JNEWS ONLINE
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
JNEWS Online
No Result
View All Result
Home Traveling

Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia yang Masih Dilestarikan

by Penulis JNEWS
25 August 2026
Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia yang Masih Dilestarikan
Share on FacebookShare on Twitter

JNEWS – Tahun 2026, Maulid Nabi Muhammad saw jatuh pada Selasa, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Di Indonesia, peringatan ini hadir dengan beragam tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat. Ada daerah yang menggelar kirab, menyiapkan hidangan dalam jumlah besar, berbagi makanan, sampai menghias makanan dan uang dalam bentuk yang khas.

Tradisi tersebut tidak muncul begitu saja. Sebagian sudah diwariskan selama puluhan bahkan ratusan tahun dan tetap dijalankan setiap kali Rabiulawal tiba. Bentuk acaranya pun mengikuti kebiasaan serta budaya setempat, sehingga perayaan Maulid Nabi di tiap daerah punya ciri yang menarik untuk dilihat.

Tradisi Maulid Nabi yang Masih Dilestarikan dari Generasi ke Generasi hingga Sekarang

Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia yang Masih Dilestarikan
Sumber: Taman Bidaya Yogyakarta

Berikut beberapa tradisi Maulid Nabi yang masih digelar di berbagai daerah Indonesia. Setiap perayaan punya rangkaian acara, makanan, dan simbol khas yang mengikuti budaya masyarakat setempat.

1. Yogyakarta dan Surakarta: Grebeg Maulud

Tradisi Grebeg berasal dari kata gumrebeg yang berarti riuh atau ramai. Tradisi ini diperkenalkan Sunan Kalijaga pada abad ke-15 di Kesultanan Demak sebagai sarana syiar Islam melalui keramaian dan budaya lokal, lalu dilestarikan Kesultanan Mataram Islam hingga berkembang di Yogyakarta dan Surakarta.

Grebeg Yogyakarta dapat menghadirkan enam hingga tujuh gunungan, seperti Kakung, Estri, Gepak, Darat, Pawuhan, dan Bromo. Sementara itu, Surakarta menampilkan Gunungan Jaler dan Estri.

Gunungan melambangkan kemakmuran, kehidupan, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Setelah diarak, gunungan diperebutkan warga dalam tradisi ngalap berkah. Hasil bumi yang diperoleh dipercaya membawa keselamatan, ketenteraman, dan kesuburan.

Baca juga: Daftar Tradisi dan Upacara Adat di Indonesia yang Masih Bertahan Hingga Kini

2. Cirebon: Panjang Jimat

Panjang Jimat menjadi puncak perayaan Maulid Nabi di tiga keraton Cirebon, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, setiap malam 12 Rabiulawal. Tradisi warisan era Wali Songo ini memadukan ajaran Islam dengan adat Cirebon.

Panjang merujuk pada piring pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati yang melambangkan keabadian dan kelestarian. Jimat berasal dari ungkapan Jawa, siji kang dirumat, yaitu sesuatu yang harus dirawat dan dijaga, dengan makna yang berkaitan dengan syahadat serta ajaran akhlak Nabi.

Panjang Jimat menjadi akhir dari rangkaian Muludan yang berlangsung berminggu-minggu, setelah pasar Muludan, Siraman Panjang, Bekaseman, dan Malam Pelai.

3. Kudus: Ampyang Maulid

Ampyang Maulid, tradisi dari Desa Loram Kulon, Kudus, ini ditandai kirab gunungan yang dihiasi kerupuk ampyang berwarna-warni. Perayaan berpusat di Masjid Wali Loram Kulon yang memiliki Gapura Paduraksa. Tradisi ini berkembang sejak abad ke-16 saat Sultan Hadlirin dan Tjie Wie Gwan menyebarkan Islam di wilayah Loram dengan memadukan dakwah dan budaya lokal.

Kirab membawa gunungan melewati Gapura Paduraksa menuju masjid, dilanjutkan doa dan pembagian berkat. Setelah itu, warga mengikuti rebutan isi gunungan, termasuk kerupuk ampyang.

4. Banyuwangi: Endhog-endhogan

Endhog-endhogan merupakan tradisi Maulid Nabi masyarakat Banyuwangi, terutama Suku Osing. Telur yang dihias ditancapkan pada batang pisang, kemudian diarak keliling kampung dan dibagikan kepada warga. Nama tradisi ini berasal dari kata endhog, yang berarti telur.

