JNEWS – Kerajaan Majapahit dengan segala keagungannya meninggalkan jejak budaya dan sejarah sampai ke berbagai sudut daerah kekuasaannya. Salah satu peninggalan yang masih bisa dilihat sampai sekarang adalah Candi Tegowangi di Kediri.
Letak candi ini tidak terlalu jauh dari pusat kota sehingga membuatnya cukup mudah dijangkau. Jadi siapa pun bisa datang untuk mengeksplorasinya tanpa ribet.
Saat dilihat sekilas, bentuknya memang tidak terlalu tinggi atau mewah, tapi bagian-bagiannya menyimpan banyak detail yang menarik untuk diperhatikan. Relief, struktur bangunan, sampai benda-benda yang ditemukan di sekitarnya memberi gambaran tentang kehidupan dan kepercayaan pada masa itu.
Dari sini, kita bisa melihat bagaimana peran candi tidak hanya sebagai bangunan fisik, tapi juga sebagai bagian dari sistem sosial dan keagamaan yang lebih luas.
Latar Belakang Candi Tegowangi

Candi Tegowangi, yang juga dikenal dengan nama Candi Sentul, mulai dikenal lewat catatan para peneliti seperti N. W. Hoepormans, lalu dilanjutkan oleh R.D.M. Verbeek, J. Knebel pada 1902, dan P.J. Perquin pada 1915.
Candi ini sempat mengalami pemugaran pada 1983–1984 untuk menjaga kondisi bangunannya tetap utuh. Secara sejarah, keberadaan candi ini sudah lama jadi perhatian karena berkaitan dengan masa akhir Kerajaan Majapahit.
Dikutip dari website SIDITA Pemprov Jawa Timur, berdasarkan kitab Nāgarakrtāgama, Candi Tegowangi merupakan tempat pendharmaan Bhre Matahun, atau Raja Watsari, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Raja Hayam Wuruk. Ia wafat pada tahun 1388, sebelum pembangunan candi benar-benar selesai. Hal ini terlihat dari bagian akhir relief cerita Sudamala yang tidak diselesaikan. Diperkirakan candi ini baru rampung sekitar tahun 1400 M, masih dalam periode Majapahit.
Dari sisi teknik, pembangunan candi dilakukan dengan menyusun batu andesit hingga mencapai bentuk dasar, lalu proses ukiran dikerjakan dari bagian atas ke bawah. Metode ini umum dipakai pada bangunan candi di Jawa Timur pada masa itu. Hasilnya terlihat pada detail relief yang cukup halus dan tersusun rapi mengikuti struktur bangunan.
Baca juga: Daftar Tempat Wisata di Kediri, dari Alam Indah hingga Sejarah
Bentuk Bangunan Candi Tegowangi
Secara bentuk, Candi Tegowangi memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 11,2 x 11,2 meter dan tinggi 4,35 meter, menghadap ke arah barat. Bagian fondasi dibuat dari bata, sementara kaki dan sebagian tubuh candi yang masih tersisa menggunakan batu andesit. Kaki candi tampil berlapis dengan hiasan yang cukup detail. Strukturnya terdiri dari dua tingkat, dengan tinggi keseluruhan yang relatif tidak terlalu besar dibanding candi lain di masa yang sama.
Di setiap sisi kaki candi terdapat tiga panel tegak yang dihiasi sosok gana, yaitu makhluk bertubuh kecil yang digambarkan jongkok sambil mengangkat kedua tangan, seolah menopang bangunan di atasnya. Di atas bagian ini ada deretan tonjolan berukir yang mengelilingi candi, dilengkapi hiasan berbentuk genta. Detail ini memberi kesan dekoratif sekaligus menunjukkan gaya khas arsitektur masa Majapahit.
Masuk ke bagian tubuh candi, di tengah tiap sisi terlihat pilar polos yang menghubungkan bagian kaki dan badan. Pilar ini tampak belum selesai dikerjakan, jadi permukaannya masih sederhana.
Dinding tubuh candi dihiasi 14 panel relief cerita Sudamala, dengan pembagian 3 panel di sisi utara, 8 di barat, dan 3 di selatan. Ceritanya berkisar pada proses penyucian Dewi Durga yang awalnya digambarkan mempunyai wujud yang menyeramkan, lalu berubah menjadi Dewi Uma yang lebih lembut. Perubahan wujud ini dikisahkan dibantu oleh Sadewa, tokoh termuda dalam kisah Pandawa.
Di dalam bilik candi terdapat yoni dengan cerat berbentuk naga, yang dikenal merupakan simbolisasi kesuburan dalam tradisi Hindu. Sementara di halaman candi ditemukan beberapa arca, seperti Parwati Ardhanari dan Garuda berbadan manusia, serta sisa bangunan di sudut tenggara.
Temuan ini menguatkan bahwa Candi Tegowangi punya latar keagamaan Hindu dan pernah digunakan sebagai tempat pemujaan atau pendharmaan.
Lokasi dan Akses Wisata ke Candi Tegowangi

Candi Tegowangi berada di Desa Candirejo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Lokasinya cukup mudah dijangkau dan tidak terlalu jauh dari pusat kota. Dari Kota Kediri, perjalanan ke candi ini biasanya sekitar 30 menit jika menggunakan kendaraan pribadi, dengan kondisi jalan yang sebagian besar sudah baik.
Arah perjalanannya bisa dimulai dari Kota Kediri, kemudian menuju Kecamatan Plemahan, lalu mengikuti petunjuk menuju Desa Candirejo. Akses jalannya cukup mudah dan jelas, meski di beberapa titik perlu lebih hati-hati karena kondisi jalan tidak selalu mulus.
Supaya perjalanan tetap nyaman, sebaiknya gunakan kendaraan yang kondisinya prima. Apalagi kalau datang berkunjung saat cuaca kurang mendukung.
Setelah selesai berkunjung, pengunjung bisa sekalian lanjut ke destinasi lain di sekitar Jawa Timur. Contohnya seperti ke Candi Surowono, Gua Selomangleng, dan sebagainya. Pilihan wisatanya cukup banyak, jadi perjalanan bisa sekalian jadi agenda jalan-jalan yang lebih panjang tanpa harus bolak-balik arah.
Baca juga: Candi Jawi: Menelusuri Jejak Warisan Majapahit di Lereng Gunung Welirang
Candi Tegowangi menyimpan banyak detail yang sangat menarik. Dari bentuk bangunan, relief, sampai benda-benda yang ditemukan di sekitarnya, semuanya memberi gambaran tentang kehidupan di masa Majapahit. Lokasinya juga cukup mudah dijangkau. Candi ini jadi salah satu titik penting untuk memahami jejak sejarah di Kediri secara lebih dekat.












