JNEWS – Sampai saat ini Indonesia masih menjadi produsen terbesar kedua di dunia untuk komoditas Vanili setelah Madagaskar. Tanaman bernama latin vanilla planifolia ini banyak digunakan dalam industri kosmetik dan parfum. Umumnya Vanili dijadikan bahan baku wewangian, sebagai komponen aroma dasar dalam pembuatan parfum, sabun, lotion, serta produk perawatan kulit.
Berdasar data dari Kementerian Pertanian, produksi vanili Indonesia sampai saat ini masih sepenuhnya berasal dari perkebunan rakyat. Produksi vanili di Indonesia sebagian besar berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kontribusi produksi 39,05% dan Jawa Timur dengan kontribusi produksi 18,71%, sedangkan provinsi lainnya hanya berkontribusi masing-masing kurang dari 10%. Banyak pelaku UMKM yang memproduksi vanili dan kini mulai tren di kalangan petani muda.
Produksi vanili di Indonesia tahun 2023 diperkirakan sebesar 1,53 ribu ton. Produksi tersebut diestimasi terus meningkat hingga mencapai 1,79 ribu ton pada tahun 2027. Rata-rata peningkatan produksi vanili diperkirakan sebesar 3,73% per tahun.
Vanili yang dijuluki sebagai ‘emas hijau’ ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Sampai saat ini permintaan masih cukup tinggi dari pasar glogal. Varietas unggul nasional yang banyak dibudidayakan di antaranya Vania 1, Vania 2, Alor, Hivania Agribun, dan Sovania Agribun.
Sedangkan harga pasaran untuk Vanili dibedakan menjadi 2 jenis yakni vanili kering dan vanili basah. Untuk vanili kering dengan kualitas terbaik atau paling bagus memiliki harga pasaran berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 1,7 juta per kg di tingkat lokal/petani, dan bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 4,5 juta per kg di pasar ekspor. Namun untuk vanili basah harganya berkisar Rp 85.000 hingga Rp100.000 per kg di tingkat petani. Untuk ekspor sendiri yang banyak diminati adalah vanili kering.
Adapun tujuan utama ekspor vanili Indonesia di pasar global adalah ke Amerika Serikat yang merupakan pangsa pasar terbesar, kemudian Belanda, Jerman, Kanada dan Singapura.
Vanili yang juga dijuluki sebagai ‘si emas hitam’ karena nilai ekonominya yang tinggi selama ini terus didorong oleh pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat lewat Kementerian Pertanian melalui penyediaan bibit unggul serta perbaikan teknik budidaya agar hasilnya lebih maksimal. *
Baca juga: Pulau Lumba-Lumba NTT: Destinasi Wisata Bahari yang Belum Banyak Dikenal











