JNEWS – Taman bacaan bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalkan buku kepada anak sejak usia dini. Kebutuhan akan ruang seperti ini masih cukup besar.
Dalam PISA 2022, hanya sekitar 25% siswa Indonesia usia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74%. Data tersebut menunjukkan masih ada kesenjangan kemampuan membaca yang cukup lebar, sehingga kebiasaan membaca dan akses terhadap bacaan perlu dibangun sejak anak-anak.
Upaya tersebut tidak selalu harus dimulai dari lembaga atau fasilitas yang besar. Jika di rumah sudah ada koleksi buku anak yang cukup banyak, koleksi tersebut bisa dibuka untuk lingkungan sekitar. Satu ruangan kosong, teras, atau sudut rumah bisa ditata menjadi tempat membaca yang nyaman.
Dengan pengelolaan yang rapi, ruang kecil pun dapat menjadi tempat anak mengenal buku, memilih bacaan sendiri, dan perlahan membangun kebiasaan membaca.
Menata Taman Bacaan agar Anak Betah Membaca

Membuat taman bacaan yang disukai anak tidak selalu membutuhkan ruangan luas atau perabot mahal. Beberapa langkah berikut bisa menjadi panduan saat mulai menyiapkan taman baca yang menyenangkan, terutama untuk anak-anak.
1. Tentukan Lokasi yang Aman dan Mudah Dijangkau
Lokasi menjadi hal pertama yang perlu diperhatikan. Untuk taman bacaan anak, pilih ruangan yang mudah ditemukan dan tidak berada dekat sumber bahaya seperti jalan yang ramai, area parkir kendaraan, dapur terbuka, atau tangga tanpa pengaman.
Ruang di dalam rumah bisa digunakan jika ingin memulai dalam skala kecil. Teras yang sudah diberi penutup juga dapat dimanfaatkan selama sirkulasi udaranya baik. Jika ruang baca berada di fasilitas umum, akses keluar-masuk sebaiknya mudah diawasi oleh pengelola.
Perhatikan pula kondisi lantai. Permukaan yang rata dan tidak licin akan membuat anak lebih leluasa bergerak. Kabel listrik sebaiknya dirapikan agar tidak melintang di area berjalan.
Baca juga: Tip Membuat Perpustakaan Pribadi di Rumah, Nyaman untuk Baca dan Koleksi Buku
2. Pilih Rak Buku sesuai Tinggi Anak
Rak buku punya fungsi lebih dari sekadar menyimpan koleksi. Bentuk dan ukurannya ikut menentukan apakah anak bisa mengambil buku sendiri.
Gunakan rak dengan tinggi yang masih dapat dijangkau anak. Buku untuk usia prasekolah dapat ditempatkan pada bagian paling rendah. Koleksi untuk anak usia sekolah bisa diletakkan pada tingkat berikutnya.
Hindari menumpuk buku terlalu padat. Anak akan kesulitan menarik satu buku jika rak penuh sesak. Sisakan sedikit ruang agar koleksi bisa diambil tanpa menarik buku lain sampai berjatuhan.
Rak dengan sudut tajam juga sebaiknya dihindari. Jika menggunakan furnitur kayu, pastikan permukaannya sudah halus dan konstruksinya kokoh.
3. Kelompokkan Buku Berdasarkan Usia dan Jenis Bacaan
Anak akan lebih mudah mencari bacaan jika koleksi sudah dikelompokkan. Misalnya, buku bergambar untuk usia dini ditempatkan pada satu rak, cerita anak pada rak lain, lalu ensiklopedia atau buku pengetahuan berada di bagian tersendiri.
Pengelompokan dapat dibuat memakai label sederhana. Gunakan tulisan yang besar dan mudah dibaca. Simbol atau gambar juga bisa dipasang sebagai penanda, terutama untuk koleksi anak yang belum lancar membaca.
Pada taman bacaan dengan koleksi cukup banyak, buat daftar inventaris. Catat judul, jumlah eksemplar, kondisi buku, serta tanggal buku masuk. Pencatatan ini membantu pengelola mengetahui koleksi yang perlu diperbaiki atau diganti.
Buku yang rusak ringan dapat dipisahkan sementara untuk diperbaiki. Buku dengan halaman sobek sebaiknya tidak langsung dikembalikan ke rak karena kerusakan bisa bertambah saat digunakan.
