JNEWS – Tradisi Lebaran yang selama ini paling dikenal di Indonesia adalah bermaaf-maafan, makan ketupat, dan berbagi THR uang kertas baru. Namun ternyata, ada sebagian daerah yang makan ketupat beberapa hari setelah Lebaran.
Jika dilihat lebih jauh, ada banyak sekali tradisi Lebaran yang berbeda di berbagai daerah. Tradisi tersebut sering membuat kangen para perantau sehingga menjadi salah satu pendorong untuk mudik.
Tradisi Lebaran di Berbagai Daerah
Dikutip dari laman Kemenag, ternyata asal kata Lebaran di berbagai daerah juga bisa berbeda meski sama-sama merujuk ke hari-hari setelah Ramadan atau di bulan Syawal. Di Jawa atau Sunda, Lebaran berasal dari kata ‘lebar’, yang artinya selesai atau melimpah. Sedangkan dalam bahasa Madura, Lebaran berasal dari kata ‘lober’ yang artinya tuntas.
Tak hanya bahasa, berikut adalah perbedaan tradisi Lebaran di beberapa daerah.
1. Lebaran Betawi di Jakarta
Rangkaian tradisi Lebaran ala Betawi dimulai 3 hari sebelum Lebaran dengan tradisi nape atau membuat tape. Tape ini akan masak tepat pada Hari Raya Idulfitri sehingga bisa dijadikan suguhan tamu. Para ibu juga menyiapkan ketupat untuk santapan Lebaran.
Yang unik dari tradisi Betawi adalah Lebaran tidak hanya berlangsung satu atau dua hari, melainkan hingga pekan ke-3 Syawal. Kegiatan yang dilakukan antara lain puasa Syawal selama enam hari dan silaturahmi selama tujuh hari berturut-turut ke rumah tetangga atau saudara yang lebih tua.

2. Grebeg Syawal di Yogyakarta
Tradisi Lebaran ini sudah dilaksanakan sejak abad ke-16 sebagai wujud rasa syukur karena telah melewati bulan Ramadan. Grebeg dilaksanakan oleh Kraton Yogyakarta tiap 1 Syawal dengan mengarak gunungan berisi hasil bumi. Gunungan tersebut akan didoakan, lalu isinya akan diperebutkan oleh masyarakat.
Gunungan yang diberi nama Gunungan Jaler, Gunungan Estri, Gunungan Gepak, Gunungan Darat, dan Gunungan Pawuhan akan dikirimkan ke 4 lokasi. Lokasi grebeg tersebut adalah Halaman Masjid Gedhe, Pura Pakualaman, Kompleks Kepatihan, dan Ndalem Mangkubumen.
Sejak tahun 2024, tidak semua gunungan diperebutkan warga. Gunungan yang diperebutkan warga hanya yang ada di Halaman Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman. Selebihnya dibagikan ke ASN (Aparatur Sipil Negara) di lingkungan Pemprov DIY.
Baca juga: Cara Membuat Rencana Liburan Lebaran yang Efektif, Hemat, dan Fleksibel
3. Lebaran Topat di Lombok
Kota Lombok adalah Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Lebaran topat atau Lebaran ketupat dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini diawali dengan berdoa di masjid, lalu melakukan ziarah di makam para ulama atau penyebar agama Islam di Lombok. Acara ini dilanjutkan dengan parade gunungan dan diakhiri dengan makan ketupat beramai-ramai di tepi pantai.
4. Tradisi Lampu Colok di Bengkalis
Tradisi lampu colok selalu ditunggu warga dan menjadi ajang adu keren. Lampu colok terbuat dari bambu atau kaleng bekas yang dibuat seperti obor. Lampu ini mulai dipasang tanggal 27 Ramadan.
Yang unik dari lampu colok adalah bentuknya. Obor tersebut dapat disusun menjadi bentuk rumah, masjid, kapal, dan sebagainya tergantung kreativitas warga. Ukurannya juga besar, bahkan dapat setinggi rumah dua lantai.
