timur

Mengenal Lebih Dekat Nasi Bekepor dari Kalimantan Timur
Sumber: website Wonderful Indonesia

Nasi bekepor lahir dari lingkungan Sungai Mahakam yang kaya bahan pangan. Di wilayah ini, sayur seperti kangkung, talas, dan terong asam mudah ditemukan, begitu juga rempah yang kuat aromanya.

Kombinasi bahan itu membentuk karakter rasa khas Kutai, yakni asam, pedas, dan gurih dalam satu hidangan. Proses memasaknya cukup panjang dan butuh ketelatenan, sehingga dulu hanya disiapkan di dapur kerajaan. Karena itu, nasi bekepor dikenal bukan sebagai makanan harian.

Dalam catatan sejarah, nasi bekepor punya peran penting juga. Hidangan ini ikut hadir dalam penyebaran ajaran Islam di Kutai, seiring perubahan keyakinan Sultan Kutai Kartanegara. Penyajiannya sering dibarengi nilai-nilai keislaman yang menyatu dengan tradisi setempat.

Nama bekepor sendiri diambil dari bahasa Kutai yang merujuk pada gerakan memutar atau menggoyangkan wadah saat memasak. Teknik ini merupakan bagian inti dari cara membuatnya.

Cara memasak tersebut juga terkait dengan kepercayaan lama. Memutar periuk sambil melantunkan shalawat dan menyebut nama orang yang dirindukan diyakini bisa mempercepat pertemuan.

Baca juga: 7 Kuliner Khas Kalimantan Timur yang Bikin Penasaran

Cara Membuat Nasi Bekepor

Jika ingin membuat sendiri, nasi bekepor bisa dimasak dengan cara yang praktis kok. Kalau cara tradisional, nasi bekepor dimasak memakai kenceng atau kastrol. Versi praktisnya bisa dengan rice cooker. Berikut langkah-langkahnya.

  1. Siapkan bahan utama. Cuci beras hingga bersih (sekitar 3–4 cup). Siapkan juga serai (geprek), daun salam, dan daun pandan sebagai penambah aroma.
  2. Siapkan ikan asin gabus, goreng sampai kering dan agak garing. Setelah itu, tiriskan lalu suwir atau potong kasar.
  3. Masukkan beras ke rice cooker, tambahkan air sesuai takaran seperti memasak nasi biasa. Masukkan juga serai, daun salam, daun pandan, dan garam secukupnya.
  4. Tuang sedikit minyak sayur atau minyak samin agar nasi lebih gurih dan tidak kering.
  5. Nyalakan rice cooker dan masak seperti biasa sampai nasi matang.
  6. Saat nasi matang dan masih panas, masukkan ikan asin yang sudah disuwir. Aduk rata (dikepor) sampai tercampur dengan nasi dan aromanya menyatu.
  7. Masukkan daun kemangi, irisan cabai, dan sedikit perasan jeruk nipis untuk memberi aroma segar.
  8. Tutup kembali rice cooker dan biarkan sekitar 10–15 menit agar bumbu lebih meresap.
  9. Sajikan nasi bekepor hangat.

Untuk penyajiannya, nasi bekepor biasanya ditemani beberapa lauk khas Kutai. Gence ruan jadi pasangan yang paling sering muncul, berupa ikan gabus bakar dengan sambal merah yang disiram di atasnya.

Ada juga sambal raja yang berisi campuran sayur seperti kacang panjang dan terong dengan rasa pedas gurih. Supaya lebih seimbang, ditambahkan sayur gangan asam yang segar.

Nasi biasanya disajikan di atas daun pisang, bukan hanya untuk tampilan, tapi juga memberi aroma khas saat dimakan.

Di Mana Bisa Menemukan Nasi Bekepor di Kalimantan Timur?

Nasi bekepor sebenarnya termasuk hidangan khas yang tidak mudah ditemukan setiap hari. Secara tradisional, makanan ini lebih sering muncul dalam acara adat atau momen khusus saja. Proses memasaknya yang cukup panjang juga membuatnya tidak selalu praktis untuk disajikan di semua tempat.

Meski begitu, saat ini sudah ada beberapa tempat makan di Kalimantan Timur yang menghadirkan nasi bekepor sebagai menu harian.

1. Acil Inun Corner

Acil Inun Corner dikenal sebagai salah satu tempat paling legendaris untuk mencicipi nasi bekepor autentik di Samarinda. Tempat ini sudah lama jadi rujukan karena cita rasanya konsisten, dengan bumbu yang terasa kuat dan tidak berubah dari waktu ke waktu. Nasi bekepor di sini rasanya gurih, berpadu dengan aroma rempah yang cukup terasa sejak pertama disajikan.

Lokasinya berada di Jl. Sungai Kalian No.100, Pelabuhan, Samarinda Kota, cukup mudah dijangkau dari pusat kota. Selain nasi bekepor, pilihan menunya juga lengkap dengan hidangan khas Kutai lain seperti gami dan mandai, jadi tidak terbatas pada satu menu saja. Tempatnya cukup luas dan nyaman.

Hal yang perlu diperhatikan, waktu penyajian bisa cukup lama saat kondisi ramai, bahkan bisa mencapai sekitar 70 menit. Karena itu, lebih aman datang dengan waktu yang longgar agar tidak terburu-buru saat menunggu pesanan.

2. Warung Kutai

Warung Kutai menawarkan pengalaman makan yang lebih santai dengan konsep prasmanan. Pengunjung bisa langsung memilih berbagai lauk khas Kutai yang sudah tersaji, termasuk nasi bekepor jika tersedia.

Lokasinya berada di Jl. Moh. Said, Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang. Tempat ini biasanya ramai di jam sarapan dan makan siang. Pilihan menunya cukup beragam dan ala masakan rumahan.

3. Dapur LAIQA Tenggarong

Dapur LAIQA bisa dibilang salah satu tempat yang menarik kalau ingin mencoba nasi bekepor langsung dari daerah asalnya. Tenggarong memang dikenal sebagai daerah asal hidangan ini dan pusat kuliner Kutai.

Lokasinya ada di Jl. Rangga Yuda Blok C, Mangkurawang, dan sering dianggap sebagai hidden gem oleh warga lokal. Selain nasi bekepor, ada satu menu yang cukup sering direkomendasikan, yaitu ikan jelawat asap. Rasanya khas, dengan aroma asap yang kuat dan tekstur yang tetap lembut saat dimakan. Cocok jadi pendamping nasi bekepor, apalagi kalau ingin mencoba variasi rasa yang masih satu karakter dengan masakan Kutai.

Baca juga: 38 Makanan Tradisional dari 38 Provinsi di Indonesia – Yang Mana Favoritmu?

Nasi bekepor tetap punya tempat tersendiri di tengah banyaknya pilihan kuliner kekinian. Cara memasaknya yang khas, pilihan bahan, sampai cara penyajiannya membuat hidangan ini tidak mudah tergantikan. Dari dapur kerajaan sampai meja makan sehari-hari, jejaknya masih bisa dilihat tanpa banyak perubahan. Rasa dan aromanya tetap dijaga, begitu juga kebiasaan yang mengiringinya.

Exit mobile version