JNEWS – Wajah kawasan Malioboro segera berubah. Ikon legendaris di jantung Kota Yogyakarta ini menurut rencana bakal menerapkan full pedestrian atau pedestrian secara penuh pada November 2026. Hanya pejalan kaki, sepeda, andong, becak listrik dan kayuh yang diperbolehkan melintas. Pengecualian juga diberikan untuk armada kegawatdaruratan seperti ambulans dan pemadam kebakaran, serta transportasi umum bus listrik dan Transjogja.
Sejak tahun 2022 Malioboro sudah menerapkan semi pedestrian setelah ribuan pedagang kaki lima direlokasi ke Teras Maliboro 1 dan 2 yang terletak di Beskalan dan Ketandan. Mulai pukul 17.00 sampai 22.00 WIB, kendaraan dilarang melintas. Petugas akan memasang watter barier di teteg sepur yang berbatasan dengan Pasar Kembang. Di akhir pekan pada Sabtu dan Minggu, juga ada larangan aktivitas lalu lintas dari pukul 05.00 hingga 09.00 WIB.
Uji coba pedestrian penuh sudah dilakukan beberapa kali. Pelaku usaha di Jalan Malioboro dan Margo Mulyo yang berbatasan dengan Titik Nol Kilometer mulai menyesuaikan perubahan tersebut. Mereka harus menyesuaikan jadwal loading barang dagangan. Juga mengatur jam hilir mudik, karena banyak pertokoan yang masih digunakan sebagai tempat tinggal.
Selama uji coba, warga kawasan Malioboro masih boleh melintas melalui sirip-sirip jalan penopang. Setiap simpangan sirip dijaga petugas gabungan. Praktis pengunjung harus mencari kantong parkir terdekat dan selebihnya jalan kaki. Untuk mobil ada beberapa kantong parkir tersedia seperti di Jalan Mataram, Plaza Malioboro, Beskalan, area parkir Stasiun Yogyakarta, Sriwedani hingga Pasar Beringharjo dan area Alun-alun Utara. Namun untuk bus pariwisata, hanya di Tempat Khusus Parkir Ngabean dan Abu Bakar Ali yang harus dijangkau menggunakan shuttle, ojek online atau bisa jalan kaki namun jaraknya cukup jauh.
Terbaru sirip-sirip jalan dibuat portal yang dinamai Regol Ayom. Portal berkelir hijau dan kuning ini akan ditutup dan digembok saat uji coba berlangsung setiap Rabu dan Kamis dari pukul 09.00 sampai 22.00 WIB.
“Ini (portal) sementara dibuka karena mau ada acara WJNC (Wayang Jogja Night Carnival),” kata Rara, admin foto adat Jawa Mbah Dhe yang ditemui di Malioboro, Rabu (7/10/2026).
Lokasi jasa fotografi tempat bekerja Rara tak jauh di sirip Jalan Pajeksan. Sejak tahun 2019, mereka menawarkan jasa foto menggunakan busana adat Jawa kepada wisatawan Malioboro. Tempat pemotretan biasanya diambil di taman Kantor Gubernuran di Kepatihan, plang Malioboro, dan spot-spot menarik lainnya.

Menurutnya, uji coba pedestrian penuh di Malioboro menarik wisatawan karena dapat berfoto secara leluasa di jalan raya. Ini menjadi pemotretan ikonik, terutama bagi keluarga dan pasangan muda yang ingin mengabadikan perjalanan kisah mereka di Yogyakarta.
“Hanya untuk tempat parkirnya agak ribet. Biasanya kami janjian dulu, ketemu di toko ganti baju di sana, dan kami antarkan pakai becak di lokasi pemotretan,” ujarnya.
Baca juga: Yogyakarta Menghidupkan Kembali Budaya Jam Belajar Masyarakat
Toni, karyawan toko suvenir berbahan kulit juga tidak mempermasalahkan adanya pedestrian penuh. Namun demikian, lokasinya yang persis di samping portal Regol Ayom di Jalan Dagen, kerap dilewati pengunjung.
“Harusnya sebelum diportal dibuat akses jalan kanan kirinya bagi pejalan kaki dan disabilitas. Ini malah ketutup pot, jalannya juga tidak rata. Sering tempat saya dibuat jalan pengunjung,” ungkapnya.
Pernah suatu ketika, ada pengunjung menggunakan kursi roda yang kesulitan melintas portal. Jalan tertutup semua. Sama sekali tidak ada akses untuk disabilitas. Akhirnya kursi roda diangkat. Orang tersebut terpaksa ndlosor di bawah portal. Videonya viral di media sosial.
“Belum tahu ini apakah lokasi (portal) masih tetap, atau mau di pindah agak ke depan,” imbuh Samsudiyono, penarik becak motor yang mangkal di Jalan Beskalan.
