Mengunjungi Sudut Kota dan Mencicipi Pengalaman Kuliner di Pekalongan

Salah satu sudut Kota Pekalongan.

JNEWS – Mobil yang kami tumpangi bertolak dari Jakarta sekitar pukul 09.00 pagi. Bersama seorang pengusaha muda di bidang properti dan rental mobil, JNEWS berkunjung ke Kota dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Hanya butuh waktu kurang lebih 5 jam, kami sudah sampai di exit tol KM 331, Kota Pekalongan.

Berjarak 3 KM dari exit tol tersebut, kami pun mampir ke sebuah pom bensin milik pengusaha yang persis berada di jantung kota dan perlintasan jalan Pantura.

“Ini pom bensin paling besar di Pekalongan. Dulu sempat jaya, namun sejak ada tol lintas Jawa, omset berkurang,” ujarnya dengan senyum getir.

Si pengusaha panjang lebar bercerita bagaimana kondisi perekonomian Pekalongan tempat kampung halamannya tersebut. Kejayaan sebagai kota tekstil dan batik belum begitu memudar. Tampaknya pemerintah setempat ingin membangkitkan masa keemasan tersebut dengan mengusung tagline Pekalongan sebagai ‘Kota Kreatif’.

Pemandangan Kota Pekalongan di waktu malam.

Memang selama ini Pekalongan dikenal sebagai sentra para pengusaha konveksi berada. Konon, para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta banyak yang maklun konveksinya di Pekalongan. Batik dan kain sarung cukup murah dijual di Pekalongan, cocok untuk dijadikan oleh-oleh maupun dijual kembali.

“Sisi lain adanya tol juga bawa berkah. Apalagi sekarang sudah ada Kawasan Industri Ekonomi Khusus Batang. Pekalongan dapat berkahnya. Beberapa pabrik ada yang relokasi di sini juga,” terang si pengusaha.

Baca juga: Dari Batik hingga Kudapan, Inilah Oleh-Oleh Khas Pekalongan yang Paling Dicari

Kami pun melanjutkan perjalanan. Perut sudah keroncongan. Kami mampir di sebuah rumah makan ternama yang menyediakan kuliner khas Pekalongan yakni nasi (sego) megono dan juga garang asem.

Nasi (sego) megono Salah satu kuliner yang ikonik dari Pekalongan.

Sego Megono sendiri adalah adalah kuliner ikonik asal Pekalongan. Terdiri dari nasi putih hangat yang disajikan dengan cacahan nangka muda (gori) yang dicampur parutan kelapa dan bumbu rempah seperti kecombrang. Rasanya gurih, asin, dan sedikit pedas, sangat cocok dipadukan dengan tempe mendoan, ikan asin, atau sambal. Banyak penjual sego megono di beberapa sudut kota yang terkenal kelezatannya. Di antaranya Sego Megono RM Taufik, Sego Megono Warung Pojok dan Sego Megono Pak Bon.

Sedangkan garang asem terbuat dari daging sapi yang diberi tambahan pindang telur ayam. Garang asem khas Pekalongan rasanya lebih mirip dengan rawon, karena warna kuah yang cokelat berasal dari kluwek yang juga merupakan bumbu dasar rawon. Garang asem yang terkenal di Pekalongan salah satunya di Rumah Makan Haji Masduki, tempat kami bersantap.

Sehabis makan, sebelum pergi ke hotel untuk istirahat kami meneruskan perjalanan. Melewati jalan utama. Sebelah kiri jalan, JNEWS melihat gedung Kantor Cabang Utama JNE  Pekalongan dua tahun silam diresmikan. Bangunannya cukup megah dan luas serta strategis di jalur Pantura antara Tegal – Pekalongan. Lokasinya tidak jauh dari sebuah jembatan perbatasan Kota dan Kabupaten Pekalongan.

Berjarak beberapa KM dari kantor JNE tersebut, kami berhenti di sebuah kompleks pertokoan. Rupanya dulu ruko ini yang membangun si pengusaha tersebut. Ia pun masih memiliki beberapa unit ruko yang disewakan.

Kantor Cabang Utama JNE Pekalongan.

“Dulu pas selesai saya bangun ini, penjualan ruko cepat lakunya. Hanya saja saat ini bisnis properti masih layu, tidak seperti dulu,” ujarnya sambil menyebut proyek perumahan cluster miliknya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan yang sedang dibangun penjualannya masih seret.

Keesokan harinya, saat JNEWS berkeliling di Kota Pekalongan, secara kasat mata perekonomiannya cukup menggeliat. Lalu lalang masyarakat yang beraktivitas sepanjang hari membuat kota terasa hidup, walau Kota Pekalongan sendiri tidak begitu besar. Tingkat okupansi hotel juga lumayan terisi, terlebih di masa liburan sekolah. Selain hotel konvensional di Pekalongan juga terdapat hotel syariah. Letaknya berseberangan dengan Yogya Plaza Pekalongan.

Selain banyak para pelaku UMKM yang berkecimpung di konveksi, Pekalongan juga mulai dikenal dengan kulineran-nya. Terbukti, sebuah brand bakso ternama yang sudah kesohor di Jakarta baru-baru ini membuka usahanya di Kota Pekalongan. Itu menandakan bahwa perputaran roda perekonomian di Pekalongan cukup menjanjikan.

Baca juga: Banyak Pabrik Beroperasi, JNE Pekalongan Garap Kiriman Industri

Saat JNEWS mencicipi bakso tersebut selepas Magrib, tampak dipenuhi pengunjung. Pada akhirnya perekonomian Pekalongan yang menjadi jalur utama Pantura antara Tegal – Semarang ini terus berputar, walau tidak sekencang sebelum adanya tol Tans Jawa. *

Exit mobile version