JNEWS – Keraton Sambas Alwatzikhoebillah merupakan istana resmi Kesultanan Sambas yang berlokasi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dahulu, bangunan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi para sultan yang memimpin Kesultanan Sambas.
Meski sistem kesultanan telah berakhir, keraton ini tetap berdiri kokoh sebagai simbol kejayaan Kerajaan Melayu Islam di Kalimantan Barat sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya yang penting di wilayah tersebut.
Sejarah Keraton Sambas Alwatzikhoebillah

Sejarah Keraton Sambas Alwatzikhoebillah tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang berdirinya Kesultanan Sambas. Jauh sebelum menjadi kesultanan bercorak Islam, wilayah Sambas merupakan sebuah kerajaan Hindu yang diperintah oleh Ratu Sepudak.
Perubahan besar terjadi ketika Raden Sulaiman, putra Sultan Tengah dari Kesultanan Brunei, menikahi Mas Ayu Bungsu, putri Ratu Sepudak. Pernikahan tersebut menjadi titik awal berdirinya Kesultanan Sambas sebagai kerajaan Islam. Pada tahun 1631, Raden Sulaiman dinobatkan sebagai sultan pertama dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin I. Saat itu, pusat pemerintahan berada di kawasan Lubuk Madung.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Tajuddin I atau Raden Bima, sultan kedua yang memerintah pada 1668–1708, pusat pemerintahan dipindahkan ke Muara Ulakan. Lokasi ini dipilih karena memiliki posisi yang sangat strategis, berada di pertemuan tiga aliran sungai, yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Teberau, dan Sungai Subah. Kawasan inilah yang kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus cikal bakal kompleks Keraton Sambas.
Sementara itu, bangunan Keraton Sambas Alwatzikhoebillah yang berdiri hingga sekarang bukanlah bangunan asli dari abad ke-17. Istana megah tersebut merupakan hasil pembangunan ulang pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Shafiuddin, Sultan Sambas ke-15.
Pembangunannya dimulai pada tahun 1933 dan rampung pada 1935, menghadirkan bangunan bergaya perpaduan arsitektur Melayu, Eropa, dan Timur Tengah yang kini menjadi salah satu ikon bersejarah di Kalimantan Barat.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Keraton Kadriah, Jejak Sejarah Kesultanan Pontianak
Kompleks dan Struktur Keraton Sambas Alwatzikhoebillah
Bangunan Keraton Sambas Alwatzikhoebillah didominasi oleh material kayu ulin atau kayu besi, kayu khas Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan lama. Seluruh bangunan dicat dengan warna kuning, warna yang dalam tradisi Melayu melambangkan kebesaran, kemuliaan, dan kewibawaan seorang sultan.
Kompleks keraton terdiri atas tiga bangunan utama yang saling terhubung dan masing-masing memiliki fungsi berbeda. Bangunan di sisi kiri dahulu digunakan sebagai ruang kerja para juru tulis kesultanan yang mengurus administrasi kerajaan. Bangunan utama di bagian tengah berfungsi sebagai balairung, yakni ruang pertemuan resmi sultan, tempat singgasana berada, sekaligus lokasi musyawarah bersama para menteri kesultanan. Sementara itu, bangunan di sisi kanan menjadi area privat yang digunakan sebagai ruang istirahat sultan serta ruang makan keluarga kerajaan.
Tepat di depan kompleks keraton berdiri Masjid Jami’ Sultan Shafiuddin, yang dibangun berhadapan dengan istana. Keberadaan masjid ini mencerminkan eratnya hubungan antara pemerintahan Kesultanan Sambas dengan nilai-nilai Islam, di mana urusan pemerintahan dan kehidupan keagamaan berjalan berdampingan. Hingga kini, pelestarian keraton beserta adat istiadat Kesultanan Sambas masih dijaga oleh para keturunan dan ahli waris keluarga kesultanan.
Tiang Bendera yang Sarat Makna Filosofis
Di bagian belakang alun-alun keraton berdiri sebuah tiang bendera yang bentuknya menyerupai tiang kapal. Tiang ini dikelilingi tiga meriam dan disangga oleh beberapa tiang penyangga, yang masing-masing memiliki makna simbolis bagi Kesultanan Sambas.
Tiga meriam yang mengelilinginya melambangkan tiga sungai utama di sekitar keraton yang menjadi urat nadi kehidupan sekaligus harus selalu dijaga. Meriam-meriam tersebut merupakan hadiah dari tentara Inggris pada tahun 1813, dengan salah satunya dikenal bernama Si Gantar Alam. Kawasan ini juga memiliki nilai historis karena menjadi lokasi gugurnya pahlawan Sambas, Tabrani Ahmad, saat mempertahankan Merah Putih dari serangan tentara Belanda.
Empat tiang penyangga utama melambangkan empat wazir atau menteri yang membantu sultan menjalankan pemerintahan. Sementara itu, dua tiang penyangga di sisi kiri dan kanan menjadi simbol bahwa dalam memimpin kesultanan, sultan selalu didampingi oleh ulama dan khatib sebagai penuntun dalam urusan keagamaan dan moral.
Filosofi tersebut menggambarkan bahwa pemerintahan Kesultanan Sambas dibangun atas keseimbangan antara kekuasaan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai Islam.
Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Keraton Sambas Alwatzikhoebillah
Keraton Sambas Alwatzikhoebillah berlokasi di Jl. Istana, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Letaknya sangat strategis di tepi Muara Ulakan, kawasan pertemuan tiga sungai yang sejak dahulu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Sambas.
Dari pusat Kota Sambas, jarak menuju keraton relatif dekat sehingga mudah dijangkau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akses jalan menuju kawasan wisata juga sudah cukup baik, sehingga pengunjung dapat mencapainya dengan nyaman.
Berikut informasi bagi wisatawan yang ingin berkunjung:
- Jam operasional: Setiap hari, sekitar pukul 08.00–17.00 WIB.
- Harga tiket masuk: Gratis, sehingga pengunjung dapat menikmati wisata sejarah dan budaya tanpa dikenakan biaya masuk.
Karena Keraton Sambas Alwatzikhoebillah merupakan bekas istana Kesultanan Melayu Islam yang hingga kini masih dijaga adat dan tradisinya, setiap pengunjung diharapkan mengenakan pakaian yang sopan, rapi, dan tertutup sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang berlaku.
Baca juga: Fakta Menarik Taman Nasional Danau Sentarum, Permata Kalimantan Barat
Keraton Sambas Alwatzikhoebillah bukan sekadar bangunan peninggalan sejarah, tetapi juga saksi perjalanan panjang Kesultanan Sambas yang masih menjaga warisan budaya Melayu hingga kini. Arsitektur khas, nilai-nilai filosofis, serta lokasinya yang berdiri anggun di tepian sungai menjadikan keraton ini menarik untuk dikunjungi.












