JNEWS – Beragam ekonomi kreatif terus tumbuh dan berkembang di masyarakat. Tidak terkecuali mereka yang berkreativitas dalam mengolah bahan alam menjadi karya bernilai estetis dan ekonomis. Salah satunya melalui teknik ecoprint, metode pewarnaan sekaligus pencetakan motif pada kain dengan memanfaatkan bentuk dan pigmen alami dari tumbuhan.
Ecoprint merupakan teknik menghasilkan motif pada kain dengan memanfaatkan karakter alami tumbuhan. Daun dan bunga menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan karena memiliki bentuk, tekstur, serta kandungan pigmen yang dapat meninggalkan jejak pada kain.
Baru-baru ini di Yogyakarta di gelar workshop tentang ecoprint yang diikuti Sindikasi Media Network (SMN). Dalam workshop di Wyndham Garden Yogyakarta tersebut, peserta diperkenalkan dengan metode ecoprint pounding. Sesuai namanya, teknik ini dilakukan dengan cara memukul bagian tumbuhan yang telah ditempatkan di atas kain menggunakan palu kayu. Pukulan tersebut membantu memindahkan pigmen dan bentuk tumbuhan ke serat kain. Hasilnya dapat berupa motif yang mengikuti bentuk daun, tulang daun, maupun karakter alami dari tanaman yang digunakan.
Menariknya, tidak ada dua hasil ecoprint yang benar-benar sama. Perbedaan jenis daun, tingkat kesegaran tanaman, karakter kain hingga tekanan ketika memukul dapat menghasilkan motif dengan tampilan yang berbeda. Karakter tersebut menjadi salah satu daya tarik ecoprint. Kain tidak hanya mendapatkan warna, tetapi juga memiliki pola yang terasa lebih organik dan personal.
Dalam ecoprint, bahan yang diperlukan antara lain kain berbahan katun atau kanvas, daun dan bunga, palu kayu, plastik pelapis, air, serta tawas. Pemilihan tumbuhan menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Daun yang memiliki kandungan air atau pigmen cukup baik dinilai dapat membantu menghasilkan motif yang lebih terlihat pada kain.

Salah satu hal yang membuat ecoprint menarik adalah hasil akhirnya yang tidak sepenuhnya dapat dibuat seragam. Daun dengan bentuk berbeda tentu akan memberikan pola berbeda. Bahkan daun dari jenis yang sama pun dapat menghasilkan karakter motif yang tidak selalu identik.
Baca juga: 12 Oleh-Oleh Khas Kupang, dari Kain Tenun hingga Camilan Tradisional
Karena itu, ecoprint memiliki nilai artistik tersendiri. Selain bentuk daun, kualitas kain juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Jenis serat, kondisi bahan, proses persiapan kain, teknik pemukulan, hingga proses pengolahan warna dapat memengaruhi tampilan akhir.
Teknik ecoprint memiliki peluang aplikasi yang cukup luas. Hasilnya dapat digunakan untuk membuat berbagai produk, mulai dari kain dekoratif, tas, aksesori, pakaian hingga cendera mata.
Bagi pelaku industri kreatif, ecoprint juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan produk kerajinan yang memiliki unsur cerita dan tentu saja nilai ekonomis. Kegiatan workshop yang berlangsung di Wyndham Garden Yogyakarta juga memperlihatkan bagaimana aktivitas kreatif dapat dikemas sebagai pengalaman bagi masyarakat maupun bagi wisatawan. *












