JNEWS – Membangun usaha kuliner, foto produk wajib dimiliki karena bisa menjadi medium branding sekaligus marketing. Tidak mesti memiliki skill mumpuni ala fotografer profesional untuk bisa memotret foto makanan aesthetic, tapi dengan pemahaman dasar fotografi dan berbekal smartphone, pemilik usaha bisa menghasilkan foto produk yang menarik.
Ada ungkapan terkenal yakni “a picture is worth thousand words”. Ungkapan tersebut berarti bahwa sebuah gambar atau foto bisa mengantarkan emosi, cerita bahkan ide daripada deskripsi yang panjang. Jadi, bisa dipahami bahwa kekuatan visual melalui foto bisa menyampaikan pesan dan meninggalkan kesan bagi yang melihatnya.
Panduan Memotret Foto Makanan Aesthetic, Produknya Level Up!
Foto merupakan media visual yang mampu membuat siapa saja tertarik untuk mengetahui apa yang ada di dalam foto tersebut. Bagi pemilik usaha, foto memegang peranan penting dalam memberikan informasi terkait produk yang dijual.
Bayangkan kalau produk kuliner tidak memiliki foto produk? Lantas, dari mana calon pembeli tahu bentuk makanan atau minuman yang akan dijual? Tentu saja hal ini akan berpengaruh pada keputusan akhir calon pembeli, dan bisa saja mengurungkan niat untuk membeli produk yang dijual.
Inilah mengapa, seorang pemilik usaha wajib mempelajari teknik memotret foto makanan aesthetic agar bisa menekan biaya sewa jasa fotografer dan tidak perlu mencomot foto di Google seolah representasi produknya.
Berikut ini panduan praktis memotret foto makanan aesthetic yang mudah dilakukan oleh pemula dan hanya berbekal smartphone saja.

1. Kenali Gear yang Akan Digunakan
Harus diakui, smartphone sekarang ini sudah dilengkapi fitur kamera yang canggih bahkan bidikannya mendekati level DSLR. Maka, manfaatkan smartphone sebagai awal mula untuk belajar foto produk.
Umumnya di smartphone sekarang ini ada beragam settingan yang harus dipahami. Beberapa fitur yang sering muncul di kamera smartphone antara lain:
- Eksposur yang berfungsi mengontrol terang dan gelapnya gambar yang akan diambil. Menambah eksposur akan membuat foto menjadi lebih terang dan sebaliknya.
- ISO, tidak semua smartphone ada fitur ini, tapi apabila ada harus dipahami bahwa menaikkan nilai ISO akan memungkinkan memotret di kondisi redup tapi risikonya akan muncul noise (bintik).
- Aperture berfungsi mengatur intensitas cahaya yang mencapai sensor. Untuk aperture ditandai dengan simbol f. Semakin kecil angka f (misalnya f/1.8) berarti bukaannya semakin lebar, yang memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk dan latar belakangnya akan tampak bokeh. Sebaliknya, apabila angkanya besar akan membatasi cahaya dan membuat fotonya lebih tajam.
Tiga fitur kamera tersebut sering disebut segitiga eksposure. Dengan memahaminya, akan membantu menghasilkan foto yang jernih dan tajam.
2. Aktifkan Garis Rule of Thirds
Dikutip dari Digital Photography School, rule of thirds adalah teknik komposisi yang membagi gambar menjadi tiga bagian (baik secara horizontal ataupun vertikal). Rule of Thirds (ROT) merupakan prinsip dasar fotografi yang wajib dipahami dan bisa membantu pengambilan gambar yang terbaik sehingga menghasilkan karya seni visual memukau.
Bagi pemula, dengan bantuan garis-garis ROT akan sangat membantu menempatkan objek utama (makanan atau minuman) untuk mendapatkan komposisi yang tepat.
Misalnya, produk yang dijual adalah rice box, dengan menempatkannya di kotak tengah, atau di persilangan garis di kiri atau kanan depan, akan membuat mata yang melihatnya langsung on point. Dengan ROT juga, penempatan properti pendukung bisa diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu objek utama.
Mengaktifkan garis ROT ini di smartphone melalui setting – kamera – aktifkan grid. Cukup dengan langkah sederhana, garis tersebut akan muncul dan bisa langsung praktik.
3. Pencahayaan yang Tepat
Pencahayaan yang tepat adalah kunci agar foto makanan aesthetic lebih jernih, tajam dan visual lebih menarik. Namun, tidak perlu khawatir bagi pebisnis UMKM kuliner yang memikirkan harus membeli seperangkat softbox profesional, karena memanfaatkan cahaya alami merupakan solusi hemat bujet terbaik.
Aktivitas memotret dapat dilakukan di ruangan yang banyak terkena sinar matahari. Biasanya ruangan depan di samping pintu atau jendela adalah tempat terbaik untuk memotret. Usahakan memotret di pagi atau siang hari, karena di jam-jam tersebut sinar mataharinya melimpah. Tapi, apabila rumahnya menghadap barat, bisa memotret siang menjelang sore.
