JNEWS – Candi Selogriyo berdiri di kawasan perbukitan Magelang dengan latar sawah bertingkat yang masih aktif digarap warga. Bangunannya juga kecil jika dibandingkan dengan candi-candi besar di Jawa Tengah.
Tidak ada bangunan besar yang mendominasi area ini, pun belum terlalu banyak dieksplorasi oleh wisatawan. Candi Selogriyo bisa jadi satu opsi tujuan wisata sejarah yang menarik bagi yang ingin lebih dalam menelusuri jejak persebaran agama Hindu di pusat Pulau Jawa.
Perjalanan Sejarah Candi Selogriyo
Candi Selogriyo diperkirakan berdiri pada kisaran abad ke-8 sampai ke-9 Masehi, saat wilayah Jawa Tengah berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram Kuno. Pada masa itu, pembangunan candi memang berkembang pesat. Banyak bangunan suci didirikan, dari yang berukuran besar hingga yang lebih kecil dan tersebar di berbagai titik.
Nama-nama seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan memang lebih sering disebut, tapi keberadaan Selogriyo menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan saat itu tidak terpusat di satu lokasi saja. Ada banyak titik pemujaan yang melayani komunitas setempat, dan Selogriyo kemungkinan termasuk di dalamnya.
Jejak Hindu pada candi ini cukup jelas, terutama dari struktur bangunan dan temuan di sekitarnya. Selogriyo didedikasikan untuk Dewa Siwa, salah satu figur penting dalam ajaran Hindu. Lokasinya yang berada di area perbukitan juga memberi gambaran makna spiritual yang dikaitkan dengan posisi geografisnya, sekaligus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Candi Selogriyo juga tidak bisa dilepaskan dari kemungkinan bahwa dulu tempat ini menjadi bagian dari kompleks yang lebih luas. Banyak candi dari periode yang sama ditemukan berkelompok, meskipun sekarang tidak semuanya masih utuh. Ada juga kemungkinan lain, yaitu candi ini berdiri sebagai pusat ibadah skala lokal yang melayani komunitas kecil di sekitarnya.
Perjalanan waktu membawa perubahan pada kondisi candi ini. Pada tahun 1998, Selogriyo sempat mengalami kerusakan akibat longsor. Beberapa bagian terdampak dan harus ditangani ulang agar struktur utamanya tetap bertahan. Meski pernah mengalami gangguan, wujudnya sekarang masih menyimpan karakter asli yang kuat.
Baca juga: Candi Ngawen: Jejak Sejarah Agama Buddha di Tanah Magelang
Arsitektur Candi Selogriyo

Candi Selogriyo memang tidak menampilkan detail yang rumit seperti candi besar, tapi susunannya tetap dapat dilihat mengikuti pakem arsitektur Hindu di Jawa Tengah pada zamannya.
Bangunannya berbentuk bujur sangkar dengan satu ruang utama di tengah, yang dikenal sebagai garbhagriha. Ruang ini merupakan titik paling sakral karena di situlah arca atau simbol pemujaan ditempatkan. Seluruh bangunan berdiri di atas batur atau alas candi yang berfungsi sebagai penopang sekaligus pembatas antara area suci dan lingkungan di sekitarnya.
Bagian atapnya memperlihatkan bentuk limasan bertingkat, yang cukup umum ditemukan pada candi-candi di wilayah ini. Di ujung atas terdapat hiasan kecil seperti ratna, yang menjadi penutup sekaligus penanda bagian tertinggi dari struktur candi. Bentuk ini, seperti pada umumnya bangunan untuk melakukan ibadah, mencerminkan cara pandang kosmologis yang dikenal dalam tradisi Hindu.
Kalau diperhatikan lebih dekat, ada ukiran di beberapa bagian tubuh dan kaki candi, berupa pola geometris dan bentuk tumbuhan. Dalam banyak candi Hindu, motif seperti ini sering dikaitkan dengan kesuburan, kehidupan, dan keseimbangan alam.
Di dalam ruang utama, terdapat lingga dan yoni, yang merupakan simbol pemujaan Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Lingga dan yoni ini berkaitan dengan konsep penciptaan dan kesinambungan hidup. Kehadiran simbol ini memperkuat fungsi candi sebagai tempat ibadah agama Hindu pada zamannya.
Candi Selogriyo dibangun dari batu andesit, jenis batu yang banyak dipakai pada masa Mataram Kuno. Batu-batu ini dipotong dan disusun dengan presisi tinggi tanpa bantuan perekat modern. Sistem sambungannya mengandalkan kecocokan antarbidang, sehingga struktur bisa tetap kokoh dalam jangka waktu lama. Dari sini terlihat bahwa kemampuan teknis para pembangunnya sudah sangat matang, meskipun alat yang digunakan jauh lebih sederhana dibanding sekarang.
Panduan Berkunjung ke Candi Selogriyo

Candi Selogriyo berada di lereng timur tiga perbukitan, yakni Condong, Giyanti, dan Malang, dengan ketinggian sekitar 740 meter di atas permukaan laut. Lokasinya masuk wilayah Dusun Campurejo, Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.
Suasana di sekitar candi cukup tenang, jauh dari keramaian jalan utama. Lanskapnya didominasi area hijau dengan kontur naik-turun yang khas daerah perbukitan.
Untuk berkunjungi ke candi ini, perjalanan bisa dimulai dari Magelang. Dari pusat kota, rute mengarah ke Jalan Raya Magelang–Bandongan dengan jarak kurang lebih 25 kilometer ke arah barat. Setelah masuk wilayah Bandongan, perjalanan dilanjutkan ke Kecamatan Windusari.
Di titik ini, kondisi jalan mulai berubah menjadi lebih sempit karena melewati kawasan desa. Meski begitu, perjalanan tidak terasa membosankan. Sepanjang jalan, pemandangan sawah dan latar pegunungan cukup terbuka, jadi tetap nyaman dinikmati. Setibanya di Desa Candisari, tersedia area parkir yang menjadi titik akhir kendaraan.
Dari area parkir, pengunjung masih perlu berjalan kaki sekitar 2 kilometer menuju lokasi candi. Jalur ini berupa jalan setapak yang mengikuti kontur perbukitan, dengan rute yang berkelok dan sesekali menanjak. Trekking ini tidak terlalu berat, tapi tetap butuh tenaga, terutama jika tidak terbiasa berjalan di jalur tanah. Waktu tempuhnya sekitar 30 sampai 45 menit, tergantung ritme jalan masing-masing.
Jalur perjalanan menuju Candi Selogriyo akan melewati persawahan terasering, lalu berganti ke area perbukitan dan hutan pinus. Udara di sini terasa sejuk. Dari beberapa titik, pengunjung bisa melihat lembah hijau yang luas, dengan siluet Gunung Sumbing di kejauhan saat cuaca cerah.
Dikutip dari website resmi Desa Kembang Kuning Magelang, tarif masuk ke kawasan Candi Selogriyo ini cukup terjangkau. Pengunjung domestik dikenakan tiket sekitar Rp5.000 per orang, sementara wisatawan mancanegara sekitar Rp25.000 per orang. Harga ini belum termasuk parkir.
Baca juga: Candi Kedulan: Candi Hindu yang Lama Terkubur Lahar Merapi
Candi Selogriyo memang tidak sebesar Candi Prambanan atau Borobudur, tetapi lingkungan di sekitarnya membuat semuanya terasa utuh. Perjalanan menuju lokasi, kondisi jalur, sampai suasana di area candi saling terhubung secara alami. Cocok dikunjungi jika ingin berlibur ke tempat yang sedikit berbeda.











