2 Negara Debutan yang Mencuri Perhatian di Piala Dunia 2026

JNEWS – Piala Dunia tidak hanya menghadirkan persaingan tim-tim raksasa, tetapi juga selalu menyimpan cerita dari negara-negara yang datang tanpa banyak ekspektasi.

Berbekal semangat juang, disiplin, dan keberanian menghadapi lawan yang jauh lebih diunggulkan, tim-tim underdog ini sering kali mampu menciptakan kejutan yang membekas di ingatan para pencinta sepak bola.

Dari menahan imbang juara Eropa hingga meraih poin bersejarah di penampilan perdana, kisah-kisah berikut membuktikan bahwa di Piala Dunia, siapa pun bisa menjadi pusat perhatian.

Negara Debutan di Piala Dunia 2026 yang Mencuri Perhatian

Yang pernah tercatat dalam sejarah, Kroasia di Piala Dunia 1998 mencatatkan diri sebagai negara debutan paling sukses. Setelah merdeka dari Yugoslavia pada 1991, Kroasia baru tampil pertama kali di Piala Dunia 1998 di Prancis.

Saat itu, dengan telak, Kroasia lolos sebagai juara grup, menyingkirkan Rumania di 16 besar, mengalahkan Jerman 3-0 di perempat final, dan baru dihentikan tuan rumah Prancis di semifinal. Mereka kemudian mengalahkan Belanda 2-1 untuk merebut peringkat ketiga. Striker Davor Šuker bahkan menjadi top skor turnamen dengan enam gol.

Meski catatan Kroasia masih menjadi tolok ukur keberhasilan tim debutan di Piala Dunia, edisi 2026 juga mulai melahirkan kisah-kisah menarik. Memang perjalanan mereka masih panjang, tetapi performa di fase grup sudah cukup untuk mencuri perhatian. Ada yang sukses menahan tim unggulan, ada pula yang mencetak poin bersejarah dan membuktikan bahwa status debutan bukan berarti hanya menjadi pelengkap turnamen. Berikut negara-negara debutan Piala Dunia 2026 yang berhasil mencuri sorotan.

2 Negara Debutan yang Mencuri Perhatian di Piala Dunia 2026
Sumber: FIFA

1. Tanjung Verde (Cabo Verde)

Tanjung Verde menjadi salah satu kejutan terbesar turnamen. Berstatus debutan, negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat ini justru belum terkalahkan dalam dua laga perdana Grup H dan langsung mendapat label giant killer.

Dengan organisasi permainan yang rapi, disiplin bertahan, serta efektif memanfaatkan peluang, mereka mampu membuat lawan-lawan unggulan frustrasi.

Pada pertandingan pembuka, Tanjung Verde sukses meredam dominasi Spanyol yang menguasai jalannya laga. Sang kiper veteran berusia 40 tahun, Vozinha, menjadi bintang lapangan dengan serangkaian penyelamatan gemilang. Ia menggagalkan total 27 percobaan tembakan, membuat lini serang Spanyol yang biasanya tajam harus puas tanpa gol.

Jika laga pertama menunjukkan kekuatan bertahan mereka, pertandingan melawan Uruguay membuktikan bahwa Tanjung Verde juga berbahaya saat menyerang. Kevin Pina membuka keunggulan lewat tendangan bebas yang dieksekusi dengan presisi, sementara Helio Varela mencetak gol penyeimbang yang memastikan skor 2-2.

Hasil ini menegaskan bahwa mereka bukan sekadar tim yang mengandalkan strategi park the bus, tetapi juga mampu menghukum lawan lewat serangan balik dan bola mati.

Dua hasil tersebut menjadikan Tanjung Verde sebagai salah satu kuda hitam paling menarik di Piala Dunia kali ini. Dengan mental pantang menyerah dan permainan yang rapi, mereka menunjukkan bahwa status debutan bukan penghalang untuk bersaing dengan tim-tim elite dunia.

Baca juga: Fakta Menarik Negara Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko

Sumber: FIFA

2. Curaçao

Curaçao mungkin datang tanpa status unggulan, tetapi negara kepulauan di Karibia ini berhasil menciptakan salah satu kisah paling berkesan di Grup E.

Di bawah arahan pelatih kawakan Dick Advocaat, mereka menunjukkan daya juang tinggi hingga sukses meraih poin perdana sepanjang sejarah penampilan mereka di Piala Dunia.

Setelah dihajar Jerman dengan skor 1-7 pada laga pembuka, banyak yang memperkirakan Curaçao akan kembali menjadi bulan-bulanan. Namun, prediksi itu terpatahkan saat mereka mampu menahan Ekuador tanpa gol. Penjaga gawang veteran Eloy Room menjadi pahlawan dengan serangkaian penyelamatan penting yang membuat gawangnya tetap bersih dari gol.

Yang paling menarik justru terjadi setelah peluit akhir berbunyi. Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Máxima turun langsung ke ruang ganti untuk merayakan hasil bersejarah tersebut bersama para pemain dan staf pelatih. Mereka ikut berjoget, bernyanyi, dan larut dalam euforia yang kemudian viral di media sosial. Kehadiran kepala negara dalam suasana selebrasi yang begitu santai menjadi pemandangan langka di ajang sepak bola dunia.

Bagi Curaçao, satu poin itu mungkin terlihat sekadar angka di atas kertas. Namun, bagi negara berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa tersebut, hasil imbang melawan Ekuador menjadi tonggak sejarah sekaligus bukti bahwa tim kecil pun mampu mencuri sorotan di panggung terbesar sepak bola dunia.

Baca juga: Piala Dunia 2026: Apa Saja yang Berbeda Dibanding Edisi Sebelumnya?

Kisah Tanjung Verde dan Curaçao menjadi pengingat bahwa Piala Dunia selalu menyisakan ruang bagi kejutan. Di tengah dominasi tim-tim besar, mereka membuktikan bahwa disiplin, kerja sama, dan mental pantang menyerah mampu menghasilkan cerita yang tak kalah menarik.

Entah mampu melaju jauh atau tidak, penampilan mereka sudah menambah warna sekaligus menghadirkan babak baru dalam sejarah Piala Dunia. Kita nantikan saja.

Exit mobile version