4. Buat Area Membaca yang Nyaman
Anak tidak selalu membutuhkan meja dan kursi seperti di ruang kelas. Karpet bersih, bantal duduk, bean bag, atau bangku pendek bisa menjadi pilihan untuk menciptakan area membaca yang lebih santai.
Sisakan ruang yang cukup di antara rak dan tempat duduk. Anak perlu ruang untuk mengambil buku, duduk, berpindah tempat, dan mengembalikan bacaan tanpa saling bertabrakan.
Pencahayaan juga perlu diperhatikan. Manfaatkan cahaya alami pada siang hari jika memungkinkan. Untuk sore atau malam, gunakan lampu yang cukup terang untuk membaca tanpa membuat mata cepat lelah.
Ventilasi jangan dilupakan. Ruangan yang pengap akan membuat anak cepat tidak nyaman, terutama jika dipakai oleh beberapa anak dalam waktu bersamaan.
5. Sediakan Aturan Penggunaan yang Singkat
Aturan di taman bacaan sebaiknya dibuat sesimpel mungkin. Anak akan lebih mudah mengingat beberapa ketentuan utama daripada daftar larangan yang panjang.
Contohnya, buku dikembalikan ke tempat semula setelah selesai dibaca, makanan dan minuman tidak dibawa ke dekat rak, serta buku digunakan dengan tangan yang bersih.
Jika ada sistem peminjaman, tuliskan durasi peminjaman dan cara mengembalikan buku. Pengelola juga bisa menyediakan kartu anggota atau buku pencatatan yang simpel.
Aturan tersebut sebaiknya ditempel pada tempat yang mudah terlihat. Gunakan kalimat pendek dengan ukuran tulisan cukup besar. Untuk anak usia dini, gambar bisa membantu menjelaskan aturan tanpa terlalu banyak tulisan.
6. Tambahkan Kegiatan agar Ruang Baca Lebih Hidup
Koleksi buku yang bagus akan lebih menarik jika disertai kegiatan. Pengelola bisa mengadakan sesi membaca bersama, menggambar karakter dari cerita, membuat prakarya, atau meminta anak menceritakan kembali buku yang baru selesai dibaca.
Kegiatan tidak perlu dilakukan setiap hari. Jadwal mingguan atau dua mingguan sudah cukup untuk membuat anak punya alasan kembali berkunjung.
Taman bacaan juga bisa menyediakan papan rekomendasi buku. Anak dapat menempelkan nama atau gambar buku yang disukai. Hasilnya bisa menjadi cara sederhana untuk mengetahui bacaan yang paling diminati.
Jika ada relawan, pembagian tugas juga bisa dibuat sederhana. Ada yang bertugas mendampingi kegiatan, merapikan koleksi, mencatat peminjaman, atau menjaga kebersihan ruangan.
7. Jaga Kebersihan dan Lakukan Pengecekan Rutin
Ruang baca anak perlu dibersihkan secara rutin karena buku, karpet, bantal, dan rak mudah terkena debu. Area yang sering disentuh juga sebaiknya mendapat perhatian, termasuk gagang pintu, meja, dan tempat duduk.
Buat jadwal pengecekan koleksi. Buku yang sobek, terkena air, berjamur, atau sudah tidak layak digunakan dapat dipisahkan. Karpet dan alas duduk juga perlu dicuci atau dibersihkan secara berkala.
Periksa pula kondisi rak dan furnitur. Rak yang mulai goyah sebaiknya segera diperbaiki. Baut yang longgar, bagian kayu yang terkelupas, atau sudut furnitur yang tajam dapat menjadi risiko bagi anak.
Perawatan rutin membuat ruang baca tetap rapi tanpa menunggu kondisi sudah terlalu berantakan. Pengelola juga bisa mengajak anak ikut menjaga kebersihan melalui kebiasaan kecil, seperti mengembalikan buku ke rak dan membuang sampah pada tempatnya.
Baca juga: Cara Menata Rak Buku di Rumah Biar Rapi dan Estetik
Membangun taman bacaan bisa dimulai dari ruang kecil dengan koleksi yang tersedia terlebih dahulu. Setelah berjalan, koleksi dapat ditambah sesuai minat anak dan kebutuhan lingkungan sekitar.
Dengan penataan rak yang aman, area membaca yang nyaman, kebersihan yang terjaga, serta kegiatan yang menarik, ruang baca bisa menjadi tempat yang membuat anak senang datang, memilih buku, lalu menghabiskan waktu bersama cerita.