JNEWS ONLINE
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2
No Result
View All Result
JNEWS Online
No Result
View All Result
Home Traveling

Kampung Adat Todo: Jejak Sejarah dan Budaya Manggarai di Flores

by Penulis JNEWS
12 March 2026
Kampung Adat Todo: Jejak Sejarah dan Budaya Manggarai di Flores
Share on FacebookShare on Twitter

JNEWS – Di Nusa Tenggara Timur, selain Kampung Wae Rebo, ada kampung adat lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, yaitu Kampung Adat Todo. Kampung ini berada di wilayah Manggarai dan masih mempertahankan tata ruang serta tradisi lama yang terus dijaga oleh warganya.

Suasananya tenang, lokasinya dikelilingi perbukitan, dan jauh dari keramaian kota. Bagi yang ingin melihat kehidupan kampung adat Manggarai dari dekat, Todo menjadi salah satu tempat yang layak disinggahi.

Dari Kampung Adat Todo, Sejarah Kerajaan Manggarai Bermula

Berada di kaki Gunung Anak Ranaka, Kampung Adat Todo dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Manggarai pada masa lalu. Dari kampung inilah kekuasaan kerajaan pernah dijalankan sebelum kemudian pusat pemerintahan dipindahkan ke Kota Ruteng.

Manggarai sendiri tercatat sebagai kerajaan terbesar di Pulau Flores pada masanya. Karena peran sejarahnya cukup penting, Kampung Adat Todo sering menjadi tujuan penelitian. Sejarawan dari dalam negeri maupun luar negeri datang untuk mempelajari bagaimana kerajaan ini terbentuk, bagaimana sistem kekuasaannya berjalan, dan seberapa luas pengaruhnya di wilayah Flores.

Pada masa itu, Todo termasuk salah satu komunitas masyarakat terbesar di Flores. Selain Todo, ada pula Bima dan Gowa yang dikenal memiliki pengaruh kuat di kawasan ini. Kehadiran tiga komunitas besar tersebut memberi gambaran tentang dinamika sosial dan politik di Flores pada masa lalu.

Todo memiliki posisi yang cukup penting karena dari wilayah inilah proses penyatuan berbagai kelompok masyarakat Manggarai berkembang. Banyak catatan sejarah lokal menyebutkan bahwa tokoh-tokoh dari Todo berperan dalam membangun struktur kerajaan yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Manggarai.

Baca juga: Kampung Adat Wae Rebo: Desa di Atas Awan dengan Keindahan yang Memukau

Rumah Niang: Rumah Adat dengan Arsitektur Unik

Kampung Adat Todo: Jejak Sejarah dan Budaya Manggarai di Flores

Jejak kekuasaan tersebut masih bisa dilihat melalui Rumah Niang atau Mbaru Niang di Kampung Adat Todo. Bangunan adat ini dahulu menjadi kediaman raja.

Bentuknya menyerupai rumah panggung dengan denah bundar dan atap jerami tinggi berbentuk kerucut. Dari luar, bangunan ini tampak simpel saja, tetapi struktur di dalamnya menunjukkan teknik konstruksi tradisional yang cukup rumit.

Kerangka rumah dibuat dari kayu dan bambu yang disusun rapat. Jika bagian atap dibuka, rangka tersebut akan membentuk pola menyerupai jaring laba-laba.

Secara arsitektur, Rumah Niang Todo memiliki kemiripan dengan rumah adat Manggarai pada umumnya. Atapnya menggunakan ijuk atau jerami yang disusun berlapis hingga membentuk kerucut tinggi. Rangka utamanya bertumpu pada kayu worok dan bambu yang kuat menahan beban bangunan.

Rumah ini memiliki lima tingkat ruang di dalamnya, masing-masing digunakan untuk fungsi yang berbeda. Susunan ruang tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Manggarai mengatur kehidupan keluarga, penyimpanan hasil panen, hingga tempat menyimpan benda-benda adat.

Rumah Niang di Todo juga dikenal sebagai rumah adat tertua di Kabupaten Manggarai. Nilai sejarah dan teknik bangunannya membuat rumah ini mendapat perhatian luas.

