Sebagian Saldo yang Hilang

Cerpen Oleh: Ratna Sari, JNE KCU Kendari

Brak, breeettt

Rain menggeser-geser kasar gantungan baju di lemarinya, kesel..berapa kalipun digeser tidak ada satupun pakaian yg ia rasa cocok buat dipakai di arisan sosialita sore nanti.

Rain ke luar kamar, ke ruang tv di mana Andy sedang duduk santai menikmati film action dari layar youtube.

Rain menghempaskan tubuhnya di sofa persis di samping suaminya.

“Ada apa Ma, kelihatan kesel gitu ?”

“iya..mau arisan sama temen-temen ntar sore, ga ada baju” mulut Rain manyun, Andy geleng-geleng kepala.

“Lah..bajumu kan ada selemari gitu Ma, masak sih gak ada yg bisa dipakai ?”

“ya gak ada lah Pa, masak sih ketemu ibu-ibu itu mama harus tampil dengan baju-baju lama, sederhana gitu..gak ada yang branded, outfit yang matching sama tasnya juga gak ada. Papa sih, tiap kali Mama mau beli dress dan tas yang branded gak pernah dikasih, beli baju yg harga 5 juta aja gak dibolehin, jadinya kan Mama yg malu kalo ngumpul” cerocos Rain panjang, kadang sebel dia ngeliat suaminya yang perhitungan banget soal belanja bajunya, kalo masuk mal dan tangannya sudah beralih ke tas atau baju di atas 5 jutaan saja mesti kening suaminya langsung berkerut.

“Hahahaa..kamu kan tetep cantik Ma walau gak pakai baju 10 juta..tas kamu juga kan keren dan keliatan wah juga kalo kamu yang pakai, gak ada yang tau kok kalo harganya gak nyampe sejuta” Andy tertawa kecil.

“Halah..itu kan Papa aja yang ga ngerti, ibu-ibu sosialita itu kan matanya tajam banget..ngerti barang mahal dan nggak, gini aja deh Pa..Mama keluar bentar ya ke butik A beli satu set yang kemaren sempat Mama lihat, gak mahal kok Pa cuman 12 juta udah dapet satu set baju sama tas tangannya..buat Mama pake arisan sore ini ya Pa” gelayut manja Rain, merajuk ke suaminya.

Andy menatap Rain, keningnya berkerut dalam, kepalanya menggeleng pelan.

“Ma, itu kan mahal, bisa buat bayar uang sekolah anak-anak dua bulan lho”

“ah dasar, Papa pelit !” hentak kaki Rain beranjak meninggalkan Andy, masuk ke kamarnya.

Kesel banget hati Rain, gaji Andy suaminya sebagai seorang manajer area di perusahaan international itu tentunya sangatlah bisa buat membelikan ia baju-baju harga jutaan bahkan puluhan juta, tapi jarang sekali ia diijinkan membelinya. Kumpulan baju di lemarinya paling mahal hanya 1-2 juta saja, boro-boro punya tas tangan harga puluhan juta yang harga lima juta seingatnya cuman sekali ia beli pas liburan ke Singapura bulan lalu.

Rain sering membaca keluh kesah ibu-ibu di social media tentang suami pelit dan sekarang Rain benar-benar merasa suaminya termasuk sebagai golongan suami pelit.

Rain pulang dari arisan sore ini dengan mata berbinar, iya..Rain akhirnya mutusin tetap berangkat arisan kumpul teman-teman sosialitanya, syukurnya ada setelan bajunya yang beli di Singapura bulan lalu jadinya gak kalah gaya deh.

“Pa..” Rain langsung menghampiri Andy yang sedang asik di mini bar membuat kopinya sendiri di mesin kopi. Untuk urusan bikin kopi ini walaupun di rumah ada pembantu tapi suaminya memang lebih suka bikin sendiri, lebih pas katanya.

“eh, udah balik Ma, gimana, seru kumpul-kumpulnya ? Mau Papa bikinin kopi juga?”, sambut Andy, mencium pipi Rain sekilas dan mengambil secangkir kopi lagi,

“Biasalah Pa, mesti seru kalo kumpul dengan ibu-ibu cantik itu..eh Pa, tapi ada yang asik lho”, Rain mengeluarkan bungkusan kecil dari tasnya..sebuah jilbab segi empat merah hati.

” Cantik ya Pa, bordirannya rapi, elegan banget..merek terkenal pula”, cerocos Rain riang.

“Tadi tuh Bu Reno yang bawa, pulang dari Eropa, ini kan lagi nge-trend banget Pa, ini lho logo brand-nya kelihatan jelas deh pas dipake, cuman dua setengah lho”.

