JNEWS – Candi Agung Amuntai yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) memang tidak semegah candi di Pulau Jawa. Namun, candi ini menyimpan sejarah panjang perkembangan agama Hindu di Kalimantan Selatan.
Pembangunan candi khususnya Hindu, memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan dewa seperti Dewa Siwa, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Selain itu, bangunan candi juga kerap dijadikan sebagai lokasi pemakaman raja.
Menilik Sejarah Panjang Candi Agung Amuntai
Candi Agung tidak sengaja ditemukan pada tahun 1962 saat Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara melakukan pemerataan tanah untuk pembangunan jalan dan perluasan wilayah tersebut.
Lokasi candi tepatnya berada di Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini dikelilingi tiga sungai yakni Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang semuanya bermuara di Sungai Barito.
Hal menarik dari candi ini adalah sejarah pembangunannya. Dikutip dari website Kabupaten Hulu Sungai Utara, Candi Agung Amuntai adalah peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya diperkirakan satu zaman dengan Kerajaan Majapahit.
Dari Hikayat Banjar, candi ini dibangun oleh Empu Jatmika, pendiri Kerajaan Negara Dipa di abad ke-14. Kerajaan ini merupakan cikal bakal dari Kota Amuntai.
Masih dari kisah dalam Hikayat Banjar, Empu Jatmika adalah seorang pedagang yang berasal dari Keling. Beliau melakukan perjalanan hingga menetap di Amuntai. Di masa tersebut, Empu Jatmika belum menjadi seorang raja.
Empu Jatmika kemudian membangun tempat untuk tinggal di tempat yang sekarang ini dikenal sebagai Candi Agung. Untuk melambangkan dirinya sebagai raja, beliau membuat patung visualisasi dirinya.
Ada sedikit perbedaan pendapat terkait tahun pembangunan candi ini. Apabila mengacu dari Hikayat Banjar yang diceritakan turun menurun, candi ini dibangun pada abad ke-14. Namun berbeda pendapat dari penelitian oleh para ilmuwan dari Balai Arkeolog Banjarmasin di tahun 1997. Penelitian tersebut menggunakan analisis radiokarbon C-14 dari sampel kayu ulin yang tertancap di halaman kerikil Candi Agung. Hasil analisis menunjukkan bahwa benda tersebut berasal dari tahun 750. Para peneliti pun berpendapat bahwa candi tersebut sudah ada sejak abad ke-8.
Baca juga: Menguak Sejarah Candi Gebang, Peninggalan Hindu Abad ke-9
Struktur Bangunan Candi Agung yang Unik

Jika di pada umumnya desain candi di Pulau Jawa itu tinggi dan megah, berbeda halnya dengan Candi Agung. Candi ini memiliki struktur tembok atau fondasi yang disusun rapi dari batu bata kuno dengan luas sekitar 7×7 meter dan tidak tinggi. Bahan penyusun candi ini sekilas mirip dengan batu bata merah biasa, tapi sangat kokoh.
Kendati bangunannya sudah tidak lagi utuh, tapi struktur fondasi dan artefak yang ditemukan di sekitar kawasan Candi Agung, berhasil memberikan gambaran betapa megahnya kerajaan ini di masa lampau.
Adapun keseluruhan bangunan dibuat dari batu bata, sedangkan hiasan dari terakota. Material lain yang turut menjadi bahan penyusun adalah kayu ulin khas Kalimantan yang digunakan sebagai fondasi.
Hal menarik lainnya dari struktur bangunan Candi Agung adalah lokasi pembangunannya di atas tanah rawa yang diuruk. Sebelum diuruk, terlebih dahulu diberi tiang pancang dari kayu ulin tersebut. Lalu, setelah tanah urukan cukup kuat, baru dibuat konstruksi bangunannya.
Jika melihat dari sisa undakan, bangunan candi menghadap arah tenggara. Beralih ke dalam kompleks candi, ada banyak temuan seperti kaki candi yang berukuran 9,2 x 9,2 meter, tiang-tiang dari kayu ulin, fragmen kepala kala dari terakota, manik-manik dari bahan tanah liat bakar, tulang, pecahan tembikar dan keramik, periuk yang berisi sisa abu, tanah, lapik padma, hingga antefiks.
Di tahun 1970-an, Candi Agung Amuntai dipugar oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Purbakala Kalimantan Selatan. Tujuan dari proyek pemugaran ini adalah untuk memperbaiki fondasi candi dan membuat pelindung berupa cungkup.
Titik Kunjungan di Candi Agung Amuntai

Di dalam kawasan Candi Agung Amuntai ada beberapa titik kunjungan yang menarik dan kental akan budaya Kalimantan Selatan. Berikut ini beberapa di antaranya.
1. Museum
Ada bangunan yang berbentuk rumah adat Banjar yang dijadikan sebagai museum. Letaknya berada di depan kompleks.
Di dalam museum terdapat beragam benda peninggalan zaman kerajaan yang masih dirawat hingga saat ini. Seperti batu bata merah yang merupakan material pembangunan candi, lalu ada tembikar dengan aksara Tiongkok, di bagian dinding dipajang dokumentasi penemuan Candi Agung.
2. Telaga Darah
Situs telaga darah adalah area yang menyerupai sumur. Ada kisah panjang yang dipercayai oleh masyarakat setempat melatari situs ini.
Konon dinamakan Telaga Darah karena dianggap sebagai tempat terbunuhnya Patmaraga dan Sukmaraga, anak dari Empu Mandastana. Kedua anak kembarnya tersebut dibunuh oleh adiknya sendiri, yakni Lambung Mangkurat.
3. Pertapaan Pangeran Suryanata
Pertapaan Pangeran Suryanata berada di depan situs utama Candi Agung. Tempat ini bentuknya berupa rumah tradisional Banjar tapi tidak utuh, terbuat dari kayu dan ada kain gorden warna kuning di beberapa bagian.
4. Situs Tiang Mahligai Putri Junjung Buih
Bangunan situs Tiang Mahligai Putri Junjung Buih bentuknya terbuka dan dikelilingi pagar dari kayu berwarna kuning. Di zaman dahulu, situs ini digunakan oleh Putri Junjung Buih untuk mandi dan berdandan. Menurut cerita, yang merias putri adalah Dayang Mayang Sari.
Oleh masyarakat Banjar, air sumur Mahligai ini digunakan untuk berbagai keperluan adat, seperti mandi dalam rangkaian acara perkawinan dan mandi bagi anak remaja. Airnya diyakini membawa berkah, bahwa siapa pun yang mandi dengan air tersebut dipercaya akan dipandang dengan penuh kasih sayang oleh orang lain.
Baca juga: Keunikan Budaya Kalimantan Selatan: Tradisi, Adat, dan Kearifan Lokal
Candi Agung ini merupakan warisan budaya sekaligus sarana edukatif yang memberikan informasi terkait perjalanan agama Hindu di Kalimantan Selatan. Lokasi candi tidak jauh dari pusat kota, tapi apabila dari Banjarmasin, waktu tempuhnya kurang lebih 4 jam. Untuk tiket masuk pun sangat terjangkau, Rp5.000 (dewasa) dan Rp3.000 (anak-anak).
Area sekitar candi ditata dengan rapi, titik kunjungan yang berada di sekitar kawasan pun turut menambah daya tarik Candi Agung Amuntai. Oleh masyarakat setempat, kawasan candi ini kerap dijadikan sebagai tempat berziarah.