Tradisi ini berawal dari pesan Syaikhona Kholil yang mengibaratkan Islam seperti telur. Kulit sebagai perkumpulan dan isi sebagai amaliyah. Pada 1911, KH. Abdullah Faqih menerjemahkan pesan tersebut dengan membuat hiasan telur dan batang pisang.

Tradisi yang awalnya dilakukan para santri kemudian menyebar ke masyarakat Banyuwangi. Sejak 1995, pemerintah daerah menggelar Pawai Endhog-endhogan, yang pada 2018 masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival.

5. Kendal: Weh-wehan

Weh-wehan, atau Ketewin atau Ketuwin, digelar masyarakat Kaliwungu, Kendal, pada 11–12 Rabiulawal. Setelah salat Asar hingga malam, warga menyiapkan makanan di depan rumah untuk ditukar secara gratis dengan tetangga. Tradisi ini menjadi bentuk syukur sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Makanan yang sering dibagikan antara lain sumpil, jajanan tepung beras yang dibungkus daun bambu, serta ketan warna-warni dan berbagai jajanan lainnya.

6. Madura: Muludhen

Muludhen dapat berlangsung lebih dari sebulan, mulai Safar, sepanjang Rabiul Awal, hingga Rabiul Akhir. Hampir setiap keluarga mengadakan hajatan, sehingga perantau Madura pun kerap melakukan toron atau pulang kampung untuk merayakannya bersama keluarga.

Rangkaian acara dimulai dengan Cocoghen pada malam 1 Rabiul Awal, berupa pembacaan Maulid Al-Barzanji dan hantaran buah. Puncaknya, Malem Dubellesen, berlangsung pada malam 12 Rabiul Awal.

Di sejumlah daerah terdapat pula tradisi rebutan makanan, barang, hingga hewan. Tamu biasanya menikmati tumpeng bersama, lalu membawa pulang bherkat berisi buah, jajanan, serta lauk daging sapi atau ayam.

Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia yang Masih Dilestarikan
Sumber: ANTARA

7. Padang Pariaman: Bungo Lado

Bungo Lado merupakan tradisi Maulid Nabi di Padang Pariaman berupa pembuatan pohon uang dari iuran warga dan perantau. Tradisi ini melambangkan gotong royong, sedekah, rasa syukur, dan kegembiraan, serta telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Bungo lado berarti bunga cabai dalam bahasa Minangkabau. Uang yang dipasang pada ranting dimaknai sebagai rezeki yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Sebelum perayaan, Kapalo Mudo mengoordinasikan pengumpulan dana. Uang kemudian ditempel pada pohon tiruan dan diarak dari setiap korong atau jorong menuju masjid atau surau. Setelah itu, uang dilepas dan dihitung untuk keperluan keagamaan serta masyarakat.

8. Aceh: Kuah Beulangong

Kuah Beulangong menjadi bagian penting dari agenda Kenduri Maulod di Aceh, terutama Banda Aceh dan Aceh Besar. Hidangan berupa olahan daging sapi, kerbau, atau kambing ini dimasak dalam kuali besar secara gotong royong oleh kaum pria melalui kegiatan meuripee. Hasilnya kemudian dibagikan merata kepada warga. Tradisi ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Kuahnya kaya rempah dan tidak memakai santan. Daging dimasak bersama pisang kepok muda atau nangka muda, kelapa gongseng (u-lhee), ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, cengkih, dan cabai kering.

Warga mengumpulkan iuran untuk membeli bahan, lalu memasak sejak pagi di sekitar masjid atau meunasah. Setelah salat Zuhur dan zikir Maulid, hidangan dibagikan untuk dibawa pulang atau disantap bersama.

9. Gorontalo: Tradisi Walima

Walima menjadi tradisi Maulid Nabi khas Gorontalo yang menampilkan ribuan kue tradisional dalam susunan menyerupai gunungan atau bangunan. Tradisi ini diperkirakan berkembang sejak abad ke-17, ketika Islam mulai diterima di kerajaan-kerajaan Gorontalo.

Dua unsur utamanya ialah Tolangga, usungan kayu berbentuk miniatur masjid, rumah adat, perahu, atau menara yang dipenuhi kue, serta Toyopo, wadah kecil berisi nasi kuning, ayam kampung, dan telur untuk ulama dan pemangku adat.

Perayaan diawali Dikili, pembacaan selawat dan kisah Nabi dalam bahasa Gorontalo semalam suntuk. Esoknya, Tolangga diarak menuju masjid dan kue-kue diperebutkan dalam tradisi Mopo’ah. Warga meyakini kue yang diperoleh membawa barakati atau keberkahan.

