JNEWS – Takbiran Idulfitri dilakukan dengan mengumandangkan kalimat “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Selama itu pula, umat Islam dianjurkan memperbanyak bacaan ini. Takbir mulai digaungkan sejak matahari terbenam di hari terakhir Ramadan, menjadi penanda bahwa bulan suci telah berakhir.
Dikutip dari website NU Online, setelah menyempurnakan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, umat muslim diperintahkan menyambut Idulfitri dengan menggemakan takbir, mengagungkan asma Allah. Kalimat takbir menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Besar.
Kalimat takbir tersebut adalah bentuk pengagungan akan kebesaran Allah Swt. Ungkapan ini pun membawa pada kesadaran akan fitrah manusia sebagai hamba Allah dan tidak sepantasnya menyombongkan diri.
Fakta Unik Takbiran Idulfitri di Indonesia
Selain menjadi bentuk syukur, takbiran juga menjadi ajang silaturahmi. Banyak orang yang berkumpul, baik di masjid, musala, atau di jalanan untuk bersama-sama bertakbir.
Di Indonesia, malam takbiran adalah salah satu tradisi yang selalu dilakukan baik di kota maupun desa. Tradisi ini dilakukan dengan berbagai cara seperti pawai obor, beduk keliling dengan mengumandangkan takbir yang dilakukan pada malam hari tepat sebelum Lebaran.
Berikut ini beberapa fakta menarik tentang takbiran Idulfitri di Indonesia yang hadir setahun sekali.
1. Pawai Takbiran dengan Beduk Keliling
Salah satu tradisi takbiran yang paling khas di Indonesia adalah pawai beduk keliling. Biasanya, anak-anak dan remaja akan membawa beduk yang dihias dan mengaraknya keliling kampung sambil mengumandangkan takbir. Tradisi ini semakin meriah dengan lampu-lampu warna-warni dan petasan.
Baca juga: Ini Aturan Pembatasan Truk Angkutan Barang Masa Mudik Lebaran 2025
2. Takbiran dengan Kendaraan Hias
Di beberapa daerah, takbiran dilakukan dengan kendaraan hias dan berkeliling kota. Mobil atau truk dihias dengan berbagai ornamen Islami, seperti miniatur masjid hingga ketupat. Biasanya, kendaraan ini akan diiringi oleh rombongan yang berjalan kaki sambil bertakbir.
3. Pawai Obor
Pawai obor bambu menjadi salah satu tradisi unik di malam takbiran Idulfitri. Biasanya yang melakukan pawai ini terdiri dari kumpulan remaja masjid, ormas hingga masyarakat umum. Adapun penggunaan obor memiliki makna sebagai simbol cahaya, pengetahuan, dan petunjuk di tengah kegelapan serta menjadi simbol rasa syukur.
4. Lomba Takbiran Antarkampung
Di beberapa daerah, malam takbiran Idulfitri juga menjadi ajang perlombaan. Kampung-kampung berlomba-lomba membuat arak-arakan paling meriah, baik dari segi dekorasi, kreativitas, maupun kekompakan dalam melantunkan takbir. Ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat malam takbiran semakin seru.
5. Takbiran di Atas Perahu
Ada lagi salah satu tradisi takbiran Idulfitri yang unik yaitu takbiran di atas perahu. Biasanya ini dilakukan di daerah Kalimantan oleh masyarakat yang tinggal di daerah sungai. Mereka akan mengarak perahu yang dihiasi dengan lampu warna-warni sambil bertakbir. Tradisi ini menciptakan pemandangan yang indah dan terasa sangat magis.
Tradisi Takbiran Idulfitri di Berbagai Daerah
Di Indonesia, takbiran tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga bagian dari budaya. Banyak daerah memiliki cara unik dalam merayakan malam takbiran. Tradisi ini diwariskan turun-temurun, menciptakan suasana yang khas dan selalu dinanti-nanti oleh masyarakat. Berikut tradisi malam takbiran Idulfitri yang masih lestari dilakukan di berbagai kota di Indonesia.
1. Nganteuran, Jawa Barat
Nganteuran berasal dari bahasa Sunda yang berarti mengantar. Tradisi ini telah dilakukan secara turun temurun dan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Biasanya nganteuran dilakukan satu atau dua hari sebelum Idulfitri.