Yono juga khawatir karena betor tidak bisa melintas di Malioboro. Hanya becak listrik yang bisa lalu lalang. Dari 18 penai betor di kawasan Beskalan, baru dua orang yang beralih ke becak listrik. “Saya juga sudah daftar, tapi belum dapat kuota,” ungkap Yono.
Ia juga belum tahu apakah nantinya portal tersebut digembok permanen atau ada petugas yang berjaga. Toh, dengan becak kayuh atau listrik, seharusnya tetap bisa melintas di sirip-sirip penghubung Malioboro.
Penertiban Jalan Perwakilan
Secara terpisah, GM Plaza Malioboro, Indra Gunawan Wicaksono mengutarakan, rencana pedestrian penuh Malioboro pada November 2026 memang tidak terlalu banyak mengubah kebiasaan pengunjung di pusat perbelanjaan ternama di kawasan tersebut. Hanya saja, pengusaha masih meraba-raba dengan regulasi yang ditetapkan Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta terkait aktivitas pendukung di kawasan tersebut.
Salah satu skema rekayasa lalu lintas yang mengemuka adalah Jalan Perwakilan yang menghubungkan Jalan Mataram akan dibuat putar balik kendaraan. Jalan Perwakilan ini persis di samping mall dan deretan hotel serta menghubungkan gedung lama DPRD DIY yang akan berubah menjadi Jogja Planning Galery.
Hanya saja, Jalan Perwakilan belum sepenuhnya steril. Masih banyak PKL yang mangkal, serta parkir liar yang mengganggu arus lalu lintas.
“Kalau skemanya besok Jalan Perwakilan untuk putar balik, sirkulasi customer dan pengunjung Malioboro akan lebih dekat. Hanya saja lokasinya saat ini belum ditata dengan baik, masih banyak PKL dan parkir liar,” ujar Indra.
Jalan Perwakilan merupakan sirip penopang utama di Malioboro, termasuk Jalan Suryatmajan yang menjadi akses ke Kantor Gubernur DIY. Dua sirip jalan ini menghubungkan sirip-sirip lainnya di sisi barat seperti Jalan Sosrowijayan, Jalan Dagen dan Jalan Beskalan.
Jalan Perwakilan memiliki akses Jalan Mataram yang menghubungkan Jalan Pasar Kembang dan Jalan Abu Bakar Ali menuju arah Kotabaru dan Jalan Solo. Jalan Mataram juga memiliki kantong parkir cukup banyak.
“Sejak pertama kali diuji coba tahun 2022, kami telah menempatkan petugas khusus di Jalan Mataram. Pengunjung ke mall akan diarahkan menuju lobi Malyabhara Hotel di Jalan Perwakilan yang sudah ada petugas lainnya. Mobil masuk lebat jalur Malyabhara dan bisa parkir di basemen mall. Kami memilih jemput bola,” sambungnya.

Plaza Malioboro dan Malyabhara Hotel yang masih satu manajemen di bawah Ambarrukmo Group, memiliki kapasitas parkir untuk 112 mobil dan 200 motor dengan tarif resmi yang berlaku progresif. Pengunjung dapat parkir dengan nyaman dan aman dengan jaminan tarif resmi dibanding parkir di tepi jalan yang kadang mematok tarif tak wajar.
Baca juga: Mengenal Tugu Jogja, Penanda Sejarah dan Spirit Kota Yogyakarta
“Hanya saja, masih banyak yang parkir di pinggir jalan karena sudah kecegat parkir liar. Kapasitas parkir kami tidak banyak, namun masih mencukupi,” ungkapnya.
Menurutnya, rencana pedestrian penuh Malioboro tidak terlalu banyak mengubah kebiasaan pengunjung di kawasan tersebut. Dari data traffic yang dimiliki, pengunjung lebih banyak mengunjungi Malioboro dan masuk ke mall pada malam hari setelah pukul 18.00 WIB. Ini juga selaras dengan pemberlakuan penutupan Malioboro mulai pukul 17.00-22.00 WIB, sehingga pengunjung atau wisatawan memilih untuk keliling Yogyakarta pada siang hari, dan melancong ke Malioboro pada malam harinya. Demikian pula dengan sistem loading yang dijalankan toko. Mereka akan menghindari jam-jam penutupan jalan, sehingga memilih loading pada pagi hari saat jam kerja.
“Di tempat kami, habit-nya sudah terbentuk. Termasuk pada saat akhir pekan. Kebanyakan yang datang adalah warga lokal yang ingin berolahraga pas jalanan sepi,” imbuhnya.
Pihaknya berharap, rencana pedestrian penuh ini dimatangkan oleh Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta. Pengusaha Malioboro mendukung kebijakan tersebut, namun regulasi perlu disertai dengan solusi konkret. Termasuk menertibkan kembali PKL dan parkir liar yang dapat menyumbat arus lalu lintas di sirip Malioboro.