Pada tahun 2013, rumah adat khas Todo sempat masuk sebagai kandidat penerima Aga Khan Award for Architecture, sebuah penghargaan internasional yang juga berkaitan dengan penilaian dari UNESCO. Pengakuan ini membuat Rumah Niang semakin dikenal sebagai contoh arsitektur tradisional yang masih bertahan hingga sekarang.

Di dalam Rumah Niang tersimpan sebuah benda adat yang sangat sakral, yaitu gendang yang dilapisi kulit manusia. Gendang ini tidak digunakan sembarangan dan hanya muncul dalam upacara adat tertentu.

Bagi masyarakat Todo, benda tersebut bukan sekadar alat musik tradisional. Gendang itu dianggap sebagai simbol yang menyimpan kisah asal usul Kerajaan Manggarai di Desa Todo. Cerita tentang raja-raja terdahulu, perjalanan terbentuknya kerajaan, hingga hubungan antarwilayah di Flores diwariskan melalui tradisi lisan yang berkaitan dengan gendang tersebut.

Panduan Berkunjung ke Kampung Adat Todo

Kampung Adat Todo: Jejak Sejarah dan Budaya Manggarai di Flores

Kampung Adat Todo berada di Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai. Lokasinya sekitar 45 kilometer dari Kota Ruteng.

Meski jaraknya tidak terlalu jauh, perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam dengan kendaraan darat. Jalan yang dilalui naik turun mengikuti kontur perbukitan Manggarai. Beberapa bagian jalannya sempit, tetapi pemandangan sepanjang perjalanan cukup menarik. Bukit hijau, kebun warga, serta rumah-rumah kecil di lereng sering terlihat dari sisi jalan.

Jika berangkat dari Labuan Bajo, perjalanan akan tetap ditempuh menuju Ruteng terlebih dahulu. Waktu tempuh dari Labuan Bajo ke Ruteng sekitar tiga jam melalui jalur Trans Flores. Setelah tiba di Ruteng, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan menuju Todo.

Rute ini melewati beberapa kampung dan kawasan perbukitan. Meski cukup menantang, jalur tersebut sudah cukup dikenal oleh pengemudi lokal. Banyak wisatawan memilih menyewa mobil agar perjalanan lebih nyaman, terutama jika datang dalam rombongan.

Ada aturan khusus bagi pengunjung yang datang ke Kampung Adat Todo. Setiap tamu diwajibkan mengenakan atribut adat setempat sebelum memasuki area kampung. Biasanya pengunjung akan dipakaikan sarung dan selendang oleh warga yang bertugas menerima tamu.

Selain itu, ada aksesori kepala yang juga harus dipakai. Pengunjung perempuan mengenakan retu, sementara pengunjung laki-laki memakai jongkong. Atribut ini bukan sekadar pelengkap pakaian. Bagi masyarakat Todo, pakaian adat tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada tradisi dan kepada para leluhur yang dipercaya menjaga kampung.

Setelah memasuki kawasan rumah adat, pengunjung biasanya diajak masuk ke Niang Todo. Di dalam rumah adat ini dilakukan sebuah ritus sederhana bernama Wae Lu’u Mata Do.

Dalam prosesi tersebut, tamu memberikan donasi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Dana yang terkumpul digunakan untuk menjaga rumah adat dan kegiatan adat di kampung. Prosesi ini dilakukan dengan suasana tenang dan dipandu oleh warga setempat yang memahami tata cara adat.

Untuk berkunjung ke Kampung Adat Todo, setiap tamu dikenakan tiket masuk. Wisatawan nusantara membayar Rp80.000 per orang, sedangkan turis asing dikenakan Rp100.000. Pelajar mendapatkan tarif khusus sebesar Rp73.000. Harga tersebut sudah termasuk penyewaan sarung, selendang, serta aksesori kepala seperti retu atau jongkong.

Tiket itu juga mencakup jasa pemandu lokal yang akan menjelaskan sejarah kampung, fungsi rumah adat, dan aturan yang perlu dipatuhi selama berada di kawasan adat.

Waktu kunjungan juga perlu diperhatikan. Jalan menuju Todo cukup licin ketika hujan, terutama di beberapa tikungan perbukitan. Karena itu, datang saat cuaca cerah biasanya membuat perjalanan lebih aman dan nyaman.

