Pulau Penyengat: Jejak Kesultanan Melayu yang Masih Terawat di Kepulauan Riau

Sumber: Pemkot Tanjung Pinang

JNEWS – Pulau Penyengat merupakan sebuah pulau bersejarah di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Lokasinya hanya sekitar 2 kilometer dari pusat kota sehingga mudah dijangkau dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di kawasan ini.

Luas Pulau Penyengat memang tidak terlalu besar, dengan panjang sekitar 2 kilometer dan lebar sekitar 850 meter. Meski begitu, pulau yang berjarak kurang lebih 35 kilometer dari Pulau Batam ini menyimpan banyak peninggalan penting dari masa Kesultanan Riau-Lingga.

Pulau Panyengat, Pulau Asal Bahasa Indonesia

Pulau Penyengat: Jejak Kesultanan Melayu yang Masih Terawat di Kepulauan Riau
Sumber: Pemprov Kepri

Pulau Penyengat telah dikenal para pelaut sejak berabad-abad lalu sebagai tempat singgah untuk mengambil persediaan air tawar sebelum melanjutkan pelayaran. Letaknya yang berada di muara Sungai Riau, di sekitar Pulau Bintan, membuat pulau kecil ini menjadi titik persinggahan yang strategis pada masanya.

Asal-usul nama Pulau Penyengat sendiri lebih banyak dikenal melalui cerita rakyat. Konon, sekelompok pelaut pernah melanggar pantangan saat mengambil air di pulau tersebut. Akibatnya, mereka diserang kawanan serangga berbisa yang memiliki sengat. Dari kisah itulah nama Penyengat dipercaya berasal. Sementara pada masa kolonial, orang Belanda menyebut kawasan ini sebagai Pulau Mars.

Peran Pulau Penyengat semakin penting ketika Sultan Mahmud Syah III menghadiahkannya sebagai mahar pernikahan kepada Engku Putri Raja Hamidah pada tahun 1803. Setelah itu, pulau ini berkembang menjadi pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga. Kedudukan Yang Dipertuan Muda berada di Pulau Penyengat, sedangkan sultan semula berkediaman di Daik-Lingga sebelum akhirnya juga pindah ke Pulau Penyengat pada awal abad ke-20.

Selain menjadi pusat pemerintahan, Pulau Penyengat juga memiliki peran besar dalam perkembangan bahasa dan sastra Melayu. Di sinilah Raja Ali Haji menyusun Kitab Pengetahuan Bahasa, salah satu karya penting dalam tata bahasa Melayu, serta menulis karya sastra terkenal Gurindam Dua Belas. Ragam bahasa Melayu tinggi yang berkembang di Pulau Penyengat kemudian menjadi salah satu landasan dalam pembentukan bahasa Indonesia modern.

Baca juga: Istana Kesultanan Pelalawan: Jejak Sejarah Melayu di Riau

Destinasi Wisata di Pulau Panyengat

Sumber: Tripadvisor

Pulau Penyengat menyimpan sedikitnya 46 situs cagar budaya yang terawat dengan baik. Berikut adalah beberapa objek wisata utama yang wajib dikunjungi.

1. Masjid Raya Sultan Riau

Masjid Raya Sultan Riau menjadi ikon utama Pulau Penyengat. Dari kejauhan, bangunan ini sudah mencuri perhatian berkat perpaduan warna kuning dan hijau yang menjadi ciri khas arsitektur Melayu.

Hal paling menarik ada pada material pembangunnya karena sebagian dinding masjid menggunakan campuran putih telur, kapur, dan tanah liat sebagai perekat. Meski telah berdiri sejak abad ke-19, bangunan masjid masih terawat dengan baik dan tetap digunakan sebagai tempat ibadah hingga sekarang.

2. Makam Raja Ali Haji

Kompleks makam Raja Ali Haji cocok dikunjungi oleh siapa saja yang ingin mengenal sejarah bahasa dan sastra Melayu. Tokoh yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional ini dikenal sebagai penulis Gurindam Dua Belas sekaligus pelopor pembakuan tata bahasa Melayu. Pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap perkembangan Bahasa Indonesia modern.

Area makamnya tertata rapi sehingga pengunjung dapat berziarah sekaligus mempelajari perjalanan hidup salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.

3. Makam Engku Putri Raja Hamidah

Makam Engku Putri Raja Hamidah menyimpan kisah penting tentang Kesultanan Riau-Lingga. Beliau merupakan permaisuri Sultan Mahmud Syah III sekaligus penjaga berbagai regalia atau perlengkapan kebesaran kerajaan yang memiliki nilai simbolis tinggi.

Berkunjung ke makamnya memberi gambaran tentang peran besar perempuan dalam sejarah pemerintahan dan adat Melayu.

4. Benteng Pertahanan Bukit Kursi

Benteng Pertahanan Bukit Kursi dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan Kesultanan Riau-Lingga untuk mengawasi jalur pelayaran di sekitar Pulau Penyengat.

Benteng ini memiliki parit pertahanan dan beberapa meriam kuno yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Posisinya berada di tempat yang lebih tinggi sehingga memudahkan pasukan memantau kapal yang melintas di perairan sekitar pulau. Selain melihat peninggalan sejarah, pengunjung juga bisa menikmati panorama laut dari kawasan benteng.

5. Istana Kantor

Istana Kantor merupakan kompleks bangunan yang dahulu menjadi kediaman sekaligus pusat administrasi Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga. Dari tempat inilah berbagai urusan pemerintahan dijalankan ketika Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat kekuasaan kerajaan.

Walaupun sebagian bangunannya telah mengalami perubahan akibat usia, sisa-sisa arsitekturnya masih memperlihatkan kemegahan masa lalu.

Panduan Wisara ke Pulau Panyengat

Perjalanan menuju Pulau Penyengat cukup mudah. Dari dermaga di pusat Kota Tanjungpinang, pengunjung hanya perlu menaiki perahu motor tradisional yang dikenal dengan nama pompong. Waktu penyeberangannya sekitar 15 menit, sehingga pulau ini sangat cocok dijadikan tujuan wisata singkat tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Di Pulau Penyengat, penggunaan kendaraan bermotor dibatasi demi menjaga lingkungan dan kawasan cagar budaya. Untuk berkeliling, tersedia bentor atau becak motor yang siap mengantar ke berbagai situs bersejarah. Pilihan lain yang semakin diminati adalah skuter listrik yang praktis, ramah lingkungan, dan memudahkan wisatawan menjelajahi hampir seluruh sudut pulau.

Baca juga: Lezatnya Rasa Melayu: Deretan Makanan Khas Kepulauan Riau yang Bikin Nagih

Pulau Penyengat saat ini terus dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi. Salah satu proyek yang sedang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau adalah Museum dan Monumen Bahasa Nasional. Kehadiran fasilitas ini diharapkan semakin memperkuat identitas Pulau Penyengat sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah perkembangan bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

Exit mobile version