JNEWS – Arus mudik Lebaran 2026 tinggal sebentar lagi. Sebagai kota pariwisata, Yogyakarta bersiap menyambut kedatangan gelombang pemudik maupun pelancong yang hendak plesiran di Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishub DIY) bahkan memperkirakan sekitar 8 juta orang bakal melakukan mobilitas keluar dan masuk wilayah DIY selama arus mudik Lebaran 2026.
Meski Kementerian Perhubungan memproyeksikan jumlah pemudik Lebaran 2026 secara nasional menurun menjadi sekitar 143 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya, namun Pemda DIY tetap menyiapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas, termasuk optimalisasi jalur alternatif serta penyebaran informasi secara masif kepada masyarakat.
“Kurang lebih sekitar 8 jutaan mobilitas di DIY. Itu seluruh kabupaten/kota,” ujar Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti di Yogyakarta, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, estimasi tersebut mengacu pada pola mobilitas orang di sejumlah jalur masuk utama ke wilayah DIY, antara lain kawasan Prambanan, Jalan Godean, Jalan Wates, serta jalur-jalur alternatif yang selama ini digunakan pemudik. Informasi terkait jalur alternatif tersebut, terus disosialisasikan kembali kepada masyarakat untuk membantu kelancaran arus mudik.

Suasana kawasan Malioboro, Kota Jogja, masih menjadi primadona bagi wisatawan yang akan menghabiskan waktu libur Lebaran.
Dishub DIY menyebut, pola mobilitas pada Lebaran 2026 diperkirakan tidak jauh berbeda dengan pola saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang dinilai berjalan cukup baik. Berdasarkan evaluasi tersebut, kepadatan justru diperkirakan terjadi di wilayah Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, bukan di kawasan akses tol di sisi timur Yogyakarta.
Baca juga:Ā Pantai Siung, Surga Tebing Karang yang Memikat di Gunungkidul Yogyakarta
“Justru padatnya malah di area Tempel. Saat Nataru kemarin kita mengira di Prambanan, ternyata salah. Karena biaya tol agak mahal, jadi cenderung tidak menggunakan tol,” ujarnya.
Chrestina menjelaskan, tol fungsional PrambananāPurwomartani pada Lebaran 2026 akan diberlakukan satu arah khusus untuk arus keluar dari DIY. Kebijakan ini diambil karena infrastruktur pendukung, terutama fasilitas putar balik, belum sepenuhnya siap melayani arus masuk.
“Pengaturan ini berbeda dengan masa libur Natal dan Tahun Baru. Tol fungsional hanya digunakan untuk arus keluar agar lalu lintas tetap lancar,” jelas Erni.
Selain itu, pemantauan arus kendaraan akan dilakukan melalui back office Smart Province yang terintegrasi dengan Polda DIY. “Kita bersama kepolisian dan stakeholder lain akan melakukan pengaturan lalu lintas. Pengaturan ‘traffic light’ nanti juga diperpanjang durasinya di simpang-simpang yang kepadatannya tinggi,” ujar Chrestina.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan, Pemda DIY terus menyiapkan langkah-langkah antisipatif menghadapi lonjakan jumlah pemudik. Pemerintah pusat juga mendorong kebijakan Work From Anywhere (WFA) sebagai upaya mengurai kepadatan mobilitas menjelang Hari Raya Idul Fitri.
āNamun, tantangan tetap ada karena sebagian besar pemudik masih menggunakan kendaraan (mobil) pribadi dan sepeda motor. Oleh karena itu, kesiapan infrastruktur, pengaturan lalu lintas, serta penyampaian informasi kepada masyarakat menjadi perhatian utama,ā jelas Ni Made.
Untuk mendukung kenyamanan pemudik, Pemda DIY akan mengoptimalkan pemanfaatan masjid-masjid di sepanjang jalur mudik sebagai rest area. Selain itu, penguatan sistem penunjuk arah (signage) di titik-titik krusial juga dilakukan guna meminimalkan potensi kemacetan.
āPengalaman penanganan arus Natal dan Tahun Baru lalu yang relatif kondusif menjadi modal penting bagi kami dalam menyiapkan arus mudik Lebaran 2026,ā imbuhnya.
Ke Jateng, Hindari Masuk Yogya
Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta kendaraan yang menuju wilayah Jawa Tengah (Jateng) tidak masuk Kota Yogyakarta untuk menghindari kepadatan arus saat Lebaran 2026 mendatang. Permintaan Sultan ini juga sudah ditekankan pada arus libur Nataru silam.
“Kalau mereka memang maunya ke Purworejo (Jawa Tengah), maunya ke Semarang, lewat Magelang, ya jangan masuk kota Yogyakarta. Jangan masuk Ring Road,” kata Sultan.

Menurut Sultan, setiap libur panjang, Yogya selalu menghadapi kepadatan arus kendaraan, khususnya di pintu masuk sisi timur dari arah Solo, Jawa Tengah. Karenanya, pengaturan arus kendaraan dilakukan mulai dari kawasan Prambanan agar beban lalu lintas yang meningkat tidak menumpuk di Kota Yogyakarta.
Baca juga:Ā Ini Dia Spot Syahdu Ngabuburit di Yogyakarta
Kendaraan yang hendak menuju Purworejo, menurut Sultan, sebaiknya diarahkan melalui Piyungan, Bantul, sedangkan yang menuju Semarang atau Magelang dapat mengambil jalur ke arah Tempel tanpa melewati Ring Road maupun pusat kota. Menurut Sultan, kondisi Jalan Solo dan Ring Road sudah terlalu padat sehingga pengendalian harus dilakukan lebih awal.
Jalur alternatif seperti jalan inspeksi Selokan Mataram sebelumnya telah dibenahi bersama Pemkab Sleman untuk menambah ruang gerak kendaraan, meski kini jalur itu juga mulai dipadati.
“Sehingga terpaksa kami mengubah di tengah itu, jalan inspeksi saluran air, Selokan Mataram akhirnya kita benahi dengan Sleman untuk bisa kendaraan bisa keluar masuk situ,” ujar Sultan.
Sultan juga meminta agar petunjuk jalan dipasang dengan jelas untuk memandu pengendara dari luar daerah. Tanpa penunjuk arah yang memadai, kelancaran arus kendaraan bisa terganggu.
“Karena belum tentu yang dari luar Yogyakarta hafal jalannya,” katanya.
Ia berharap arus lalu lintas tetap bergerak meskipun dengan kecepatan rendah agar kemacetan tidak mengunci ruas-ruas utama di Kota Yogyakarta. *











