Presdir JNE: DEAL Dorong Pemerataan Layanan Logistik

deal dorong pemerataan layanan logistik

Presiden Direktur JNE M. Feriadi Soeprapto yang juga menjabat sebagai penasehat Asperindo.

JNEWS – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menginisiasi gerakan Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026. DEAL adalah sebuah gerakan solidaritas antara pemangku kepentingan untuk memperkuat dan mempercepat transformasi digital Indonesia. Selain itu juga menjadi wadah gotong royong antara pemerintah pusat, industri, akademisi, investor, startup, UMKM, komunitas, dan pemerintah daerah dalam satu ruang kolaborasi yang menghasilkan aksi nyata.

Melalui DEAL 2026, Kemkomdigi bersama berbagai pemangku kepentingan menyusun delapan paket kolaborasi DEAL yang kemudian dideklarasikan pada Selasa (23/6/2026) di Jakarta, yang disaksikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Menurut Meutya, DEAL merupakan upaya Kemkomdigi untuk merajut solidaritas digital di Indonesia.

Presiden Direktur JNE M. Feriadi Soeprapto, yang turut hadir mengungkapkan inisiatif DEAL 2026 sebagai langkah positif yang menunjukkan kehadiran pemerintah dalam mendukung pengembangan industri logistik nasional.

“Sangat positif karena menunjukkan bahwa pemerintah hadir dalam upaya membuat biaya logistik menjadi lebih terkontrol. Selain itu, pelaku usaha juga diharapkan bisa lebih optimal dalam menjalankan bisnisnya,” ujar M. Feriadi yang saat ini menjabat sebagai penasihat dari Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO).

DEAL 2026 dapat menjadi sarana untuk mendorong kolaborasi antarpelaku usaha logistik, khususnya bagi perusahaan yang ingin memperluas jangkauan layanan namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur jaringan. “Perusahaan-perusahaan yang belum memiliki jaringan yang memadai bisa berkolaborasi dengan perusahaan yang sudah memiliki infrastruktur dan jaringan yang luas. Ini akan mempercepat pemerataan layanan logistik di berbagai daerah,” tambahnya.

Selain itu, DEAL 2026 sebagai peluang strategis bagi industri logistik, termasuk bagi JNE dan perusahaan-perusahaan lain yang terlibat dalam ekosistem tersebut. “Saya melihat, ini sebagai sebuah opportunity. Dengan adanya kolaborasi dan interkoneksi yang lebih kuat, akan terbuka peluang baru bagi JNE maupun perusahaan-perusahaan logistik lainnya untuk berkembang,” jelasnya.

Kolaborasi antara perusahaan logistik nasional dengan pelaku usaha di daerah akan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal dan UMKM. “Jika pelaku logistik di daerah didorong untuk berkolaborasi dengan perusahaan yang sudah mapan, maka produk-produk lokal, UMKM, dan berbagai kearifan lokal akan memiliki kesempatan lebih besar untuk dipasarkan, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga ke pasar nasional yang lebih luas,” urainya.

Baca juga: Melongok Kiprah JNE di Destinasi Wisata Padang Savana

Sisi Lain, M.  Feriadi menyoroti dua isu penting yang menjadi perhatian industri logistik saat ini, yakni keamanan cyber dan efisiensi biaya logistik. Menurutnya, kedua aspek tersebut memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku usaha.

Meningkatnya pemanfaatan teknologi digital juga membawa risiko baru berupa serangan cyber yang harus diantisipasi bersama. “Perkembangan teknologi yang begitu masif membuat ancaman cyberattack menjadi sesuatu yang harus kita waspadai bersama. Di satu sisi teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain ada pihak-pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan yang merugikan,” pungkasnya. *

Exit mobile version