Andy melirik sepintas.

“Keliatannya biasa aja Ma, mirip yang banyak dijual di mal-mal itu juga, selembar gini aja 250ribu ya?”

“Hadeh Paps, ini kan merek terkenal, mana ada harga segitu, dua setengah juta Papa..”

“Hah? Mama..itu kan mahal!”

Rain cemberut, menghentakkan kakinya sedikit di lantai , kesel.

“Udah ah, Mama mau mandi”.

Kembali di benak Rain menari-nari kalimat “Fix, suamiku PELIT”.

Sabtu pagi ini, seperti biasa di hari Sabtu, jadwal rutin Rain buat belanja mingguan di swalayan, namun pagi ini Rain sempatkan mampir ke JNE terlebih dulu untuk mengirimkan hadiah kue-kue dan penganan favorit ibu dan adiknya.

Mengirimkan hadiah untuk orang terkasih sering dilakukan oleh Rain, tidak mesti di hari ultah namun setiap bulan selalu ada saja yang membuat Rain melangkahkan kaki mengirimkan hadiah melalui JNE ini.

Keluar dari counter JNE, Rain mampir ke ATM yang terletak tepat di sampingnya.

Rain melotot melihat saldo rekening terpampang di depan matanya, sudah beberapa bulan ini dia iseng memperhatikan perubahan saldo di rekening suaminya setiap kali menarik duit di ATM, dan tiap bulan ia selalu melihat perubahan angka yang mencolok sekali tarik. Hampir setengah dari gaji suaminya mendadak berkurang setiap bulannya dari rekening!

Mata Rain menyipit, keningnya berkerut dalam, wajah cantiknya terlihat begitu serius berpikir.

Pantesan aja duit rasanya gak cukup-cukup buat ganti mobil, tiap bulan hilang hampir setengah..hufth, nyesel kok baru ngecek saldo tiga bulan belakangan ini saja.

Pas pertama tau Rain mikir mungkin Andy, suaminya, ada perlu penting dan narik langsung di bank, bulan kedua iseng diperhatikan lagi dan Rain sudah berniat menanyakan ke suaminya tapi lupa terus, dan ini sudah bulan ketiga..gak bisa dibiarin, ini pasti sudah kejadian lama, sama istri sendiri pelit eh ternyata royal di luar!

Rain memarkir mobilnya asal saja di depan rumah, hari ini sabtu, suaminya gak ngantor tapi anak-anak keluar semua ikut kegiatan ekskul sekolah.

“Bapak di mana mbak?”, tanya Rain ke Mbak Narti pembantu rumahnya yang lagi sibuk membersihkan dan mengepel ruang tamu.

“eh Ibu, begitu Ibu keluar tadi Bapak juga langsung masuk ruang kerja”, kata mbak Narti sopan, dan segera melanjutkan ngepelnya kembali.

Rain membuka pintu ruang kerja Andy, ruang kerja ini terletak tepat di samping kamar tidur mereka. Terlihat Andy yang sedang membaca sebuah majalah bisnis ekonomi, mengangkat kepalanya begitu mendengar suara pintu terbuka.

“Eh, cepet banget Ma, kirain tadi mau langsung ke swalayan”.

Rain menaruh tasnya di kursi seraya menyodorkan struk saldo ATM ke Andy.

“Apaan nih Ma?”, tanya Andy heran.

“Mama yang harusnya nanya Pa, ada apa Pa, kenapa tiap bulan duit gaji Papa mesti berkurang hampir setengahnya.. itu lari kemana Papa?”, nada suara Rain dari lembut mulai sedikit naik dan bergetar, Andy sedikit bengong menatapnya.

“Ma, kok bisa tau? Sejak kapan Mama rajin ngecek saldo rekening Papa?”.

Mata Rain sedikit melotot, kepalanya mendadak terasa pusing, kalimat suaminya tadi merupakan pengakuan langsung dan apalagi yang bisa menyebabkan uang sebesar itu digunakan rutin tiap bulan selain…wanita lain!

Mata Rain mulai berair, menyeka matanya kembali suara Rain bergetar.

“Gak nyangka Papa tega sama Mama, siapa dia Pa? Sekantor dengan Papa? Cantik? Bisa ngabisin duit sebanyak itu pasti perawatannya mahal yaa.. pantesan saja selama ini belanja Mama dibatasin ternyata.. oh Papa, tegaaa”, menahan isak tangisnya Rain berlari ke luar dan masuk ke kamarnya diiringi suara berdebum pintu ditutup.

“Mama…jangan gitu, Papa jelasin dulu !” teriak Andy yang tidak dipedulikan Rain.