Tip memotret dengan cahaya alami yaitu apabila sinar mataharinya ‘jatuh’ terlalu keras, bisa gunakan diffuser agar cahayanya lebih ‘lembut’ dan bisa mengurangi bayangan tajam. Satu lagi, hindari memotret di bawah lampu karena akan menimbulkan bayangan yang cukup mengganggu.
4. Angle Foto
Selain mempelajari komposisi, penting juga mengenal sudut pengambilan foto (angle) agar bisa menghasilkan foto makanan aesthetic. Sudut pengambilan ini bisa mengubah cara orang melihat objek yang difoto.
Ada empat angle foto yang populer dalam food photography yaitu:
- Flat lay: angle foto ini cocok untuk foto yang menggunakan banyak elemen. Contohnya pizza, sushi, camilan platter.
- 45 derajat: teknik pengambilan gambar ini menempatkan kamera di antara posisi depan dan samping objek. Angle 45 derajat akan memberikan hasil visual yang dinamis, berdimensi dan seimbang. Sudut foto ini sangat populer digunakan dalam food photography.
- Eye level: sudut foto ini sejajar dengan mata memandang. Biasanya foto minuman sering menggunakan angle ini.
- Close up: teknik pengambilan foto ini ideal untuk menonjolkan detail tekstur, misalnya lapisan kue atau lelehan keju mozarella.
Setiap sudut foto akan memberikan kesan dan cerita yang berbeda. Jadi, terus bereksplorasi untuk menemukan angle foto yang tepat untuk produknya.
5. Konsep Food Styling
Para food photographer sering membuat konsep food styling terlebih dahulu sebelum mulai memotret. Adanya konsep ini akan sangat membantu menyiapkan properti apa saja yang akan digunakan. Mulai dari background, tempat foto, props pendukung seperti serbet, piring, cangkir atau kondimen dari kuliner tersebut.
Barangkali ada yang masih bingung mau ditata seperti apa produk makanan dan minumannya, ada satu cara yang sering digunakan yaitu melihat referensi foto food photographer di Instagram atau Pinterest. Biasanya dengan memerhatikan foto yang sudah ada, akan muncul ide untuk memotret.
Food styling juga bisa menentukan gradasi warna apa saja yang akan digunakan. Dengan memilih warna yang tepat mengacu pada warna produk, tampilan visual akan lebih menarik dan enak dipandang mata.
6. Menggunakan Tripod
Tripod sangat membantu dalam memotret, apalagi ingin mengambil gambar yang banyak dari satu produk. Menggunakan tripod, posisi objek tidak akan bergeser karena cukup menyesuaikan sudut pengambilan foto saja.
Selain itu, dengan bantuan tripod, kita tidak akan terlalu capek bolak-balik menata objek dan mengambil sudut foto. Karena sekarang ini tripod pun sudah dilengkapi dengan bluetooth yang langsung terkoneksi dengan smartphone, jadi cukup tekan tombol shutter, kamera akan langsung menyala dan memotret.
Baca juga: Panduan Memilih Tripod HP Terbaik untuk Fotografi dan Videografi
7. Matikan Flash
Menggunakan flash bawaan smartphone biasanya akan menghasilkan foto makanan yang over exposure dan tidak alami. Flash terbukti mampu menghilangkan detail tekstur produk dan menciptakan bayangan yang tidak natural.
Apabila memerlukan tambahan cahaya, bisa menggunakan lampu belajar misalnya yang disorot ke arah permukaan lain, bisa juga menambahkan reflektor untuk menghasilkan pencahayaan yang merata dan lebih lembut.
8. Editing
Foto makanan aesthetic juga butuh sentuhan aplikasi editing. Karena terkadang, ada bagian foto yang kurang terang atau ‘bocor’, jadi bisa diperbaiki dengan menggunakan aplikasi editing.
Namun, perlu dicatat, bahwa dalam mengedit foto, cukup yang dasar-dasarnya saja seperti crop foto, brightness, saturasi, ketajaman, detail. Kalau editingnya terlalu berlebih, justru akan membuat visual foto menjadi tidak menarik.
Salah satu aplikasi editing foto yang ramah bagi pemula adalah Snapseed. Fitur-fitur di aplikasi ini tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Selain itu, bagi yang ingin menambahkan tulisan di foto, bisa menggunakan aplikasi Phonto.
9. Konsisten
Menghasilkan foto makanan aesthetic butuh konsistensi. Tidak sekali atau dua kali langsung mendapatkan foto yang menarik, tapi butuh berkali-kali pengulangan untuk memperoleh foto yang diinginkan. Jadi, tetap semangat ya.
Baca juga: Menguasai Teknik Foto Close Up untuk Hasil Maksimal
Foto makanan dan minuman bagi usaha kuliner adalah faktor penting untuk membuat calon konsumen tertarik membeli. Dengan panduan foto makanan aesthetic di atas, pemilik usaha bisa memiliki foto makanan hasil jepretan sendiri bukan hasil mencomot dari Google.