Bengkalis adalah wilayah Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia di Selat Melaka. Pada masa pemasangan lampu colok ini, banyak TKI yang mudik untuk berpartisipasi dalam pemasangannya. Belakangan lampu colok ini juga dilombakan.

5. Syawalan Pekalongan
Jika Cappadocia dirasa terlalu mahal, sebaiknya datang ke Pekalongan sekitar tanggal 8 Syawal. Pada saat itu masyarakat Pekalongan menggelar tradisi lopis raksasa dan festival balon.
Pembuatan lopis raksasa dipusatkan di Krapyak yang nantinya akan dibagikan ke warga. Tradisi Lebaran ini sudah dilakukan sejak lama dan semakin hari ukuran lopis semakin besar. Makanan dari ketan ini bisa mencapai berat 2000 kilogram dengan tinggi hingga 2 meter.
Sedangkan festival balon dilaksanakan di Lapangan Mataram atau lapangan lainnya tergantung penyelenggara. Motif balonnya bagus-bagus dan berwarna-warni karena dilombakan. Balon-balon ini tidak akan mengganggu penerbangan karena ditambatkan.
6. Tellasan Topak di Madura
Tellasan topak atau Lebaran Ketupat juga dilaksanakan pada hari ke-8 bulan Syawal, yaitu setelah melaksanakan puasa Syawal selama 6 hari. Lebaran ketupat diperkenalkan oleh Sunan Bonang, salah satu dari Walisongo, lalu dibawa ke Madura oleh Sunan Paddusan. Warga saling bertukar ketupat buatan masing-masing atau memberikannya sebagai sedekah ke masjid-masjid.
7. Festival Meriam Karbit di Pontianak
Festival yang diadakan di Pontianak, Kalimantan Barat, ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Festival ini sangat meriah karena warga membunyikan meriam karbit di sepanjang Sungai Kapuas sebelum, saat, dan setelah Lebaran.
Meriam karbit yang diizinkan ikut hanya yang terbuat dari sebatang pohon yang sangat besar. Biasanya pohon tersebut memiliki diameter 40-100 cm dan panjang empat hingga tujuh meter. Semakin besar pohonnya maka bunyi meriam akan semakin menggelegar.
8. Binarundak di Motoboi Besar
Motoboi Besar terletak di Kotamobagu, Sulawesi Utara. Tradisi yang dilakukan warga adalah bersama-sama membuat nasi jaha selama tiga hari berturut-turut.
Nasi jaha adalah makanan khas Sultra berupa beras yang dimasak di dalam batang bambu. Makanan ini bercita rasa gurih karena pengaruh santan dan mengeluarkan aroma jahe yang kuat. Tradisi ini dilestarikan karena memperkuat silaturahmi.
9. Makmeugang atau Meugang di Aceh
Aceh yang terkenal dengan julukan Serambi Makkah, tak ketinggalan memiliki tradisi khusus dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini sudah dimulai sejak zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636).
Pada waktu itu Kerajaan Aceh menjalankan tradisi meugang dengan menyembelih sapi, kerbau, kambing, ayam, dan itik lalu dimasak bersama-sama untuk dibagikan atau disedekahkan. Untuk fakir miskin, Sultan menambahkannya dengan bahan makanan lain karena orang yang tidak mampu diakui sebagai tanggung jawabnya.
Sekarang, masyarakat Aceh masih melaksanakan tradisi ini dengan skala masing-masing. Bahkan masyarakat Aceh di perantauan juga melakukannya.
Baca juga: 7 Rekomendasi Toples Cantik untuk Wadah Kue Kering Lebaran
10. Hadrat di Kaimana
Tradisi unik di Papua Barat ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi tanpa memandang perbedaan latar belakang. Warga tua dan muda tumpah ruah di jalan untuk berkeliling kota. Mereka menari dengan diiringi selawat dan musik hadrat. Banyak warga nonmuslim yang ikut berpartisipasi dengan menyediakan konsumsi peserta hingga ikut menari dan berkeliling kota.
Tradisi Lebaran di Indonesia yang beragam di setiap daerah mencerminkan keunikan budaya dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut masih lestari, bahkan menjadi kebanggaan daerah.