Makan siang hari itu diwarnai dengan suasana hening, Rain diam total, tak ada sepatah katapun ia keluarkan. Ia makan bersama Andy di meja makan tapi tanpa senyuman dan suara riangnya, Andy benar-benar merasa sepi.

“Ma.. Mama mau denger penjelasan Papa?”, lembut kalimat Andy begitu mereka selesai makan, Rain melirik sekilas tampak bulir air mata turun dari sudut matanya, Andy tak tahan lagi ia merengkuh dan memeluk bahu istrinya itu dari sakunya ia mengeluarkan buku bank yg mungil.

“ini Ma..”.

Rain menatap bingung.

“Buka saja, mungkin dapat menjelaskan kegalauan Mama”.

Rain membuka buku itu dan mendapati jumlah yang besar tertulis di sana, ia menatap Andy menunggu penjelasan lagi.

“Iya Ma, setiap bulan sepertiga gaji Papa didebit otomatis masuk ke rekening ini, Papa sengaja gak ambil ATM-nya biar gak bisa gampang ditarik, ini tabungan untuk kuliah anak-anak kita Ma”.

“Papa gak mau Mama nanti ikut pusing mikirin biaya kuliah yang pasti gede, jadi Papa atur dari awal seperti ini, jadi ATM yang ada sama Mama bisa bebas Mama gunain”.

Owww…Rain takjub mendengarnya, ternyata, buru-buru ia menghapus butir air mata yang masih tersisa di pipi dan matanya

“Papa.. maafin Mama yang salah sangka, maklum perempuan Pa, hehee”.

Andy hanya tersenyum mendengarnya, lega ia melihat binar ceria lagi di mata Rain, istri yang sangat dicintainya.

“Lho, tapi Pa.. sisanya ke mana, ini kan cuman sepertiga gaji Papa yang didebit tiap bulan, sisanya kemana Papa?”, Rain kembali menatap sedikit curiga.

“yuk, ikut Papa, kita jalan bedua mumpung anak-anak lagi ke sekolah”, Andy menarik tangan Rain.

Mobil diparkir di depan sebuah Pondok Tahfidz besar, Andy menggandeng tangan Rain masuk ke dalam, masuk ke dalam ruangan kantor pondok tersebut.

Assalamualaikum Ustadz”, sapa Andy ke seorang Bapak berpenampilan bersih cerah yang tampak sedang serius bekerja dibelakang mejanya.

Waalaikumussalam warohmatullah wabarokatuh, Pak Andy.. masuk Pak, ya Allah senang sekali melihat Bapak, wah dengan istri ya Pak”, senyum Ustadz tersebut, menyalami Andy dan mengangguk ramah ke arah Rain.

“Iya, Ustadz perkenalkan ini isteri Saya, Rain”.

Rain dan Andy duduk di ruang tamu kantor pondok tahfidz tersebut, dan setelah cangkir teh dihidangkan merekapun kembali mengobrol.

“Ah iya, Pak Andy sekali lagi kami dari pondok tahfidz mengucapkan terimakasih, Bapak sebagai salah satu donatur tetap pondok ini telah membantu kelangsungan pondok ini setiap bulannya, semoga Allah membalas kebaikan Bapak-Ibu dengan sebaik-baiknya balasan, aamiin“.

Rain mendengar kata demi kata yang diucapkan Ustadz dengan takjub, ia sama sekali tidak tau kalau Andy sedermawan ini.

“Di pondok tahfidz ini ada  sekitar 60 anak yatim piatu yang benar-benar membutuhkan bantuan, dan donasi rutin Pak Andy setiap bulannya ini sangat membantu mereka Bu, alhamdulillah mereka dapat bersekolah dengan baik dan lancar, bahkan beberapa di antara mereka berprestasi juara hingga tingkat nasional. In syaa Allah mereka menjadi penerus bangsa yg membanggakan dan dapat terus membangun bangsa ini kelak”.

Seiring dengan penjelasan Ustadz tersebut, kembali mata Rain berkaca-kaca, bukan lagi karena marah, sedih dan galau, melainkan karena rasa haru dan syukur tak terkira, pelan ia meremas tangan Andy, Andy melirik dan melihat senyuman di wajah Rain, Andy mendekatkan mulutnya ke telinga Rain dan berbisik pelan.

“Gimana, masih merasa perlu beli tas branded belasan juta rupiah?”, godanya.

Muka Rain bersemu merah, kini ia sadar..

Batinnya berkata “Suamiku GAK pelit, Suamiku HEBAT!”.

 

“even if he is not leading the way i want him to lead, my husband is still a great leader”

Exit mobile version