Kemenkop UKM Rancang Strategi Dorong UMKM Berbasis Sawit Tumbuh

Kemenkop UKM Menkop UKM Teten Masduki mendorong UMKM sawit tumbuh

Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menargetkan adanya 100 koperasi modern lahir di tahun ini. Dari 100 koperasi modern tadi, sektor koperasi sawit menjadi prioritas yang akan dilahirkan di tahun 2021. Maka dari itu, salah satu upaya mewujudkan hal tersebut adalah dengan merancang strategi untuk mendorong UMKM sawit tumbuh.

Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki pun mengatakan pihaknya sangat terbuka untuk adanya sinergi dalam melahirkan koperasi sawit yang modern dan mendunia. Pernyataannya itu ia ungkapkan saat menjadi Keynote Speaker pada Webinar SariAgri.id bertema Potensi Membangun dan Mengembangkan UKM Berbasis Sawit beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Pemerintah Ingatkan UMKM soal Pentingnya Digitalisasi

Menurut Teten, agenda membangun dan mengembangkan UKM berbasis sawit ini relevan di tengah upaya Pemulihan Ekonomi Nasional akibat pandemi Covid-19. Ia menilai, komoditi sawit memiliki peran penting dalam ekonomi perkebunan dan pertanian nasional. Berdasarkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), ekspor komoditas sawit di tahun 2020 mencapai USD 22,97 miliar atau setara Rp 321,5 triliun. Angka ini tumbuh naik 13,6% dibandingkan pada tahun 2019.

Maka dari itu, guna mengembangkan budi daya perkebunan sawit secara terpadu, Kemenkop UKM menurut Teten tengah manyiapkan strategi usaha kecil menengah koperasi (UKMK).

“Luasnya lahan sawit ternyata tidak lagi satu-satunya kunci untuk menjadi pemain utama sawit di dunia. Lebih dari itu, manajeman lahan, manajemen SDM, manajemen inovasi, serta teknologi dan manajemen pasar jauh lebih menentukan,” ujar Teten seperti mengutip dari keterangan resminya.

Teten mengatakan, sedikitnya ada tiga kunci agar UMKM berbasis sawit dapat tumbuh. Pertama, petaninya terkonsolidasi, tidak perorangan lagi, dan melalui koperasi. Kedua, terjalinnya kemitraan yang baik. Salah satu indikatornya adalah terfasilitasinya koperasi tani masuk ke dalam rantai nilai global. Ketiga, adanya inovasi, R&D, hilirisasi produk sawit agar memiliki nilai tambah.

Lebih dari itu, kata Teten, ada Lembaga Pengelola Dana Bergulir atau LPDB-KUMKM untuk melengkapi pembiayaan dari BPDPKS sebelumnya. “Pasar energi terbarukan dan konsumsi produk ramah lingkungan juga terus membesar, baik di dalam maupun luar negeri. Ini peluang untuk melahirkan produk-produk sawit unggulan,” tukas Teten.

Teten menambahkan, tanah Indonesia subur, petani juga jumlahnya banyak dan rajin-rajin. “Maka, kolaborasi antara koperasi tani dengan perguruan tinggi dan pelaku usaha lainnya akan mengubah kekuatan tadi menjadi keunggulan bagi bangsa kita,” kata Menkop UKM.

Baca Juga: Kemendag Gandeng Bank Indonesia Dorong UMKM Ekspor ke Pasar Global

Teten bercerita, sebelum pandemi, dirinya bersama Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil sempat ke Malaysia untuk melihat FELDA (The Federal Land Development Authority) dan FELCRA (Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority).

“Meski dua entitas itu berbeda, namun kelembagaan ini punya tugas yang sama. Yaitu, mengatasi kemiskinan dengan optimalisasi tanah rakyat, termasuk melalui perkebunan sawit terpadu,” pungkas Menkop UKM.

Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing, Produsen Batik Diminta Terapkan Industri Hijau

Exit mobile version