Masyarakat di Tanah Sunda biasanya saling mengantarkan makanan dengan wadah berupa rantang susun tradisional. Adapun yang melakukannya adalah anak yang sudah berkeluarga lalu mengantar makanan ke orang tua, keluarga lebih tua, dan para tetangga.
Dalam tradisi nganteuran, makanan yang diantarkan berupa lauk pauk beragam. Adapun makna dari tradisi ini adalah saling berbagi dan mempererat silaturahmi.
2. Tumbilotohe, Gorontalo
Tumbilotohe atau malam pasang lampu adalah tradisi menjelang Idulfitri yang masih lestari dilakukan hingga saat ini. Tradisi memasang lampu ini bukan lampu bohlam melainkan lampu minyak yang diletakkan di halaman rumah, masjid, jalanan hingga perkantoran.
Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo yakni ‘tumbilo’ yang artinya memasang dan ‘tohe’ artinya lampu. Tradisi ini biasanya digelar sejak tanggal 27 Ramadan dan menjadi penanda bahwa bulan suci ini akan berakhir.
Pemandangan kota Gorontalo saat tradisi tumbilotohe ini sangat indah dan memesona dari cahaya lampu minyak serta hiasan ornamen khas Lebaran. Tradisi tua ini makin menarik ketika warga Gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bungo dan festival bedug.
3. Meugang, Aceh
Tradisi malam takbiran Idulfitri di Aceh disebut meugang. Kegiatan ini telah dilakukan sejak dulu dan masih lestari hingga sekarang.
Meugang adalah tradisi membagikan daging atau hidangan pada orang yang kurang mampu di saat malam takbiran. Adapun pembagian hidangan ini bertujuan agar orang yang kurang mampu bisa merasakan keberkahan dan kebahagiaan Lebaran keesokan harinya.
4. Nujuh Likur, Bengkulu
Di kota Bengkulu ada tradisi yang kerap dilakukan menjelang Idulfitri. Tradisi ini disebut nujuh likur yang berarti dua puluh tujuh dalam bahasa Serawai. Sesuai dengan namanya, tradisi ini dilakukan tiap hari ke-27 di bulan Ramadan.
Tradisi nujuh likur atau ronjok sayak dilakukan dengan cara membakar tempurung kelapa. Dibutuhkan tempurung kelapa disusun satu persatu dengan sebatang kayu atau besi, hingga setinggi orang dewasa. Lalu selepas Magrib, tempurung tersebut dibakar di bagian puncak. Perlahan, api melahap habis tempurung hingga ke bagian paling bawah.
5. Pawai Susur Sungai, Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan yang dikelilingi oleh sungai-sungai besar, memiliki tradisi unik terkait takbiran Idulfitri. Ada pawai susur sungai kerap dilakukan oleh masyarakat yang menempati wilayah Daha, meliputi Kecamatan Daha Barat, Daha Utara, dan Daha Selatan. Uniknya malam takbiran di wilayah ini menggunakan perahu klotok yang dihias dan menyusuri Sungai Negara.
6. Meriam Karbit, Pontianak
Di Pontianak, suasana meriah menyambut Idulfitri sudah terasa sejak penghujung Ramadan. Tepatnya saat 3 hari sebelum Idulfitri, setiap malam akan terdengar pesta meriam karbit.
Menurut sejarah, meriam karbit ini dahulu dijadikan alat untuk mengganggu kuntilanak yang kerap mengganggu Sultan Syarif ketika baru membangun Kota Pontianak. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini pun beralih menjadi cara menyambut Idulfitri.
Festival Meriam Karbit biasanya digelar di bagian sisi Sungai Kapuas. Suara meriam yang menggelegar silih berganti disambut dengan riuhnya masyarakat yang bergembira saat menyaksikannya. Tradisi ini pun terus berlangsung hingga malam 1 Syawal yang diiringi suara takbir.
Baca juga: Perbedaan Tradisi Ramadan di Indonesia dan Negara Lain
Malam takbiran Idulfitri di Indonesia penuh warna dan sarat makna. Tradisi tersebut tidak hanya memperkuat nilai keagamaan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di tengah masyarakat. Dengan semangat takbiran, Idulfitri pun terasa semakin istimewa dan membahagiakan.