JNEWS – Kawasan Blok M di Jakarta Selatan dalam beberapa tahun belakangan kembali menggeliat sebagai pusat plesiran warga Jakarta dan sekitarnya, khususnya para anak muda. Kini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan Blok M sebagai model pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang mengintegrasikan transportasi publik, ruang publik, aktivitas komersial, dan kehidupan perkotaan.
Peluncuran konsep desain transformasi Blok M Fase Ultimate sudah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Blok M Hub baru-baru ini. “Walaupun Blok M mengalami penyempurnaan, dibangun, direvitalisasi menjadi lebih baik, lebih modern, dan lebih tertata, saya berharap Blok M tidak kehilangan ruh utamanya. Karena bagaimanapun, ruh itulah yang menjadi salah satu kekuatan utama Blok M,” ujar Pramono.
Menurutnya, daya tarik Blok M terletak pada kemampuannya menjadi ruang pertemuan kuliner, hiburan, perdagangan, kreativitas, dan gaya hidup yang mudah dijangkau dengan transportasi publik. “Orang dari mana saja ketika datang ke Jakarta, terutama anak-anak muda, mereka selalu menyempatkan diri datang ke Blok M, mencari makanan yang baru, sesuatu yang viral, membeli sesuatu yang terjangkau. Itulah yang menjadi kekuatan Blok M,” katanya.
Dalam konsep Fase Ultimate, ruang yang dapat dimanfaatkan ditargetkan meningkat sekitar 10 kali lipat, sedangkan ruang publik bertambah sekitar lima kali lipat dari kondisi saat ini. Transformasi Blok M juga disiapkan sejalan dengan penguatan konektivitas Jakarta. Dimana, Pramono menargetkan pada 2029 jaringan MRT Utara–Selatan, LRT Kelapa Gading–Dukuh Atas, pedestrian deck Dukuh Atas, extended concourse Bundaran HI, serta pembenahan Taman Semanggi semakin terintegrasi.
Pramono berharap, meski menjalani transformasi besar, aktivitas ekonomi dan mobilitas di Blok M tidak boleh terhenti selama proses pembangunan. Untuk itu, ia meminta PT MRT Jakarta bersama pengembang menjaga keberlangsungan aktivitas pelaku usaha dan masyarakat selama masa transisi. Ia juga menekankan agar pengembangan Blok M tetap menjaga keseimbangan antara budaya, ekonomi, komersial, dan kehidupan urban. *
Baca juga: Museum Taman Prasasti: Jejak Sejarah di Tengah Kota Jakarta