Baca juga: Mengenal Kampung Adat Praijing: Keindahan dan Keunikan Budaya Sumba

Sebaiknya pengunjung juga membawa uang tunai secukupnya karena belum tersedia banyak fasilitas pembayaran non-tunai di sekitar kampung. Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga sikap selama berada di kawasan adat. Berbicara dengan sopan, mengikuti arahan warga, dan tidak sembarangan mengambil foto di dalam rumah adat adalah bagian dari etika berkunjung yang dihargai oleh masyarakat setempat.

Bagaimana? Tertarik untuk mengunjungi Kampung Adat Todo dan menyelami kisahnya?

Post Views: 162
Tags: arsitektur tradisionalDesa Todokampung adatKerajaan ManggaraiManggarai Floresnusa tenggara timurpanduan berkunjungpulau floresrumah adat
Share200Tweet125
Next Post
sneakon, sneaker lokal

Tak Sekadar Sepatu: Kisah Sneakon Menembus Pasar Global dari Workshop Lokal

TERKINI

Itinerary Mesir 5 Hari: Jelajahi Kairo, Giza, dan Luxor

Itinerary Mesir 5 Hari: Jelajahi Kairo, Giza, dan Luxor

17 September 2026
stnk harus diblokir saat kendaraan sudah dijual

Ini Alasan Kenapa Blokir STNK Penting Saat Kendaraan Sudah Dijual

17 September 2026
umrah karyawan jne

Presdir JNE Lepas Keberangkatan Perdana Rombongan Umrah 2026

17 September 2026
pelatihan barista di aceh tamiang

Kementerian Ekraf Berikan Pelatihan Barista di Aceh Tamiang

17 September 2026
surabaya marketing festival

JNE Surabaya Sabet Penghargaan di Ajang Surabaya Marketing Festival

16 September 2026
Lake Louise Kanada: Pesona Danau Turquoise di Tengah Pegunungan Rocky

Lake Louise Kanada: Pesona Danau Turquoise di Tengah Pegunungan Rocky

16 September 2026

POPULER

Cara Kerja Sama dengan Influencer untuk UMKM agar Promosi Lebih Efektif

Cara Kerja Sama dengan Influencer untuk UMKM agar Promosi Lebih Efektif

by Penulis JNEWS
1 September 2026

penataan kali code yogyakarta

Babak Baru Kali Code: Destinasi Wisata Alam di Depan Mata

by Redaksi JNEWS
11 September 2026

Kampung Naga Tasikmalaya dan Kehidupan yang Sarat Tradisi Sunda

Kampung Naga Tasikmalaya dan Kehidupan yang Sarat Tradisi Sunda

by Penulis JNEWS
31 August 2026

Tiankeng Tiongkok: Lubang Raksasa yang Menyimpan Hutan dan Kehidupan di Dalamnya

Tiankeng Tiongkok: Lubang Raksasa yang Menyimpan Hutan dan Kehidupan di Dalamnya

by Penulis JNEWS
31 August 2026

Pantai Virgin Bali: Pantai Eksotis dengan Panorama Laut dan Perbukitan

Pantai Virgin Bali: Pantai Eksotis dengan Panorama Laut dan Perbukitan

by Penulis JNEWS
26 August 2026

JNEWS Online

©2020 - Your Trusted Logistic Portal

Navigate Site

  • About
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • JONI
    • Aksi JONI
    • Hobi JONI
    • Inspirasi JONI
    • Lokasi JNE
    • Program JNEWS Online
      • Fun Writing
      • Kuis JNEWS Online
      • Kuis Kalender JNE
    • JLC Race 2025
    • Video
    • E-Rekrutmen
  • Logistik & Kurir
  • Infografik
  • e-Commerce
  • UKM
    • Komunitas
    • Golaborasi 2023
  • Lifestyle
    • Tekno
    • Traveling
  • Liputan Khusus
    • JNE Content Competition
      • Content Competition 2025
      • Content Competition 2023
      • Content Competition 2024
      • Pemenang Content Competition 2023
    • HUT JNE
      • HUT 32 Tahun JNE
      • 33 Tahun
      • 34 Tahun JNE
    • JNE x Slank
    • Cosmo JNE FC
    • Gelitik
    • Pekan Kartini
    • Top Side Banner
    • Side Banner 1
    • Side Banner 2

©2020 - Your Trusted Logistic Portal