Mengenal Rumah Bung Karno di Bengkulu, Saksi Jejak Perjuangan Sang Proklamator

Sumber: Wikipedia/Azizadisuryo

JNEWS – Rumah Bung Karno di Bengkulu merupakan salah satu bangunan yang masih menyimpan jejak masa lalu, terutama di masa-masa pengasingan Soekarno. Rumah ini berada di kawasan Anggut Atas, Kota Bengkulu, dan pernah ditempati Soekarno bersama Inggit Garnasih.

Selama tinggal di Bengkulu, Soekarno menjalani kehidupan yang cukup aktif meski berada dalam pengawasan pemerintah Belanda. Beliau bergaul dengan masyarakat setempat, berkegiatan di bidang seni dan keagamaan, serta menempati rumah tersebut selama beberapa tahun. Kini, rumah itu menjadi tempat wisata sejarah dengan sejumlah koleksi yang masih tersimpan di dalamnya.

Tentang Rumah Bung Karno di Bengkulu

Mengenal Rumah Bung Karno di Bengkulu, Saksi Jejak Perjuangan Sang Proklamator
Sumber: SIPARTA Bengkulu

Rumah Bung Karno berada di Jalan Soekarno Hatta No. 8, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Bangunan ini didirikan pada 1918 dengan luas sekitar 165 m² dan ukuran 9 × 18 meter.

Bentuknya memanjang dengan atap limasan. Arsitekturnya memadukan unsur Eropa dan Tiongkok, terlihat pada sejumlah bagian bangunan yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Rumah tersebut dibangun oleh Tjang Tjeng Kwai, seorang penyalur bahan pokok untuk kebutuhan pemerintah kolonial Belanda di Bengkulu. Saat Soekarno menempatinya sebagai tempat pengasingan, rumah itu merupakan milik Lion Bwe Seng, seorang pedagang keturunan Tionghoa. Soekarno tinggal di rumah ini setelah sebelumnya menjalani pengasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: 9 Tempat Wisata Terbaik di Bengkulu, dari Pantai hingga Wisata Sejarah

Beberapa ciri arsitektur Tionghoa masih dapat ditemukan pada bangunan, seperti lubang angin di atas jendela serta ukiran huruf atau tulisan berbahasa Mandarin. Di bagian belakang rumah juga terdapat sumur timba yang airnya digunakan Soekarno untuk mandi dan mencuci muka selama tinggal di sana.

Menurut informasi dari Portal Informasi Indonesia, air dari sumur tersebut pernah dibawa oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu ke Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk acara penyatuan tanah dan air.

Kondisi rumah hingga kini masih terawat dan sejumlah benda yang berkaitan dengan masa tinggal Soekarno tetap disimpan di dalamnya. Koleksinya mencakup buku, lukisan, foto, meja, kursi, tempat tidur, serta sepeda yang pernah digunakan Soekarno. Ada pula naskah sandiwara dan kostum kelompok seni Monte Carlo yang dibentuk Soekarno ketika berada di Bengkulu.

Foto-foto yang dipasang di dinding dilengkapi keterangan mengenai sejarah rumah dan kehidupan Soekarno selama berada di Bengkulu. Salah satu koleksi lainnya adalah surat-surat pribadi Soekarno dan Fatmawati. Fatmawati merupakan perempuan kelahiran Bengkulu yang kemudian menjadi istri Soekarno. Ia juga dikenal sebagai sosok yang menjahit bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Kini, rumah tersebut dikelola oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu dan menjadi destinasi wisata sejarah. Pengunjung dapat melihat langsung bangunan beserta berbagai koleksi yang masih tersimpan di dalamnya. Tiket masuknya sekitar Rp3.000, sedangkan jam kunjungan berlangsung setiap hari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Kehidupan Soekarno Selama Pengasingan di Bengkulu

Soekarno menjalani pengasingan di Bengkulu pada 1938 – 1942. Beliau tinggal di sana bersama istrinya, Inggit Garnasih, serta anak angkat mereka, Ratna Djuami.

Sebagai tahanan politik, aktivitas Soekarno tetap berada dalam pengawasan pemerintah Belanda. Polisi mengawasi pergaulannya dengan warga sekitar dan mencatat orang-orang yang datang ke rumahnya. M. Ali Chanafiah dan Salmiah Pane termasuk beberapa tokoh yang tercatat kerap berkunjung.

Selama berada di Bengkulu, Soekarno menggunakan sepeda untuk berkeliling kota dan menikmati suasana sekitar. Pemerintah Belanda bahkan membuat aturan khusus yang melarangnya membonceng orang lain. Larangan tersebut diberlakukan karena mereka menganggap aktivitas itu dapat membahayakan Soekarno maupun orang yang dibonceng.

Soekarno juga terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Beliau pernah mengusulkan renovasi sebuah masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Jamik Bengkulu. Gagasan tersebut mendapat penolakan dari kelompok tua yang masih mempertahankan bentuk lama bangunan.

Selain kegiatan keagamaan, Soekarno membentuk kelompok seni bernama Monte Carlo yang menampilkan musik dan drama. Beliau menulis naskah untuk pertunjukan tersebut dengan pesan yang bertujuan memberi pendidikan dan semangat kepada masyarakat.

Selama masa pengasingan, Soekarno juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah bersama sejumlah tokoh di Bengkulu. Beliau ikut mendorong pembangunan masjid di berbagai tempat. Aktivitasnya menunjukkan bahwa meski berada dalam pengawasan pemerintah kolonial, Soekarno tetap berusaha terlibat dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.

Baca juga: 11 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Bengkulu yang Banyak Dicari Wisatawan

Rumah Bung Karno di Bengkulu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar sejarah sebuah bangunan. Di rumah inilah Soekarno menjalani masa pengasingan, tetap berkegiatan, berinteraksi dengan masyarakat, dan menjalani kehidupan yang kelak menjadi bagian dari perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

Kini, bangunan itu masih berdiri dengan berbagai koleksinya, membuat sejarah tersebut bisa dilihat dalam bentuk yang lebih konkret, bukan hanya dibaca dari buku.

Exit mobile version