JNEWS – Tulum Meksiko merupakan salah satu kota benteng terakhir yang dibangun dan dihuni oleh suku Maya sebelum kedatangan bangsa Spanyol. Lokasinya berada di tepi Laut Karibia, tepatnya di Semenanjung Yucatán, membuat kota ini punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Maya.
Awalnya, kota ini dikenal dengan nama Zama, yang berarti fajar atau matahari terbit karena menghadap langsung ke arah timur. Nama Tulum, yang berarti tembok atau pagar, baru digunakan kemudian untuk menggambarkan dinding batu besar yang mengelilingi tiga sisi kota sebagai perlindungan dari serangan musuh.
Penasaran dengan kota kuno yang indah ini? Yuk, kita jelajahi mulai dari sejarahnya.
Jejak Sejarah Tulum Meksiko

Jejak permukiman di Tulum Meskiko sebenarnya sudah ada sejak abad ke-6. Namun, pembangunan besar-besaran baru dilakukan sekitar abad ke-13 hingga ke-15, saat Tulum mencapai masa kejayaannya.
Kota ini berkembang sebagai pelabuhan utama yang menghubungkan wilayah pesisir dengan kota-kota pedalaman, termasuk Cobá. Beragam komoditas bernilai tinggi seperti batu giok, obsidian, garam, kapas, dan biji kakao diperdagangkan di sini baik melalui jalur laut maupun darat.
Tulum juga menjadi salah satu pusat keagamaan penting bagi suku Maya, terutama untuk pemujaan terhadap Diving God, dewa yang dikaitkan dengan angin, hujan, dan lebah madu.
Pada tahun 1518, rombongan penjelajah Spanyol yang dipimpin Juan de Grijalva mendarat di Tulum. Mereka dibuat kagum oleh benteng besar yang berdiri kokoh di tepi pantai. Meski bangsa Spanyol mulai masuk, penduduk asli suku Maya masih mampu bertahan.
Namun, Tulum akhirnya ditinggalkan sekitar akhir abad ke-16. Penyebab utamanya bukan perang, melainkan wabah penyakit seperti cacar yang dibawa oleh bangsa Eropa. Penyakit tersebut menyebar luas dan mengurangi populasi masyarakat Maya secara signifikan, sehingga kota ini perlahan ditinggalkan.
Setelah kosong selama berabad-abad, reruntuhan Tulum Meksiko pun tertutup hutan tropis yang lebat. Situs ini kembali populer pada tahun 1843 ketika penjelajah John Lloyd Stephens bersama ilustrator Frederick Catherwood mendokumentasikan kondisi kota kuno tersebut.
Hingga akhir abad ke-20, kawasan di sekitarnya masih berupa desa nelayan yang tenang. Memasuki awal tahun 2000-an, Tulum berkembang pesat menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Meksiko. Kawasan ini lantas dikenal karena perpaduan antara situs sejarah, pantai indah, dan konsep wisata yang ramah lingkungan.
Baca juga: Chichén Itzá dan Kehebatan Arsitektur Suku Maya di Meksiko
Daya Tarik Wisata Utama Tulum Meksiko

Dari peninggalan peradaban Maya hingga kawasan konservasi yang masuk daftar UNESCO, Tulum Meksiko memiliki banyak tempat menarik untuk dijelajahi. Berikut rekomendasi destinasi yang paling populer di Tulum.
1. Tulum Archaeological Zone
Sulit memisahkan Tulum Meksiko dari reruntuhan kota Maya yang berdiri di atas tebing menghadap Laut Karibia. Pemandangan laut biru berpadu dengan bangunan batu berusia ratusan tahun menciptakan panorama yang membuat situs ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.
Bangunan paling ikoniknya adalah El Castillo, yang dulu pernah dimanfaatkan sebagai penanda bagi kapal-kapal dagang Maya. Api yang dinyalakan di puncaknya membantu para pelaut melewati jalur sempit di antara terumbu karang.
Tak jauh dari sana ada Temple of the Frescoes, bangunan yang diperkirakan dipakai untuk mengamati pergerakan benda langit. Di dalamnya masih tersisa lukisan dinding dan ukiran Descending God, salah satu sosok penting dalam kepercayaan Maya.
Di sini juga ada Temple of the Wind God, kuil kecil di tepi tebing untuk menyembah dewa angin. Seluruh kawasan inti Tulum Archaelogical Zone dikelilingi tembok batu sepanjang sekitar 784 meter. Dari benteng inilah nama Tulum*, yang berarti tembok atau pagar, berasal.
2. Gran Cenote
Jika ingin merasakan sisi alami Tulum Meksiko, Gran Cenote layak masuk daftar kunjungan. Kolam alami ini terbentuk dari runtuhan batu kapur dan memiliki air berwarna biru toska yang sangat jernih. Tak heran, Gran Cenote menjadi salah satu lokasi favorit untuk snorkeling maupun scuba diving.
Dua kolam utama di kawasan ini terhubung oleh lorong gua alami. Saat berenang atau snorkeling, ikan-ikan kecil dan kura-kura air tawar akan dapat terlihat jelas. Lorong guanya pun menyimpan formasi stalaktit yang masih terawat, sementara kelelawar menggantung di bagian langit-langit.
3. Sian Ka’an Biosphere Reserve
Bagi yang ingin melihat sisi liar Tulum Meksiko, Cagar Biosfer Sian Ka’an menawarkan pengalaman yang berbeda. Kawasan seluas sekitar 1,3 juta hektare ini mencakup hutan tropis, hutan bakau, laguna, rawa, hingga wilayah laut yang menjadi bagian dari Terumbu Karang Penghalang Mesoamerika. UNESCO juga menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia.
Ada dua jalur yang paling sering dipilih wisatawan jika ingin menjelajahi kawasan ini. Yang pertama, ada jalur Muyil. Pengunjung dapat mengunjungi reruntuhan Maya Muyil, berjalan di atas boardwalk yang membelah hutan bakau, kemudian mengapung mengikuti arus kanal kuno melalui aktivitas canal float.
Jalur kedua, jalur Punta Allen, lebih cocok bagi pencinta wisata bahari. Dengan menggunakan perahu motor, pengunjung akan diberi kesempatan melihat lumba-lumba hidung botol, penyu laut, manatee, hingga buaya. Jika cuaca bersahabat, pengunjung juga bisa melakukan snorkeling di kawasan terumbu karang.

