JNEWS – Kasus hantavirus kembali menarik perhatian setelah Kementerian Kesehatan melaporkan adanya infeksi terdeteksi di Indonesia dalam dua tahun terakhir. WHO juga sempat mengingatkan potensi penambahan kasus apabila pengendalian kesehatan masyarakat tidak berjalan dengan baik. Namun, meski sudah sering kali muncul di berita, masih ada banyak orang yang belum tahu apa itu hantavirus.
Virus ini berkaitan dengan tikus dan hewan pengerat lain, lalu menyebar melalui lingkungan yang terkontaminasi. Keberadaan tikus ini memang sering dianggap gangguan biasa di rumah, gudang, atau area penyimpanan barang. Padahal, hewan pengerat dapat membawa virus tertentu tanpa tanda yang mudah dikenali.
Karena itulah, ada baiknya kita berkenalan dan memahami apa itu hantavirus, agar kemudian kita bisa berupaya mencegah agar virus ini tidak menyebar.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus yang menyebar melalui hewan pengerat, terutama tikus liar. Virus ini memang tidak sepopuler flu atau COVID-19, tetapi tetap perlu diperhatikan karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang cukup serius.
Banyak orang baru mendengar nama hantavirus setelah muncul berita tentang kasus langka di beberapa negara dan juga di kapal pesiar. Padahal, virus ini sudah dikenal dunia medis sejak lama dan pernah menyebabkan wabah di berbagai wilayah.
Nama hantavirus berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Virus ini pertama kali diteliti lebih jauh setelah banyak tentara mengalami penyakit misterius saat Perang Korea pada awal tahun 1950-an. Dari situlah para peneliti mulai memahami bahwa ada virus yang berkaitan dengan tikus dan mampu menyerang manusia melalui lingkungan yang terkontaminasi.
Hantavirus sebenarnya bukan hanya satu jenis virus, melainkan kelompok virus dengan beberapa varian berbeda. Ada jenis hantavirus yang lebih banyak menyerang paru-paru, dan ada juga yang lebih sering memengaruhi ginjal.
Salah satu bentuk penyakit yang paling dikenal adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu kondisi serius yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat. Selain itu, ada juga Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih berkaitan dengan kerusakan ginjal dan gangguan pembuluh darah.
Bagaimana Hantavirus Menyerang Tubuh?
Saat virus masuk ke dalam tubuh manusia, hantavirus biasanya mulai menyerang pembuluh darah kecil. Dampaknya tidak langsung terasa berat di awal sehingga sebagian orang baru mencari tahu apa itu hantavirus setelah gejalanya mulai memburuk.
Banyak penderita awalnya hanya mengalami gejala ringan seperti demam, pegal, atau tubuh terasa lemas seperti flu biasa. Karena gejalanya umum, banyak orang tidak sadar bahwa tubuh mereka sedang mengalami infeksi yang cukup serius.
Seiring waktu, virus dapat menyebabkan kebocoran pada pembuluh darah sehingga cairan menumpuk di organ-organ penting. Pada beberapa kasus, paru-paru menjadi organ yang paling terdampak. Cairan yang menumpuk membuat penderita kesulitan bernapas dan kondisi bisa memburuk dalam waktu singkat. Itulah sebabnya hantavirus sering dianggap berbahaya meski kasusnya tergolong jarang.
Selain paru-paru, ginjal juga termasuk organ yang rentan terdampak oleh hantavirus jenis tertentu. Infeksi dapat mengganggu fungsi ginjal dalam menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada kondisi yang lebih berat, pasien bisa mengalami tekanan darah menurun, gangguan pernapasan, hingga komplikasi yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Baca juga: Bawang Putih Tunggal: Superfood dengan Manfaat Kesehatan Luar Biasa
Dari Mana Hantavirus Berasal?
Hantavirus paling sering ditemukan pada hewan pengerat liar. Tikus menjadi pembawa utama virus ini, meskipun tidak semua tikus otomatis membawa hantavirus.
Saat membahas apa itu hantavirus, salah satu hal yang paling sering dikaitkan memang keberadaan tikus sebagai carrier alami virus. Beberapa spesies tikus yang diketahui sering menjadi carrier hantavirus antara lain tikus rusa (deer mouse), tikus kapas, tikus padi, dan tikus berekor putih di beberapa wilayah Amerika. Di Asia, hantavirus juga ditemukan pada tikus ladang dan beberapa jenis tikus rumah. Hewan-hewan ini dapat membawa virus dalam tubuhnya tanpa terlihat sakit, lalu menyebarkannya melalui urine, air liur, atau kotoran.
Ketika kotoran atau urine mengering, partikel kecilnya bisa bercampur dengan debu di udara. Saat seseorang membersihkan area yang kotor tanpa perlindungan, partikel tersebut dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Inilah salah satu jalur penularan hantavirus yang paling umum terjadi.
