JNEWS – Sebenarnya tidak ada yang terlalu salah dengan gaya hidup FOMO. Mencoba menu-menu street food viral, ikut inden gadget terbaru, beli kopi-kopi kekinian, dan lain sebagainya. Kadang dengan cara itu, kita jadi lebih gampang networking, bersosialisasi. Siapa tahu ada proyek baru, bisa kolab bareng, atau ada yang lainnya juga.
Tapi kalau berlebihan, semua hal juga jadi muncul efek negatifnya. Begitu juga dengan FOMO. Kalau berlebihan, keuangan dan waktu kita akan terbuang percuma.
Gaya Hidup FOMO yang Bisa Menyabotase Keuangan dan Waktu

Iya, sekali waktu tentu tidak apa-apa. Cuma masalahnya, kalau berlebihan, FOMO bisa menguras waktu dan uang bahkan sebelum kita sadar kalau ada yang sudah tak bisa dikendalikan.
Pengeluarannya mungkin terlihat kecil, aktivitasnya pun rasanya wajar saja. Namun, ketika terus berulang karena takut ketinggalan tren, momen, atau kesempatan, dampaknya bisa cukup terasa pada keuangan dan rutinitas sehari-hari.
Coba cek beberapa tanda gaya hidup FOMO berikut. Bisa jadi ada yang selama ini kita lakukan, lalu jadi rutinitas dan akhirnya diam-diam banyak menyita waktu dan uang. Tapi hasilnya tidak sepadan.
1. Sering Membeli Barang karena Sedang Viral
Barang yang ramai di media sosial memang tampak jadi lebih menarik ya kan? Lucu!
Padahal, sebenarnya belum tentu barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau bakalan digunakan dalam jangka panjang. Dorongan punya gaya hidup FOMO seperti ini bisa membuat pengeluaran kecil terus menumpuk tanpa disadari.
Baca juga: FOMO: Pengertian, Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya
2. Sulit Melewatkan Promo dan Flash Sale
Diskon terbatas, tanggal kembar, atau tulisan “stok tinggal sedikit” bisa memunculkan rasa takut kehilangan kesempatan. Akibatnya, keputusan membeli dibuat dengan cepat tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi keuangan.
Harga memang lebih murah, tetapi tetap saja menjadi pengeluaran jika barangnya sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
3. Selalu Ingin Mencoba Tempat yang Sedang Ramai
Kafe baru, restoran viral, pameran, atau tempat wisata yang sedang banyak dibicarakan memang bisa banget memicu keinginan untuk ingin datang dan lihat sendiri. Ya, sesekali tidak masalah. Tapi, kalau hampir setiap tren harus banget diikuti, pos biaya makan, transportasi, tiket, dan pengeluaran lainnya bisa membengkak.
4. Sulit Menolak Ajakan Nongkrong
Nongkrong juga sebenarnya oke. Berkumpul bersama teman, bertukar kabar (dan gosip), update berita, atau sekadar saling bercanda pastinya sih wajar. Namanya juga manusia yang adalah makhluk sosial.
Cuma kadang, nongkrong itu butuh anggaran lebih. Sekali dua kali sebulan masih oke. Kalau tiap minggu atau beberapa hari sekali selalu nongkrong hanya karena rasa takut melewatkan cerita atau momen bersama teman, ya bisa boncos juga.
5. Terlalu Sering Mengecek Media Sosial
Gaya hidup FOMO tidak selalu terlihat dari pengeluaran lho. Kebiasaan membuka media sosial setiap beberapa menit karena takut melewatkan kabar terbaru juga bisa menyita banyak waktu. Durasi beberapa menit yang berulang sepanjang hari dapat mengganggu fokus, pekerjaan, bahkan waktu istirahat.

6. Sering Membandingkan Gaya Hidup dengan Orang Lain
Melihat teman membeli gadget baru, liburan, menonton konser, atau makan di tempat populer dapat memunculkan dorongan untuk melakukan hal yang sama. Masalahnya, kondisi finansial setiap orang berbeda. Jika terus mengikuti standar hidup orang lain, pengeluaran bisa meningkat tanpa benar-benar memberikan kepuasan.
7. Langsung Checkout setelah Melihat Konten
Review produk, rekomendasi influencer, live shopping, dan konten unboxing bisa membuat barang yang sebelumnya tidak terpikirkan tiba-tiba rasanya perlu banget dibeli. Jika pola ini sering terjadi, belanja impulsif bisa menjadi bagian dari rutinitas tanpa disadari.
8. Sering Membeli Tiket secara Spontan
Konser, festival, workshop, atau trip yang sedang ramai dibicarakan bisa memicu keinginan untuk buru-buru beli tiket. Apalagi kalau teman-teman sudah punya tiket atau media sosial penuh dengan orang yang membahas acara tersebut. Takut kehabisan atau jadi satu-satunya yang enggak ikut akhirnya membuat keputusan diambil tanpa banyak pertimbangan. Padahal, setelah tiket terbeli, masih ada biaya transportasi, penginapan, makan, dan kebutuhan lain yang ikut menguras anggaran.
9. Punya Banyak Barang yang Hanya Dipakai Sebentar
Salah satu tanda gaya hidup FOMO juga bisa terlihat dari barang yang menumpuk setelah tren berlalu. Peralatan olahraga, pakaian, aksesori, perlengkapan hobi, atau gadget yang dibeli dengan antusias, hanya digunakan beberapa kali sebelum perhatian beralih ke tren berikutnya. Terus, numpuk di lemari atau di gudang.
10. Mengambil Terlalu Banyak Aktivitas Sekaligus
Takut kehilangan peluang juga bisa membuat jadwal terlalu penuh. Semua kelas ingin diikuti, setiap acara terasa menarik, dan berbagai proyek diterima sekaligus. Selain berpotensi membutuhkan biaya tambahan, kondisi ini dapat mengurangi waktu istirahat dan membuat fokus terpecah.
11. Pengeluaran untuk Keinginan Terus Membengkak
Tanda gaya hidup FOMO yang paling mudah terlihat ada pada kondisi keuangan. Uang semakin banyak digunakan untuk nongkrong, belanja, hiburan, atau mengikuti tren, sementara tabungan dan kebutuhan jangka panjang terus ditunda.
Ketika pola ini terjadi berulang, FOMO bukan lagi sekadar kebiasaan mengikuti tren, tetapi sudah memengaruhi prioritas keuangan.
Baca juga: Cara Mengurangi Jajan Berlebihan agar Keuangan Lebih Sehat
Mengikuti tren, mencoba hal baru, atau ikut seru-seruan bersama teman tentu sah-sah saja. Gaya hidup FOMO baru perlu diwaspadai ketika rasa takut ketinggalan membuat waktu dan uang terus keluar untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu kita inginkan.
Sesekali melewatkan sesuatu juga tidak apa-apa. Toh, tidak semua yang sedang ramai harus masuk ke jadwal, keranjang belanja, atau tagihan bulan ini. Setuju?











