JNEWS – Enaknya jualan online itu kita bisa melakukannya tanpa harus menyewa toko atau menyiapkan tempat usaha fisik secara khusus. Produk bisa dipajang secara digital, lalu calon pembeli menemukannya melalui pencarian, rekomendasi, promosi, atau konten. Salah satu keputusan awal yang perlu dipikirkan adalah memilih platform e-commerce untuk menampung aktivitas jualan.
Pilihan platform cukup beragam. Ada marketplace dengan basis pengguna besar, ada yang kuat di kategori tertentu, dan ada pula ekosistem yang menggabungkan marketplace dengan media sosial.
Bagi pemula, memilih tempat jualan pertama bisa membingungkan karena setiap platform punya fitur, biaya, dan karakter pengguna masing-masing.
Pilih Platform E-Commerce Berdasarkan Cara Jualan

Setiap toko online punya karakteristik yang berbeda, tergantung produk yang dijual dan calon pembelinya. Produk fashion, misalnya, akan lebih terbantu oleh fitur yang mendukung foto, video, dan live shopping. Sementara itu, toko yang menjual kebutuhan sehari-hari mungkin lebih membutuhkan katalog yang rapi dan proses pesanan yang praktis.
Karena itu, pemilihan platform e-commerce sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan toko. Setelah menentukan karakter platform yang dicari, perhatikan pula biaya transaksi, fitur promosi, sistem pembayaran, serta kemudahan mengelola pesanan. Berikut beberapa platform e-commerce yang bisa dipertimbangkan, termasuk untuk pemula.
1. Shopee
Shopee bisa jadi salah satu pilihan untuk pemula yang ingin mulai berjualan melalui marketplace. Kategori produknya luas, mulai dari pakaian, makanan, kosmetik, perlengkapan rumah, aksesori, sampai elektronik.
Pengelolaan toko dilakukan melalui satu sistem. Produk bisa diunggah ke katalog, stok diperbarui, pesanan diproses, dan komunikasi dengan pembeli dilakukan melalui fitur yang tersedia.
Shopee juga memiliki berbagai program promosi yang bisa dimanfaatkan penjual. Ada voucher, diskon, program gratis ongkir sesuai ketentuan, iklan, sampai fitur live shopping. Bagi toko baru, fitur semacam ini bisa membantu mengenalkan produk kepada calon pembeli.
Namun, persaingan di marketplace juga cukup ramai. Produk sejenis dapat muncul dari banyak toko sekaligus. Karena itu, foto produk wajib dibuat dengan baik. Judul harus mudah dipahami, deskripsi harus lengkap, harga perlu dihitung dengan cermat, dan stok harus selalu diperbarui.
Baca juga: Trik Bikin Tampilan Toko Online Kamu Terlihat Menarik di Aplikasi Marketplace
2. Tokopedia – TikTok Shop
Tokopedia dan TikTok Shop kini berada dalam satu ekosistem setelah adanya kemitraan antara GoTo dan TikTok. Bagi penjual, integrasi ini membuka peluang untuk memanfaatkan aktivitas belanja sekaligus promosi melalui konten.
Tokopedia dapat digunakan sebagai marketplace untuk menampilkan katalog dan menerima pesanan. Sementara itu, TikTok menyediakan ruang untuk memperkenalkan produk melalui video pendek dan sesi live. Platform e-commerce dalam ekosistem seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat memasang katalog. Konten juga dapat menjadi pintu masuk bagi calon pembeli.
Model seperti ini cocok untuk produk yang mudah ditampilkan secara visual. Pakaian, aksesori, kosmetik, makanan, perlengkapan rumah, dan berbagai produk lifestyle dapat dipromosikan melalui video demonstrasi atau konten penggunaan.
Namun, strategi tersebut membutuhkan kemampuan membuat materi promosi. Foto katalog tetap diperlukan, tetapi video dapat menjadi bagian penting untuk menarik perhatian audiens.
Bagi pemula, bisa dimulai dengan konsep yang simpel-simpel dulu. Video singkat yang menunjukkan detail produk, cara penggunaan, ukuran, atau perbandingan produk sudah bisa menjadi materi awal.
3. Lazada
Lazada dapat menjadi pilihan bagi penjual yang ingin menjangkau pembeli melalui marketplace lain. Kategori produknya cukup luas dan tersedia berbagai fitur untuk mendukung pengelolaan toko.
Lazada juga bisa digunakan sebagai kanal tambahan ketika toko sudah berjalan di marketplace lain. Misalnya, sebuah usaha sudah memiliki katalog dan alur pengiriman yang rapi, lalu ingin memperluas jangkauan penjualan.