10. Banjarmasin: Baayun Maulid

Baayun Maulid merupakan tradisi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan berupa mengayun bayi atau anak sambil melantunkan selawat.

Tradisi ini memadukan budaya leluhur Banjar dengan ajaran Islam dan salah satu pusat pelaksanaannya berada di Masjid Al-Mukarromah, Desa Banua Halat, Kabupaten Tapin. Kini, pesertanya juga mencakup orang dewasa hingga lansia sebagai bentuk syukur atas hajat atau kesembuhan.

Ayunan atau buaian menggunakan tiga lapis kain, yakni bahalai, sasirangan, dan kain kuning, lalu dihias janur serta makanan seperti apam, cucur, pisang, dan pinang. Peserta juga menyiapkan piduduk berisi beras, gula merah, kelapa, telur, benang, dan jarum untuk diserahkan kepada pengurus masjid atau guru mengaji sebagai sedekah.

Prosesi dimulai dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji atau Simthud Duror. Saat memasuki bagian Asyrakal, orang tua mengayun anak mengikuti lantunan selawat.

Baca juga: Oleh-Oleh Khas Banjarmasin yang Wajib Dicari Saat Liburan ke Kota Seribu Sungai

Beragam tradisi tersebut menunjukkan bagaimana peringatan Maulid Nabi tumbuh bersama budaya masyarakat di berbagai daerah Indonesia. Tradisi yang terus dijalankan setiap Rabiulawal ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya tetap hadir di tengah generasi berikutnya.

Post Views: 19
Tags: hari rayahari raya agama IslamMaulud Nabi Muhammad saw.tradisi Islamtradisi maulidtradisi Maulud Nabi
Share187Tweet117
Next Post
10 Ras Anjing Paling Populer untuk Dipelihara, Lengkap dengan Karakteristiknya

10 Ras Anjing Paling Populer untuk Dipelihara, Lengkap dengan Karakteristiknya

TERKINI

10 Ras Anjing Paling Populer untuk Dipelihara, Lengkap dengan Karakteristiknya

10 Ras Anjing Paling Populer untuk Dipelihara, Lengkap dengan Karakteristiknya

25 August 2026
Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia yang Masih Dilestarikan

Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia yang Masih Dilestarikan

25 August 2026
wisata tanjung lesung

Akses Tol Terbuka, Pariwisata Tanjung Lesung Diprediksi Makin Meningkat

24 August 2026
destinasi wisata utama di NTT, seperti Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodi, berangsur normal

Pascagempa Destinasi Wisata Utama di NTT Berangsur Normal

24 August 2026
Cara Buat Paspor Pertama Kali: Syarat, Prosedur, dan Biaya yang Perlu Disiapkan

Cara Buat Paspor Pertama Kali: Syarat, Prosedur, dan Biaya yang Perlu Disiapkan

24 August 2026
putri asli papua di jne sorong

Mengenal Putri Asli Papua Angkatan Pertama di JNE Sorong

24 August 2026

POPULER

Suku Bajo: Sejarah, Keunikan, dan Kehidupan Suku Pengembara Laut di Indonesia

Suku Bajo: Sejarah, Keunikan, dan Kehidupan Suku Pengembara Laut di Indonesia

by Penulis JNEWS
14 August 2026

Fakta Menarik Mohammad Hatta, Proklamator yang Dijuluki Bapak Koperasi Indonesia

Fakta Menarik Mohammad Hatta, Proklamator yang Dijuluki Bapak Koperasi Indonesia

by Penulis JNEWS
11 August 2026

Joy of Missing Out: Cara Menikmati Hidup Tanpa Takut Ketinggalan Tren

Joy of Missing Out: Cara Menikmati Hidup Tanpa Takut Ketinggalan Tren

by Penulis JNEWS
7 August 2026

Apa Itu Emotional Spending? Kenali Tanda-tandanya Sebelum Merusak Keuangan

Apa Itu Emotional Spending? Kenali Tanda-tandanya Sebelum Merusak Keuangan

by Penulis JNEWS
13 August 2026

Cara Mengurangi Jajan Berlebihan agar Keuangan Lebih Sehat

Cara Mengurangi Jajan Berlebihan agar Keuangan Lebih Sehat

by Penulis JNEWS
3 August 2026

JNEWS Online

©2020 - Your Trusted Logistic Portal

Navigate Site

  • About
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2

©2020 - Your Trusted Logistic Portal