JNEWS – Kabupaten Jember dikenal sebagai produsen komoditas pertanian seperti kakao, gula, kopi, tembakau, jeruk, dan kini juga mulai dikenal sebagai produsen buah naga, belimbing dan alpukat.
Untuk kopi dan kakao, Kabupaten Jember cukup istimewa karena dibangun pusat penelitian kopi dan kakao (Puslitkoka). Lembaga ini menjadi pusat unggulan nasional dalam riset dan pengembangan kedua komoditas tersebut, mulai dari budidaya, pascapanen, hingga industri hilir.
Puslitkoka berdiri pada 1 Januari 1911 pada masa kolonial Belanda dengan nama Besoekisch Proefstation. Puslitkoka berada di bawah pengelolaan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan memiliki visi menjadi lembaga penelitian unggul bertaraf internasional. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai program penelitian, pelatihan, dan diseminasi teknologi yang berorientasi peningkatan mutu serta daya saing kopi dan kakao.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia merupakan salah satu daya tarik wisata agro yang terletak di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji, sekitar 12 km ke arah selatan Kota Jember. Berdiri sejak tahun 1911 dan merupakan satu-satunya lembaga penelitian kopi dan kakao di Indonesia.
Dengan lahan seluas 160 hektare yang dikelilingi areal perkebunan kopi dan kakao (coklat) yang asri, pengunjung dapat menyaksikan sekaligus mempelajari pembibitan dan pembenihan, proses pengolahan, sekaligus menikmati secara langsung hasil produksi kopi dan kakao berupa minuman panas/dingin, coklat, permen, hingga ice cream.
Hasil produksi ini dapat dijadikan bahan oleh-oleh khas Jember. Tersedia pula fasilitas perpustakaan, aula, guest house, lapangan tenis, masjid, serta gazebo.
Selain kopi, Jember dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau cerutu terbaik di Indonesia. Daun tembakau Jember memiliki karakter yang kuat, tebal, aromatik, dan halus sehingga banyak menjadi pilihan industri cerutu premium dunia.
Untuk tebu, tidak kalah pentingnya karena ada dua Pabrik Gula (PG) yang ada di Kabupaten Jember yakni PG Semboro dan PG Djatiroto. Di mana sampai saat ini dua pabrik gula tersebut masih berproduksi dan menghasilkan ratusan ribu kg dalam masa gilingnya. Kedua pabrik gula tersebut menjadi bukti eksistensi sampai saat ini lahan tebu di Kabupaten Jember masih memadai menjadi bahan baku gula.
Jeruk Semboro, Dikenal Ikon Pusat Jeruk Siam
Nama jeruk Semboro bahkan telah melekat kuat sebagai ikon buah jeruk dengan cita rasa manis dan kualitas premium yang dikenal hingga tingkat nasional. Sebenarnya sentra produksi Jeruk semboro tidak hanya di Desa Semboro, tetapi juga melebar ke wilayah sekitar sejak lebih dari 20 tahun lalu dan bertahan hingga saat ini meski kini banyak yang beralih diversifikasi ke jenis tanaman lain.

Jeruk asal Jember kerap menjadi rujukan kualitas, baik untuk konsumsi lokal maupun distribusi ke berbagai daerah di Indonesia. Reputasi tersebut dibangun dari konsistensi rasa, ukuran buah, serta aroma khas yang dimiliki jeruk Semboro. Meski dari penampakan jeruk Semboro agak kurang menarik namun dari rasa tidak kalah diadu dengan jeruk produksi daerah lain di Indonesia.
Produksi jeruk di Kabupaten Jember tidak hanya bertumpu pada satu wilayah. Setidaknya terdapat enam kecamatan yang selama ini menjadi sentra utama penghasil jeruk dan berkontribusi besar terhadap sektor hortikultura Jawa Timur.
Baca juga: Menjelajahi Keindahan Surgawi dan Tantangan Fisik di Kawah Ijen Banyuwangi
Keenam daerah tersebut meliputi Semboro, Umbulsari, Bangsalsari, Sumberbaru, Jombang, dan Gumukmas. Wilayah-wilayah ini memiliki karakter tanah dan iklim yang mendukung budidaya jeruk sejak puluhan tahun lalu.
Tak heran, jeruk Semboro kerap menjadi primadona pasar, terutama saat musim panen raya tiba. Bahkan, nama “Semboro” sendiri sudah identik dengan jeruk manis berkualitas tinggi.
Produksi Mulai Menurun, Beralih Tanam Buah Lain
Dalam lima tahun terakhir, produksi jeruk siam di Jember kususnya Semboro mulai menurun. Sejumlah faktor diduga menjadi penyebabnya, mulai dari alih fungsi lahan, perubahan pola tanam, hingga tantangan cuaca dan regenerasi petani. Penurunan produksi ini membuat posisi Jember sebagai daerah penghasil jeruk terbesar mulai tergeser. Meski kualitas tetap diakui, secara kuantitas Jember kini tak lagi berada di puncak.
Seperti yang terjadi di Desa Sukoreno, kini banyak petani jeruk mulai beralih tanam aneka buah yang selama ini tidak pernah ditanam dan ternyata berhasil. Seperti buah naga sempat booming lima tahun lalu, banyak ditanam di area pekarangan. Demikian juga belimbing, di Desa Sukoreno banyak yang menanam di pekarangan yang kurang produktif, bukan area sawah utama.
Selain itu juga ada jambu kristal, tidak hanya ditanam di area pekarangan melainkan banyak yang ditanam di sawah dengan lokasi yang tidak banyak dialiri air irigasi. Sempat booming juga lima tahun lalu, pernah menjadi komoditas andalam petani Desa Sukoreno.

Dan yang terbaru yakni buah alpukat. Buah yang selama ini identik dengan tanaman yang cocok untuk dataran tinggi dan pegunungan, kenyataannya buah alpukat cukup subur dan banyak menghasilkan. Cukup banyak varian buah alpukat yang ditanam, mulai miki, markus, alligator dan varian lain yang mulai tahun ini banyak menghasilkan buah dengan ukuran yang besar dan menarik minat pembeli.
“Tanam alpukat ini sudah sekitar 4 tahun lalu dan baru tahun ini bisa buah besar-besar dan banyak. Tahun lalu berbuah namun tidak terlalu banyak masih bisa dihitung, tapi tahun ini jumlahnya lumayan banyak,” kata Mahfud Ahmadi, salah satu petani alpukat yang mulai memanen tanaman alpukatnya.
Diakui Mahfud awalnya tanam alpukat untuk memberikan variasi tanam di pekarangan yang ada di sekitar rumah. Karena buah naga dan kambu biji sudah ada, dilengkapi dengan tanaman alpukat dan ternyata menarik juga melihat hasil alpukatnya yang besar-besar dan bagus.
“Per kilo alpukat di Desa ini kisaran Rp 10 ribu – Rp 20 ribu per kg bergantung besaran dan kualitas penampakan fisik alpukat. Bagi petani tentunya sangat senang meski ditanam di pekarangan ternyata bisa menjadi komoditas lain dan cukup laku di pasaran,” ujar Mahfud. *