Adapun beberapa tempat yang memiliki risiko lebih tinggi menjadi lokasi penyebaran hantavirus antara lain adalah gudang yang jarang dibersihkan, rumah kosong, loteng, lumbung, hingga area lembap yang dipenuhi barang menumpuk. Tempat-tempat seperti ini sering menjadi tempat favorit tikus bersarang, sehingga kotoran tikus menumpuk dalam waktu lama tanpa disadari.
Selain bangunan tertutup, area pertanian, perkebunan, dan tempat penyimpanan makanan juga perlu diperhatikan. Tikus mudah tertarik ke lokasi yang menyediakan sisa makanan dan tempat bersembunyi.
Tips Mencegah Hantavirus

Mengetahui apa itu hantavirus saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan langkah pencegahan dalam kehidupan sehari-hari. Karena virus ini berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan dan keberadaan tikus, menjaga kondisi rumah tetap bersih menjadi salah satu cara paling sederhana untuk membantu menurunkan risiko penularan.
Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan sekarang untuk mencegah penyebaran virus ini.
1. Jaga Rumah Tetap Bersih dan Tidak Lembap
Tikus lebih mudah datang ke tempat yang kotor, lembap, dan penuh barang menumpuk. Sudut rumah yang jarang dibersihkan sering menjadi tempat persembunyian hewan pengerat ini. Gudang, loteng, dapur, dan area belakang rumah perlu rutin diperiksa. Semakin bersih lingkungan rumah, semakin kecil kemungkinan tikus bersarang di sana.
2. Simpan Makanan di Tempat Tertutup
Sisa makanan yang terbuka dapat menarik tikus datang ke rumah. Gunakan wadah tertutup untuk menyimpan bahan makanan, termasuk makanan hewan peliharaan.
Jangan membiarkan sampah dapur menumpuk terlalu lama. Tempat sampah juga sebaiknya selalu tertutup rapat agar tidak mengundang hewan pengerat.
3. Tutup Celah yang Bisa Jadi Jalan Masuk Tikus
Lubang kecil di dinding, ventilasi, atap, atau bagian bawah pintu bisa menjadi akses masuk tikus. Periksa area rumah secara berkala lalu tutup celah menggunakan kawat, semen, atau bahan penutup lain yang kuat. Langkah sederhana seperti ini cukup membantu mengurangi risiko tikus masuk dan berkembang biak di dalam rumah.
4. Gunakan Masker dan Sarung Tangan saat Membersihkan Area Kotor
Membersihkan gudang, rumah kosong, atau ruangan lama yang berdebu perlu dilakukan dengan hati-hati. Kotoran dan urine tikus yang mengering dapat bercampur dengan debu lalu terhirup.
Gunakan masker dan sarung tangan sebelum mulai membersihkan area tersebut. Hindari langsung menyapu debu dalam kondisi kering karena partikel kecil bisa beterbangan di udara.
5. Jangan Menyentuh Kotoran Tikus secara Langsung
Jika menemukan kotoran atau bangkai tikus, jangan langsung dibersihkan dengan tangan kosong. Semprot area tersebut menggunakan cairan disinfektan atau campuran air dan pemutih terlebih dahulu agar partikel tidak mudah menyebar ke udara. Setelah itu, bersihkan menggunakan tisu atau alat khusus lalu buang ke tempat sampah tertutup.
6. Rutin Membersihkan Gudang dan Area Penyimpanan
Gudang yang lama tidak dibuka sering menjadi tempat favorit tikus bersarang. Barang yang menumpuk tanpa sirkulasi udara juga membuat area lebih lembap dan jarang diperiksa. Membersihkan gudang secara rutin membantu mengurangi sarang tikus sekaligus membuat kondisi ruangan lebih aman.
7. Kurangi Tempat Persembunyian Tikus di Sekitar Rumah
Tumpukan kayu, kardus bekas, rumput tinggi, dan barang tidak terpakai bisa menjadi tempat tikus berkembang biak. Area halaman rumah sebaiknya tetap rapi dan tidak dipenuhi barang menumpuk. Semakin sedikit tempat persembunyian, semakin sulit tikus bertahan di sekitar lingkungan rumah.
8. Segera Periksa ke Dokter Jika Muncul Gejala Mencurigakan
Demam, nyeri otot, sakit kepala, dan sesak napas setelah kontak dengan area penuh tikus tidak boleh dianggap sepele. Pemeriksaan lebih cepat membantu penanganan dilakukan sebelum kondisi memburuk. Gejala hantavirus memang mirip flu biasa di awal, sehingga riwayat aktivitas dan kondisi lingkungan sekitar juga penting diperhatikan.
Baca juga: Mengenal Fenomena Manusia Tikus: Protes Sunyi Gen Z di Tiongkok
Setelah memahami apa itu hantavirus, terlihat bahwa virus ini tidak muncul dari hal yang benar-benar asing dalam kehidupan sehari-hari. Gudang lembap, tumpukan barang lama, sampai keberadaan tikus di sekitar rumah dapat menjadi bagian dari rantai penyebaran yang sering luput diperhatikan.
Yuk, mulai cek area di sekitar kita sekarang!











