JNEWS – Candi Brahu, yang berada di kawasan Trowulan, Mojokerto, dikenal sebagai salah satu kawasan dengan banyak peninggalan sejarah Jawa Kuno. Bangunannya terbuat dari bata merah yang cukup khas. Lokasinya pun mudah dijangkau karena berada tidak jauh dari Jalan Raya Mojokerto – Jombang.
Keberadaan Candi Brahu menjadi salah satu bagian dari cerita panjang sejarah Trowulan. Usianya yang sudah ratusan tahun membuat candi ini menarik untuk dilihat lebih dekat, terutama jika ingin mengenal peninggalan masa Majapahit yang masih dapat ditemui sampai sekarang.
Fakta Menarik tentang Candi Brahu

Bangunan Candi Brahu memiliki denah persegi panjang dengan ukuran sekitar 18 × 22,5 meter, sementara bagian candi yang masih tersisa memiliki tinggi sekitar 20 meter. Ada tiga bagian utama, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Material utamanya berupa batu bata merah, material yang memang banyak digunakan pada bangunan-bangunan kuno di kawasan Trowulan.
Bagian kakinya tampak polos tanpa hiasan, sedangkan dinding tubuhnya memiliki sejumlah penampil. Di dalam tubuh candi terdapat bilik dengan bagian atas berbentuk seperti piramida.
Pada sisi barat terdapat tangga yang menjadi akses menuju selasar candi. Tapi, dari selasar ini tidak ada lagi tangga yang menghubungkannya dengan bilik di dalam candi. Sementara itu, pada bagian timur laut atap candi terdapat menara sudut berdenah lingkaran yang bentuknya menyerupai stupa.
Di bagian tengah candi terdapat lubang, yang diyakini menjadi lokasi ritual pembakaran jenazah raja-raja pada masa Mataram Kuno. Namun, ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa jenazah raja sebenarnya dibakar di tempat lain. Setelah itu, abu jenazah dibawa ke Candi Brahu untuk menjalani proses penyucian sebelum akhirnya dilarung. Karena perbedaan cerita ini, maka fungsi asli candi ini masih belum bisa dipastikan.
Candi Brahu juga diyakini sebagai salah satu candi Buddha tertua di kawasan Trowulan. Ada pendapat yang memperkirakan candi ini telah berdiri sejak abad ke-15, lebih tua dibandingkan sejumlah candi lain di sekitarnya.
Dugaan mengenai keterkaitannya dengan ajaran Buddha semakin diperkuat oleh berbagai temuan benda kuno di sekitar kompleks candi, seperti perlengkapan upacara berbahan logam, perhiasan, serta benda-benda dari emas yang memiliki ciri-ciri keagamaan Buddha.
Meski telah berusia ratusan tahun, Candi Brahu masih berdiri dengan struktur bangunan yang masih utuh dan lengkap. Tak heran, candi ini dianggap sebagai salah satu peninggalan sejarah yang istimewa, mengingat sejumlah peninggalan Majapahit lain di Trowulan kini hanya menyisakan bagian-bagian bangunan atau reruntuhan.
Seperti berdasarkan laporan Belanda dalam Rapporten Oudheidkundigen Commissie (ROC) tahun 1907 dan Rapporten Oudheidkundigen Dienst (ROD) tahun 1915, di kawasan ini dahulu ada beberapa candi lain, yaitu Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Namun, sebagian besar bangunan tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi. Saat ini, yang masih bisa dijumpai hanya tinggal Candi Brahu dan Candi Gentong.
Di sini juga ditemukan Prasasti Alasantan, salah satu peninggalan penting dari masa Jawa Kuno. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Mpu Sindok dari Kerajaan Medang dan mencantumkan angka tahun 861 Saka atau 939 Masehi. Temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk untuk memperkirakan usia Candi Brahu.
Baca juga: Candi Tikus: Mengenal Situs Bersejarah di Trowulan yang Unik
Panduan Wisata ke Candi Brahu

Jika ingin mengunjungi Candi Brahu, lokasi tepatnya berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini juga berada tidak jauh dari Jalan Raya Mojokerto – Jombang sehingga relatif mudah dijangkau.
Untuk menuju Candi Brahu, perjalanan dapat dimulai dari Jalan Raya Mojokerto – Jombang, tepatnya melalui jalan yang berada di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jawa Timur. Ikuti jalan tersebut ke arah utara sejauh kurang lebih 1,8 kilometer hingga Candi Brahu terlihat di sisi kanan jalan.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari karena suasananya cenderung lebih tenang. Sebenarnya, kawasan ini terkenal akan pemandangan matahari terbitnya yang indah. Ada banyak orang yang suka datang subuh ke kawasan ini demi bisa menyaksikan sunrise. Namun, karena jam kunjungan resmi baru dimulai pukul 08.00, jika gerbang masih tertutup, kita bisa menikmati pemandangan sunrise dari luar pagar.
Candi Brahu buka setiap hari hingga pukul 16.00. Harga tiket masuknya cukup terjangkau, yaitu Rp3.000 per orang. Tarif tersebut berlaku sama untuk pengunjung dewasa dan anak-anak, serta tidak dibedakan antara wisatawan domestik dan mancanegara. Namun, harga ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengelola. Selain itu, pengunjung yang membawa kendaraan juga perlu membayar biaya parkir sebesar Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Meski harga tiket masuknya relatif murah, sebaiknya tetap menyiapkan uang tambahan untuk membeli makanan atau minuman selama berada di kawasan wisata. Candi Brahu juga dilengkapi sejumlah fasilitas untuk menunjang kenyamanan pengunjung, seperti area parkir yang luas, pusat informasi, toilet, gazebo, dan restoran.
Baca juga: Candi Bajang Ratu: Gapura Megah Peninggalan Kerajaan Majapahit
Candi Brahu mungkin tidak semegah gambaran tentang kejayaan Majapahit yang sering muncul di buku sejarah. Namun, bangunan bata merah ini menjadi salah satu peninggalan yang masih bertahan di Trowulan.
Melihat Candi Brahu berarti melihat satu bagian kecil dari sejarah besar yang pernah berlangsung di kawasan ini.











