JNEWS – Kawasan wisata Kota Lama Surabaya tak hanya menyuguhkan objek bangunan kuno bersejarah peninggalan era Kolonial. Di objek wisata yang terletak di Surabaya Utara itu, juga ada taman yang menyediakan beragam permainan edukatif. Taman yang buka 24 jam itu sangat cocok untuk jalan-jalan para orang tua yang membawa buah hati mereka, karena selain untuk wisata juga bisa sambal belajar.
Nama objek wisata itu adalah Taman Sejarah. Lokasinya di Jalan Rajawali Surabaya, persis di depan pusat perbelanjaan Jembatan Merah Plasa (JMP). Diapit Gedung Internatio dan Sungai Kalimas.
Dulunya Taman Sejarah adalah sebuah lapangan. Dikenal dengan nama Lapangan Willemsplein. Willemsplein diambil dari nama Raja Belanda yang bernama Pangeran Willems.
Di era Kolonial Belanda, lokasi Lapangan Willemsplein juga sangat strategis. Berada di pusat kota Surabaya di era itu. Lapangan ini berada di tengah, antara pusat kawasan bisnis dan penunjang kompleks kerasidenan tahun 1900-1916. Bisa disebut Lapangan Willemsplein adalam alun-alun kota di era Kolonial Belanda.
Seperti halnya di era Kolonial Belanda, lokasi Taman Sejarah sekarang ini juga tak kalah strategisnya. Gampang dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum.
Kalau Anda membawa kendaraan pribadi, cukup memarkirnya di tempat yang sudah disediakan yang berjarak hanya belasan meter dari Taman Sejarah. Namun jika Anda datang dari luar kota menggunakan angkutan umum, dari Terminal Bus Purabaya Bungurasih Sidoarjo, Anda bisa melanjutkan dengan menggunakan angkutan massal Suroboyo Bus. Cukup bayar Rp 5.000. Anda bisa turun di Halte JMP yang berjarak sekitar 25 meter lalu jalan kaki untuk menjangkau Taman Sejarah.
Karena lokasinya yang strategis, Taman Sejarah sering dijuluki pusat kawasan wisata Kota Lama Surabaya. Rata-rata mereka yang mengunjungi Kota Lama akan janjian di Taman Sejarah.
“Karena lokasinya gampang dijangkau, dan persis berada di pinggir Jalan Rajawali sehingga mudah untuk menemukannya. Yang belum pernah ke sini, dijamin nggak akan bingung nyarinya,” kata Indah Fitriani, salah satu wisatawan lokal yang ditemui di Taman Sejarah belum lama ini.
Indah datang dari Mojokerto bersama keluarga besarnya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kebetulan masih dalam rangkaian libur Lebaran 2026, ia mengajak anak dan keponakannya jalan-jalan ke Kota Lama.
Baca juga: Menelusuri Rasa Rujak Cingur, Kuliner Khas Surabaya yang Bikin Penasaran
“Saya kira cuma ada gedung-gedung kuno, eh nggak tahunya di sini (Taman Sejarah, Red) ada banyak permainan edukatifnya. Bermanfaat untuk anaka-anak,” cerita ibu dua anak itu.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memang membangun Taman Sejarah dengan penuh perhitungan, mulai akses hingga nilai kemanfaatannya bagi pengunjung. Tak heran jika di tempat ini ditemukan sejumlah permainan edukatif yang cocok untuk anak-anak karena bisa digunakan secara gratis.
Salah satunya adalah bak sampah love. Disebut love karena bak sampah yang dirangkai dari besi dan kawat itu dibuat dalam ukuran besar dengan bentuk simbol love.
Bukan sembarang tempat sampah, bak sampah love hanya dikhususkan untuk sampah plastik, seperti wadah bekas minuman dalam kemasan, bungkus makanan atau tas-tas plastik yang tidak bisa di daur ulang.
Ada juga fasilitas bermain ketangkasan. Permainan ini akan melatih ketangkasan buah hati kita, dimainkan secara individu dengan cara melompat dari satu titik ke titik yang lain.
“Permainan ketangkasan ini bermanfaat sekali untuk anak-anak karena bisa mengajak mereka bergerak aktif,” kata Julia Rahma, ibu muda yang tinggal di Kawasan Gubeng Surabaya.
Sore itu Julia mengajak buah hatinya yang masih berusia lima tahun jalan-jalan ke Taman Sejarah.
“Niat hati saya yang ingin foto-foto dengan latar bangunan kuno di Kota Lama. Ternyata malah anak saya yang sibuk ngajak main di Taman Sejarah sampai nggak mau diajak pulang,” kata Julia sambil tersenyum.
Di Taman Sejarah juga disediakan permainan tradisional. Namanya engklek. Engklek adalah permainan tradisional lompat-lompatan satu kaki di atas bidang datar berpetak yang digambar di tanah. Di Indonesia, engklek popular untuk melatih motorik kasar, keseimbangan, dan sosial.
Permainan ini menggunakan gaco (pecahan genteng atau batu) untuk dilempar ke kotak-kotak, melatih fokus dan kerja sama, dan dikenal dengan nama berbeda di tiap daerah. Misalnya, kalau di Surabaya disebut engklek maka permainan yang sama di Ponorogo dinamakan ingkling.
Selain tiga permainan di atas, masih ada fasilitas edukatif lainnya yang ada di Taman Sejarah. Yaitu beragam jenis bunga dan pohon. Pemkot Surabaya sengaja meletakkan sejumlah bunga maupun tanaman yang berbeda dan memberinya nama di setiap bentuk fisiknya agar para pengunjung mudah mengenali dan mengetahui manfaatnya.
Misalnya, di bawah pohon Tabebuya Pink ditulis nama Latin dan manfaatnya. Nama Latin Tabebuya Pink adalah Tabebuia Rosea. Bunga yang juga marak ditanam di jalur arteri Kota Pahlawan itu ditulis memiliki tiga fungsi.
Baca juga: Menilik Jejak Kolonial di Makam Eropa Peneleh di Surabaya
Pertama, mampu menyerap air dengan sangat baik sehingga dapat mencegah banjir. Kedua, dapat membantu mencegah erosi tanah. Ketiga, membantu dalam pengendalian perubahan iklim dan pengurangan tingkat karbondioksida.

Lalu, ada juga tanaman Bungur yang mempunyai nama Latin Lagerstroemia Speciosa. Tanaman ini juga memiliki sedikitnya tiga manfaat. Pertama, mampu menyerap racun (polutan) dan CO2 di udara serta menghasilkan oksigen, sehingga udara menjadi lebih segar. Kedua, dapat membantu menyerap kelebihan air di tanah sehingga dapat mengurangi risiko banjir. Terakhir atau ketiga, memiliki tajuk yang lebar sehingga dapat memberikan naungan dan peneduh di jalan, taman dan pekarangan.
Selain berbagai jenis pohon, Pemkot Surabaya juga melakukan edukasi mengenai lingkungan melali beragam jenis bunga yang diletakkan di pot-pot plastik warna hitam. Mulai bunga melati putih, lavender, kaca piring, kemuning, hingga monstera.
Selain tanaman perdu dan bunga-bunga, Taman Sejarah menjadi semakin teduh dan segar dengan rumput-rumput yang ditanam rapi berkelompok berdasarkan warnanya. Sehingga terlihat menarik dan jika dilihat dari kejauhan seperti lembaran permadani.