4. Playa Paraiso
Hamparan pasir putih, laut berwarna biru toska, dan deretan pohon palem membuat Playa Paraiso acap disebut sebagai salah satu pantai tercantik di Meksiko. Lokasinya pun tidak jauh dari Zona Arkeologi Tulum sehingga mudah dijangkau.
Pantai ini berada di kawasan konservasi Parque del Jaguar. Untuk mengakses pantai ini, pilihan yang lebih praktis adalah berjalan kaki atau menyewa sepeda dari luar gerbang. Perlu diperhatikan, kawasan ini melarang pengunjung membawa botol plastik sekali pakai, makanan dari luar, rokok, maupun minuman beralkohol sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian pantai.
5. Zona Hotelera
Setelah menjelajahi situs bersejarah, perjalanan bisa dilanjutkan ke Zona Hotelera. Kawasan sepanjang sekitar 10 kilometer ini dipenuhi hotel butik, beach club, restoran, hingga bar yang mengusung konsep eco-chic.
Suasananya jauh berbeda dari Cancun, yang sangat modern. Di Tulum Meksiko, bangunan tinggi hampir tidak terlihat. Sebagian besar hotel menggunakan material alami seperti kayu, bambu, dan atap rumbia sehingga menyatu dengan lanskap tropis kawasan ini.
Salah satunya yang paling populer adalah Hartwood. Di restoran ini, ada beragam menu hidangan berbahan lokal yang dimasak menggunakan tungku kayu bakar.
Ada pula Gitano Jungle Tulum, restoran sekaligus bar yang dikenal dengan koktail mezcal serta suasana makan malam dan pesta dansa di bawah pohon palem. Karena selalu ramai, reservasi sebaiknya dilakukan beberapa hari sebelumnya.
6. Instalasi Ven a la Luz
Tak hanya pantai dan reruntuhan Maya, Tulum Meksiko juga memiliki ikon seni kontemporer yang sangat populer, yaitu Ven a la Luz. Patung setinggi sekitar 10 meter karya Daniel Popper ini pertama kali dibuat untuk festival Art With Me pada 2018, lalu dipertahankan karena mendapat sambutan luar biasa.
Sosok perempuan raksasa dengan dada terbuka yang dipenuhi tanaman hijau menjadi simbol hubungan manusia dengan alam. Bentuknya yang unik membuat instalasi ini hampir selalu dipenuhi wisatawan yang ingin berfoto.
Kini Ven a la Luz berada di area khusus di samping Hotel Ahau Tulum, kilometer 7,5 Zona Hotelera. Lokasinya dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Baca juga: Celaya, Meksiko: Kota Bersejarah di Jantung Guanajuato
Bagi yang berencana menjelajahi Semenanjung Yucatán, Tulum layak masuk ke dalam daftar kunjungan. Kota ini bukan hanya terkenal karena pantainya, tetapi juga menyimpan warisan budaya Maya, kekayaan alam yang masih terjaga, serta beragam pilihan wisata yang dapat dinikmati dalam satu kawasan.
Dengan menyusun rencana perjalanan yang tepat, berbagai destinasi unggulan di Tulum Meksiko dapat dikunjungi tanpa harus berpindah kota.