Nah, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengelola beberapa kanal sekaligus. Setiap marketplace membutuhkan pembaruan stok, pemrosesan pesanan, serta respons terhadap pertanyaan pembeli. Platform e-commerce tambahan memang bisa membuka kanal penjualan baru, tetapi juga menambah pekerjaan administratif. Karena itu, sebaiknya kapasitas pengelolaan toko juga wajib diperhitungkan sejak awal.
Bagi usaha yang masih dikelola sendiri, satu toko dengan operasional rapi dapat menjadi awal yang lebih mudah dikelola dibanding membuka banyak kanal sekaligus.
4. Blibli
Blibli merupakan pilihan lain yang dapat dipertimbangkan untuk berjualan online. Platform ini memiliki berbagai kategori, termasuk elektronik, kebutuhan rumah tangga, lifestyle, dan produk dari berbagai brand. Sebelum memilihnya, lihat apakah karakter produk sesuai dengan kategori dan calon pembeli yang ada di dalam platform.
Blibli juga dapat menjadi pilihan bagi bisnis yang sudah mulai berkembang dan ingin menambah kanal penjualan. Dengan begitu, penjualan tidak hanya bergantung pada satu marketplace.
Namun, penambahan kanal sebaiknya dilakukan ketika pengelolaan toko utama sudah cukup rapi. Pastikan pencatatan stok, harga, pesanan, dan biaya pengiriman dapat dilakukan tanpa membuat pekerjaan harian kewalahan.
5. Website Toko Sendiri
Marketplace bukan satu-satunya tempat untuk berjualan online. Website toko sendiri juga bisa menjadi pilihan, terutama bagi bisnis yang mulai ingin membangun identitas brand secara lebih mandiri.
Melalui website, tampilan toko dapat disesuaikan dengan identitas bisnis. Produk, cerita brand, informasi pembayaran, FAQ, sampai katalog dapat ditempatkan dalam satu alamat.
Namun, ada pekerjaan tambahan yang perlu disiapkan. Website membutuhkan domain, hosting atau layanan pembuat toko, pengelolaan katalog, sistem pembayaran, serta promosi agar calon pembeli datang.
Karena itu, website toko sendiri mungkin belum menjadi pilihan pertama bagi bisnis yang baru mulai dengan modal dan sumber daya terbatas.
Platform e-commerce berbasis marketplace masih menawarkan keuntungan berupa adanya traffic dan calon pembeli yang sudah berada di dalam ekosistemnya. Website sendiri lebih cocok dipertimbangkan ketika bisnis mulai memiliki pelanggan dan identitas brand yang cukup kuat.
Apa yang Perlu Dicek Sebelum Memilih?
Memilih tempat berjualan sebaiknya tidak hanya melihat jumlah pengguna. Ada beberapa hal praktis yang perlu diperiksa.
- Biaya transaksi. Cek biaya admin, komisi, biaya layanan, dan potongan lain yang mungkin muncul dalam setiap transaksi. Hitung margin setelah seluruh biaya tersebut dikurangi.
- Target pembeli. Cari tahu karakter calon pembeli yang paling sesuai dengan produk. Produk fashion, makanan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga bisa memiliki pola pencarian yang berbeda.
- Fitur promosi. Periksa fitur voucher, iklan, live shopping, diskon, dan program promosi lain. Pilih fitur yang memang bisa digunakan sesuai kapasitas toko.
- Kemudahan pengelolaan. Toko online tetap membutuhkan pekerjaan rutin. Katalog harus diperbarui, stok harus dicatat, pesanan perlu diproses, dan pertanyaan pembeli perlu dijawab.
- Sistem pencairan dana. Pelajari kapan hasil penjualan dapat dicairkan dan bagaimana ketentuannya. Hal ini penting untuk mengatur arus kas usaha.
Baca juga: 7 Strategi agar Pembeli Toko Online Segera Checkout
Pilihan platform e-commerce memang banyak, tetapi kita tidak perlu membuka toko di semua marketplace sekaligus. Pilih satu dua kanal yang sesuai dengan produk, target pembeli, biaya, dan kemampuan operasional, lalu kelola dengan benar.
Setelah alur pesanan, stok, promosi, dan pencatatan keuangan sudah berjalan rapi, kanal lain bisa ditambahkan secara bertahap. Dengan cara ini, bisnis bisa berkembang tanpa membuat pengelolaan toko menjadi terlalu rumit sejak awal.