JNEWS – Tren hidup sehat di kalangan anak muda Nusa Tenggara Barat menunjukkan peningkatan. Selain munculnya fenomena rajin olahraga, muncul fenomena lain seperti meningkatnya penjual kukusan di jalanan. Tidak hanya sekedar jagung, kentang, dan kedelai yang biasa dijual, melainkan protein hewani seperti telur dan aneka sayuran.
Di Kota Mataram, masyarakat bisa dengan mudah menemukan pedagang kukusan di tepi-tepi jalan. Biasanya, mereka menggunakan sepeda dan berkumpul di titik-titik rawan seperti Jalan Lingkar Selatan, di Cilinaya, Cakranegara, dan di Jalan Yos Sudarso menuju Jalan Langko, Kota Mataram.
Pedagang kukusan di Kota Mataram biasa berjualan pada pagi hari, saat waktu sarapan. Beberapa dari mereka juga memilih berdagang di sore menjelang malam hari. Namun, yang berjualan pada sore hari biasanya menjual kukusan hanya untuk cemilan, seperti jagung, kacang tanah, dan kedelai.
Salah satu pedagang kukusan di Kota Mataram, Wadi biasa berjualan saat sore hari. Spot jualan favoritnya di depan Niaga, Cakranegara karena di tempat itu ramai orang berlalu-lalang. Ia biasa berjualan mulai pukul 17.00 Wita sampai dengan abis dagangannya. Biasanya, ia mendapat Rp300-500 ribu per harinya.
Dengan adanya fenomena hidup sehat yang marak digalakkan di sosial media, penjualan kukusannya meningkat drastis. Hingga di atas Rp500 ribu per harinya.
Wadi mengaku, dirinya menjual kukusan sejak tiga tahun lalu. Dengan gerobaknya, ia biasa membawa kiloan jagung, kacang, dan kedelai. Pun pelanggannya dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, dewasa, hingga tua.
āTapi lebih banyak yang beli usianya 20-30 tahun ke atas,ā katanya.
Begitupun dengan Annisa Jasmine, ia mengaku telah berjualan kukusan selama kurang lebih satu tahun. Awal mula dirinya memilih berjualan real food karena terinspirasi dari media sosial, TikTok.
Ia berjualan pada pagi hari di depan Kantor Jasa Raharja, Majapahit. Bersama sang adik, ia membuka dagangannya berupa dua set kukusan bertingkat berisi ubi ungu, ubi madu, talas, pisang, sayuran segar serta lauk seperti ayam dan tempe.
Lokasi berjualan yang berada di kawasan perkantoran membantu mendongkrak penjualannya, dengan mayoritas pembeli adalah pekerja. Meski identik dengan tren makanan sehat, ia mengaku rutin membaca kebutuhan pasar.

āKalau orang makan ubi, pasti butuh sayur dan protein juga,ā katanya.
Baca juga:Ā Menikmati Keindahan Lombok Lewat Daftar Tempat Wisata di Mataram
Dari situ, menu yang dijual pun berkembang. Ia menambahkan sayuran, lauk, buah potong, hingga minuman rempah racikan sendiri guna meningkatkan minat pembeli. Semua produk dibuat mandiri, berdasarkan riset sederhana dan masukan konsumen.
Banyaknya penjual kukusan di Kota Mataram membuat anak muda di NTB banyak yang beralih ke makanan sehat tersebut. Apalagi, di daerah itu banyak anak rantau, baik yang kuliah maupun kerja. Salah satunya Andina, mahasiswa semester akhir di Universitas Mataram itu memilih membeli kukusan sebagai menuĀ pagi hari.
Makanan yang simpel dan sehat itu ia pilih untuk mengganjal perut demi terhindar dari Asam Lambung yang kerap dirasakannya. Meski tidak sedang diet, ia mengaku kukusan jauh lebih murah, mudah didapatkan, dan lebih cocok dijadikan menu sarapan dibandingkan nasi yang dinilai cukup berat.
āBiasa beli di depan Universitas Mataram, kadang sekalian ngampus,ā katanya.
Begitupun dengan Rifal, mahasiswa semester tiga. Ia mengaku kerap berolahraga di sekitar Jalan Udayana, di sela-sela waktunya, ia membeli kukusan berupa kacang tanah sebagai cemilan pengganjal perutnya.











